728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    Ada Apa dengan Panjenengan, Pak Din Syamsudin

    Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau sering kita kenal dengan sapaan Din Syamsudin baru-baru ini memberi pernyataan bahwa istilah persekusi yang digunakan dalam kasus seorang anak di bawah 15 tahun di Jakarta beberapa waktu yang lalu adalah terlalu berlebihan. Aksi penghakiman tersebut, jelas Din Syamsudin, lebih tepat disebut intimidasi saja, jadi istilah persekusi sangat tidak cocok dengan kondisi tersebut.

    Hal itu dikatakannya dalam acara buka bersama oleh Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Kalibata, Jakarta Selatan (Sumber : Din Syamsuddin Nilai Persekusi sebagai Istilah yang Berlebihan). Dalam acara yang digelar pada hari Senin (5/6/2017) itu, Din mengatakan bahwa kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu terlalu berlebihan untuk disebut persekusi, karena baru sampai tahap intimidasi saja.

    Ia dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan penggunaan istilah persekusi. Oleh karena itu, ia meminta agar istilah persekusi dalam kasus beberapa waktu yang lalu dapat diganti.

    Jadi, apa arti “Persekusi” menurut pak Din? Ia menilai persekusi dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang mengancam terhadap pihak lain tetapi dalam skala yang besar, termasuk pengusiran.

    “Saya tidak setuju dengan (istilah) persekusi itu, karena itu adalah istilah yang berlebihan. Karena dalam sejarah ada masa lampau persekusi itu ada pengusiran besar-besaran terhadap Katolik,” kata Din Syamsudin, dilansir dari kompas.com.

    Setelah membaca dengan cermat berita tersebut, saya yang juga pengagum pak profesor satu ini mulai bertanya-tanya dalam hati, ana apa dengan panjenengan, pak Din Syamsudin? Setelah sebelumnya beberapa komentarnya yang saya rasa terlalu subyektif, seperti menuding KPK melakukan pembunuhan karakter terhadap Amien Rais (sumber : Din Syamsuddin Tuding KPK Lakukan Pembunuhan Karakter Amien Rais), berlanjut lagi dengan komentarnya bahwa jaksa hukum telah mempermainkan hukum dalam kasus Ahok beberapa waktu silam (sumber : Ahok Dituntut Pidana Percobaan, Din Syamsudin: Itu Mempermainkan Hukum), tapi masih saya terima dalam lapang dada.

    Namun, setelah ia berkomentar bahwa tindakan sewenang-wenang sejumlah anggota ormas yang mendatangi rumah seorang anak berumur 15 tahun di Cipinang secara beramai-ramai, lalu memukul, mendorong terakhir memaksa menandatangani surat pengakuan hanyalah sebatas intimidasi, saya mulai bingung. Sekali lagi saya ingin bertanya, ada apa dengan penjenengan, pak Din Syamsudin?

    Pertama, istilah “intimidasi” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tindakan menakut-nakuti, terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu. Arti lainnya adalah gertakan dan ancaman. Nah, dari definisi ini, bisa disimpulkan bahwa intimidasi hanyalah salah satu dari “rangkaian kegiatan” yang dilakukan serombongan orang tersebut pada anak di bawah umur yang menjadi korban.

    Sedangkan istilah “persekusi” menurut KBBI, definisinya adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Meski tidak sampai “ditumpas” namun sejumlah orang, anggota ormas tersebut telah memenuhi syarat untuk dikatakan melakukan persekusi, karena mereka memulai dari “memburu” secara “sewenang-wenang” lalu “disakiti” dan “dipersusah”.

    Lantas, kenapa harus dipermasalahkan antara istilah “intimidasi” dan “persekusi”, kata seorang teman saya. Jawaban saya, yah jelas masalah. Kalau nantinya pendapat Pak Din Syamsudin diikuti oleh kepolisian, maka akan terjadi ketidakadilan hukum, loh. Karena, persekusi seperti yang dijelaskan oleh Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono, bisa dijerat dengan tiga pasal dalam KUHP sekaligus. Tiga pasal tersebut antara lain pasal 368 tentang pengancaman, pasal 351 tentang penganiayaan dan pasal 170 tentang pengeroyokan. Tidak menutup kemungkinan, akan ada pasal lainnya yang digunakan untuk menjerat pelaku persekusi, sebab korbannya adalah anak di bawah umur.

    Nah, untuk kasus intimidasi, praktis hanya tinggal Pasal 368 ayat (1) KUHP tentang pengancaman saja yang bisa dikenakan. Karena, kita sama-sama tahu bahwa pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan sekarang sudah banyak mengalami perubahan.

    Kesimpulannya, ketika istilah “persekusi” digantikan dengan “intimidasi” maka, para pelaku akan mendapat hukuman yang lebih ringan, dong. Kan, tidak adil, tuh?

    Jadi, untuk Pak Din Syamsudin yang saya hormati. Tolong dengan sangat agar panjenengan dapat menarik lagi ucapan itu, agar para pelaku dapat diganjar dengan hukuman yang setimpal, demi tegaknya hukum di Indonesia. Jangan sampai, hukum bisa berubah hanya karena satu komentar dari panjenengan. Meski demikian, tidak berkurang rasa hormat saya pada panjenengan. Terima kasih.


    Penulis   :  Adhyra Irianto   Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ada Apa dengan Panjenengan, Pak Din Syamsudin Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top