728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 28 Mei 2017

    Usai “Gerilya Masjid,” Muncul “Gerilya Intimidatif”

    Pilkada DKI Jakarta 2017. Hasilnya semua sudah tahu. Anies-Sandi menang, Ahok-Djarot kalah. Khusus Ahok, tidak hanya kalah di Pilkada DKI Jakarta saja. Lagi-lagi kalah di pengadilan. Hakim Yang Mulia menyatakan Ahok bersalah terkait kasus penistaan agama. Sekaligus menjatuhkan vonis 2 tahun penjara. Peribahasa “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga,” tampaknya sangat cocok untuk Ahok.  Hebatnya, Ahok adalah Ahok sang fenomenal. Sama seperti saat dengan disiplin hadir di setiap persidangan, kembali dirinya mempertontonkan sikap seorang kesatria. Tidak hanya kepada para pendukungnya. Utamanya ke kelompok yang sangat rakus dan tamak akan kekuasaan dan harta. Tanpa banyak “cincong,” Ahok segera mematuhi vonis 2 tahun penjara tersebut. Itu sebabnya, saat ini Ahok mendekam di penjara Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.  Realitas yang sangat berbanding terbalik dengan seseorang yang suaranya sangat “cetar” membahana saat berorasi, tai kini kabur dari bumi Indonesia.

    Gerilya Masjid



    Kembali ke persoalan kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta 2017. Muncul banyak analasis. Mulai dari yang bersifat teoritis, sampai pragmatis. Ada yang dengan lantang berucap bahwa kalahnya Ahok-Djarot karena mayoritas warga DKI Jakarta menginginkan pemimpin baru. Ada yang dengan arogan berkata bahwa Anies-Sandi memang sudah pasti menang. Kalau kalah, itu karena kecurangan. Ini sesuai dengan propaganda sebelum pencoblosan. Dan lain sejenisnya dan lain sejenisnya. Di sisi lain, tidak sedikit juga yang berpendapat, kalahnya Ahok-Djarot demi menjaga stabilitas negara. Kalahnya Ahok-Djarot karena patut menduga ada kecurangan di KPU, dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

    Terlepas dari begitu banyak analisis yang mencuat, ada satu hal yang pasti. Kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta 2017 karena hembusan isu SARA.  Sesuatu yang sesungguhnya TERLARANG menurut undang-undang. Tidak hanya saat putaran pertama. Hembusan isu SARA semakin kencang bak angin “puting-beliung” saat putaran kedua.  Semua ini berkat sentuhan tangan dingin Atwater Indonesia yaitu Eep bersama kawan-kawan yang tergabung di Timses Anies-Sandi.  Dengan strategi “GERILYA MASJID” hasil adopsi dari partai FIS, Aljazair, Eep cs mampu menghadirkan teror psikologis bersifat  eskhatologis  (bhs. Yunani = Akhir zaman) dan ekonomi ke calon pemilih. Maklum saja, dari ± 7 juta yang punya hak suara untuk memilih, mayoritas beragama Islam + berlatar belakang pendidikan dan ekonomi menengah ke bawah. Kelompok yang relatif fragile alias rentan terhadap isu SARA dan juga masalah ekonomi.

    Berhembus sedikit saja isu SARA dan ketimpangan ekonomi, mentah-mentah langsung menelan tanpa pikir panjang apakah benar atau HOAX. Apalagi ditambah dengan pesan-pesan yang bersifat teror psikologis, seperti: “Pilih pemimpin kafir, masuk NERAKA!;” “Pilih yang seiman masuk SORGA!;” “Aseng kafirun akan MENJAJAH dari segi ekonomi, jadi ganyang aseng kafirun,” dan lain sejenisnya dan lain sejenisnya.  Tentu tidak ketinggalan dengan berbagai macam iming-iming yang menggunakan kode ++. RT/RW bakal dapat kucuran dana milyaran rupiah; KJP bisa ambil tunai;  dan tidak ketinggalan nasi bungkus beserta segala perangkatnya, seperti fitsa hats, sari roti, equill, dan lain-lain.

        Catatan:
        Terkait isu SARA, hal Ini sangat relevan dengan spekulasi yang berpendapat bahwa agama-agama hadir dalam kehidupan manusia sebagai respon terhadap rasa takut. Khususnya rasa takut yang terkait dengan kematian (eskhaton). Sebab tidak ada seorang manusia pun yang mampu menjawab: “Ada apa di balik kematian!” Dan jawabannya hanya “agama” yang menyediakan 2 pintu: SORGA atau pintu NERAKA! Jadi, GERILYA MASJID di mana salah satu caranya dengan menakut-nakuti kalau pilih pemimpin kafir atau penista agama dan lain sejenisnya akan masuk NERAKA, sangat sangat efektif dan efisien.

    Gerilya Intimidatif

    “Mission accomplish;” demikian kira-kira yang ada di benak Eep cs. Wajar kalau berbagai macam pernak-pernik alias berbagai atribut GERILYA MASJID yang selama Pilkada DKI Jakarta banyak menghiasi masjid, kini menghilang entah kemana.

    Hilangkah mendung gelap bernama GERILYA MASJID yang menggelayuti DKI Jakarta secara khusus dan Indonesia secara umum? Boro-boro! Entah dari mana datangnya ide, kini muncul model GERILYA baru. Nama yang relatif cocok mungkin adalah GERILYA INTIMIDATIF. Pelopor sekaligus penggiatnya adalah sekelompok orang yang sedang kehilangan induk. Siapa lagi kalau bukan FPI. Terhadap orang-orang yang mereka anggap menyebar fitnah a.k.a HOAX lewat media sosial, akan mereka datangi. Tidak hanya sekedar datang. Mereka akan memaksa dengan berbagai macam cara agar orang-orang yang mereka sasar membuat surat pernyataan mengaku salah dan sekaligus mohon maaf. Caranya? Patut menduga dengan cara mengancam, teror, dan lain sejenisnya. Sangat-sangat intimidatif. Hebatnya, hasil kerja tersebut kemudian mereka viralkan di berbagai media sosial dalam rangka mencari PEMBENARAN sepihak. GERILYA INTIMIDATIF ini selain membunuh karakter juga menyebar teror baru khusus untuk penghuni dunia maya yang masih waras dan bernurani.

    Dua kasus yang lagi mencuat terkait aksi GERILYA INTIMIDATIF adalah Dr. Fiera Lovita di Solok, Sumatera Barat, dan Leonard Wowiling seorang relawan Jokowi-Ahok di Jakarta. Melebihi kapasitas aparat negara yaitu polisi, kelompok ini (baca: FPI) bertindak seakan-akan seperti seorang “pengadil.” Mereka-mereka ini merasa punya hak mengadili. Parahnya, bukan seperti seorang hakim di pengadilan. Melainkan dengan cara intimidatif, mulai dari meneror, menakut-nakuti, sampai mengancam.  Fenomena GERILYA INTIMIDATIF ini tampaknya sedang  mengemuka saat ini. Entah ke depannya, apakah masih ada aksi sweeping bergaya GERILYA INTIMIDATIF lagi atau raib karena polisi turun tangan. Just wait and see lah! Namun satu hal yang pasti, habis (usai) GERILYA MASJID, terbit (muncul) GERILYA INTIMIDATIF. Ini yang wajib dicermati dan dikritisi. Tidak hanya oleh yang waras dan bernurani. Utamanya oleh pemerintah dan aparat terkait.

    Sampai artikel ini di publish, belum terdengar kabar tentang Leonard Wowiling yang mengalami sweeping aksi GERILYA INTIMIDATIF.  Mari kita doakan bersama-sama agar Leonard Wowiling bisa melewati semua ini dengan aman dan tentram. Sedang nasib Dr. Fiera Lovita beserta kedua anaknya? Kabar terakhir,  pemerintah sudah merespon. Dan kini, beredar info bahwa mereka sudah berada DKI Jakarta guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di Solok, Sumatera Barat.

    Catatan Penutup

    Kalau Dr. Fiera Lovita bersama kedua anaknya kini sudah berada di DKI Jakarta, itu semua berkat INISIATIF atau PERAN AKTIF dari seluruh rekan-rekan Seworders dan lain-lain yang merasa prihatin.  Dengan menggunakan berbagai media sosial yang ada, kasus ini segera mencuat. Pemerintah pun segera merespon.  Pelajaran penting di sini adalah apa yang menimpa Dr. Fiera dan kedua anaknya mungkin bisa saja terjadi pada diri kita semua. Oleh karena itu, sebagai catatan penting: “Mari perluas networking dan memaksimalkan media sosial yang ada!” Tujuannya? Apabila ada yang mengalami nasib seperti Dr. Fiera Lovita atau Leonard Wowiling agar segera mem-viralkan di berbagai media sosial. Niscaya, pemerintah bersama aparat  kepolisian akan turun tangan. Last but not least: Jadi ke depannya, tidak perlu takut mewartakan kebenaran dan menegakkan keadilan di bumi Indonesia tercinta ini. Sebab TUHAN tidak pernah tidur. Dan dengan caraNYA, IA pasti akan memakai kita semua yang waras dan bernurani untuk saling tolong-menolong satu sama lain.



    Aristoteles: “Amicus Platon, amicus Socrates, sed magis amica veritas (Plato sahabatku, Socrates sahabatku, tetapi KEBENARAN sahababtku yang paling karib!”

    Ever Onward No Retreat. GOD Bless Indonesia always & more



    Penulis : Rohadi Sutisna    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Usai “Gerilya Masjid,” Muncul “Gerilya Intimidatif” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top