728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 24 Mei 2017

    Wakil Ketua KPK “Mau Ngebut, Mumpung Presidennya Bagus!”

    Mungkin dari sekarang sampai dua tahun ke depan, layar televisi kita akan diramaikan dengan penemuan-penemuan kejahatan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah. Mungkin dari sekarang sampai dua tahun ke depan, akan banyak demo atau keributan-keributan yang dilakukan oleh pihak yang berusahan mengganggu konsentrasi KPK bekerja.

    Kasus Novel Baswedan mungkin menjadi awal bagi para mafia untuk menyerang pihak KPK dalam usaha menghentikan aksi mereka membongkar perkorupsian di Indonesia. Setiap ada pernyataan, baik dari Presiden, Kapolri, Panglima TNI dan KPK atau pihak-pihak yang mendukung eksekutif, pasti akan pula menimbulkan perlawanan dari pihak yang merasa akan diserang.

    Pernyataan Presiden untuk menggebuk kelompok radikal dan intoleran membuat dunia maya diramaikan dengan ejekan-ejekan tentang kapannya pembuban HTI yang sudah diumumkan “akan” dibubarkan.

    Hari ini saya membaca berita bahwa KPK akan menaikan indeks persepsi pemberantasan korupsi di Indonesia dari angka 37 dari 168 negara di dunia. Dalam dua tahun mendatang, dia ingin Indonesia berada di posisi ke 50.

    “Misi KPK ke depan, 37 nilai dari 168 saat ini harus tercapai sekitar 50 sampai 2019,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam acara Pembekalan Kepemimpinan Pemerintah Dalam Negeri Bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tahun 2017 di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya manusia (BPSDM) Kemendagri, Jakarta Selatan, Selasa (23/5).”

    Peningkatan dana desa yang diberikan Pemerintah pusat kepada Pemerintah daerah juga bakal jadi objek yang diawasi. Dia pun mengingatkan, Pemerintah tak akan main-main kepada pihak yang berusaha mencari celah mengambil yang rakyat.

    Saut pun meminta para kepala daerah untuk turun langsung mengawasi dana desa yang dikucurkan Pemerintah pusat. “BUMDes kalau jalan akan keren, oleh karena itu dana desa jangan dimainin, ikut turun awasi,” kata Saut.

    “Jadi mumpung presidennya bagus, kita harus cepat. Oleh sebab itu kita akan coba kejar 50 bisa enggak tahun 2019 nanti,” lanjut Saut.

    Saya tidak tahu apakah ini semua taktik atau sebuah persiapan tapi apaun itu semuanya memberikan dampak yang positif. Menelusuri program-program Jokowi yang canangkan hanya sampai 2019, membuat banyak pihak mempercepat kerja mereka, mungkin alasannya sama dengan apa yang diungkapkan KPK, “Mumpung Presidennya bagus!”

    Pernyataan KPK seperti itu harusnya menjadi catatan untuk rakyat seluruh Indonesia bahwa tidak ada lagi orang lain yang bisa diharapkan untuk menjadi Pemimpin negeri ini sebaik Jokowi saat ini.

    Desas-desus Prabowo yang akan maju lagi menjadi Capres di Pilpres 2019, sudah sangat santer terdengar. Dia memang seorang calon yang gigih walalupun tidak tangguh. Jika dia benar-benar maju lagi ke ajang Pilpres 2019, berarti ini kali keempat baginya untuk menjadi “Calon” diajang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

    Terlepas dari unsur “like” dan “dislike” pada sosok pribadi calon presiden, terlepas dari cara mereka berkampanye, terlepas dari keputusan Jusuf Kalla yang siapa tahu akan mengeluarkan pernyataan lagi bahwa mesjid boleh digunakan untuk kampanye di Pilpres nanti, Jokowi adalah calon terkuat untuk menjabat dan memenang Pilpres 2019 nanti.

    Rakyat Indonesia yang melek akan masa depan bangsa dan masa depan anak dan cucunya, yang waras, yang hanya melihat hasil kerja dan prestasi di dunia, tidak ada alasan untuk tidak memilih Jokowi kembali jadi Presiden Indonesia.

    Kekalaha Basuki Tjahaja Purnama yang dikalahkan oleh isu agama di Pilkada Jakarta adalah bukti kebodohan warga Ibu Kota yang membiarkan nalar mereka ditipu daya. Apapun dalih dan dalil yang digunakan, Seluruh ulama di dunia mengakui bahwa tidak ada ayat atau surat di dalam Al-Quran yang menguraikan tata cara memilih Pemimpin kecuali kata “Adil”.

    Okeylah, Kita orang waras masih bisa memaklumi walaupun dengan kesedihan bahwa Ahok menjadi korban politisasi keadaan yang dilakukan orang-orang yang merasa akan dirugikan apabila dia kembali berkantor di Balai Kota untuk lima tahun ke depan.

    Tapi hal serupa tidak boleh lagi terjadi apalagi untuk skala yang lebih besar sebesar pemilihan presien yang berskala nasional. Ingat apa yang akan terjadi dengan saudara kita di Papua dan pulau-pulau lain yang masih belum merasa pembangunan, yang masih belum tersentuh sila kelima dari Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

    Jangan biarkan pihak lain berkata sama seperti KPK karena mereka sadar bahwa Jokowi hanya akan memimpin Indonesia sampai tahun 2019.

    Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 sangat tergantung pada seberapa besar dukungan rakyat pada beliau! Mari kita pertahankan dia!




    Penulis :  Erika Ebener.   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Wakil Ketua KPK “Mau Ngebut, Mumpung Presidennya Bagus!” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top