728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 27 Mei 2017

    Tito Desak RUU Antiterorisme Dituntaskan, RUU Antiterorisme Mandek Di DPR, Ada Apa??

    Bom Kampung Melayu kembali membuka kesadaran kita bahwa Terorisme masih ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti sudah direncanakan, bom Kampung Melayu meledak tidak lama setelah ada serangan Bom di Manchester, Inggris. Dan memang sudah diduga, aksi bom Kampung Melayu ternyata dilakukan oleh para pejuang ISIS.

        “Eksekutor serangan terhadap polisi Indonesia di Jakarta adalah pejuang ISIS,” demikian pernyataan ISIS melalui kantor berita Amaq, yang dikutip dari Reuters, Jumat (26/5).

    Polri sendiri sudah menduga bahwa peristiwa bom Kampung Melayu adalah rentetan dari kejadian bom di Manchester. Sudah menjadi polanya, kalau ada kejadian global terkait ISIS maka akan ada saja yang ingin mengaktualisasi diri mereka dengan melakukan aksi bom. Meski berefek kecil, tetapi aktualisasi ini menjadi sangat penting untuk memberikan ancaman dan juga penyemangat bagi pejuang ISIS lainnya.

    Melihat sudah begitu seringnya terjadi aksi terorisme di Indonesia, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian, menyampaikan bahwa sudah saatnya untuk meningkatkan tindakan pencegahan dibandingkan penindakan. Pencegahan akan sangat mampu menurunkan aksi bom dan korban yang berjatuhan dalam peristiwa aksi bom bunuh diri yang terjadi.

    Peningkatan usaha pencegahan akan mampu membuat Polri mengantisipasi aksi lebih dini. Bahkan Polri juga bisa mencegah kemunculan sel-sel baru dan juga mampu meredam isu terorisme dan penyebarannya dengan cepat tanpa perlu menimbulkan orang-orang baru yang melakukan aksi bom bunuh diri karena terdoktrin oleh ajaran ISIS dan sejenisnya.

    Untuk itulah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian berharap revisi UU nomor 15 tahun 2003 tentang Antiterorisme segera dirampungkan. Lantaran sudah setahun revisi UU tersebut mandek di DPR. Karena melalui revisi UU tersebut, maka akan ada kekuatan hukum Polri untuk melakukan tindakan pencegahan lebih baik dan lebih cepat.

        Menurut Tito, tindakan pelatihan untuk kegiatan terorisme harus bisa dikriminalisasi. “Masalahnya kalau mereka menggunakan senjata kayu atau air soft gun kita tidak bisa tangkap, padahal niat dari pelatihan itu adalah operasi untuk aksi teror,” kata Tito.

        Dengan UU Antiterorisme ini, Tito berharap nanti bisa dibuat daftar organisasi teroris dan orang yang masuk di dalamnya bisa ditangkap. “Contohnya bagaimana membuat daftar organisasi teroris. Setelah itu siapa pun juga yang masuk organisassi itu sepanjang kita bisa membuktikan mereka masuk organisasi itu kita bisa menangkap. Dengan begitu, kami bisa lebih power full,” kata Tito.

    Keinginan Tito ini sejalan dengan apa yang menjadi keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi menyampaikan pentingnya segera menuntaskan revisi UU terorisme saat mendatangi lokasi ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Kamis (25/5/2017).

    Kepada sejumlah wartawan yang hadir di lokasi itu, Jokowi mengatakan Undang-Undang Anti Terorisme harus segera diselesaikan. Jokowi menilai, Undang-Undang itu memudahkan aparat keamanan melakukan pencegahan tindak terorisme.

        “Kita ingin pemerintah dan DPR segera menyelesaikan Undang-Undang Anti Terorisme sehingga akan memudahkan aparat penegak hukum agar memiliki sebuah landasan yang kuat. Dan lebih mampu melakukan upaya pencegahan sebelum kejadian itu terjadi. Ini yang paling penting,” kata Jokowi.

    Lalu mengapa hal ini berjalan sangat lambat meski sudah terbentuk Pansus??

    Ada kemungkinan, DPR RI lah yang membuat proses revisi UU Anti Terorisme ini berjalan lambat dan mandek. DPR RI seperti tidak serius menyelesaikan revisi UU ini padahal seperti yang sudah disepakati bersama, terorisme adalah kejahatan yang extraordinary.

    Parahnya, kemandekan terjadi gara-gara DPR seperti kesulitan mendefinisikan dengan tepat kata “Terorisme”. Hal ini diungkapkan Anggota Panitia Khusus RUU Anti Terorisme DPR Arsul Sani mengatakan, pembahasan rapat-rapat Pansus belum merumuskan dengan baik terkait masalah definisi ini.

        “‎Tentu juga ada satu-dua isu yang belum terumuskan dengan baik seperti definisi terorisme,” kata Arsul Sani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (26/5/2017).

    Aneh bukan?? Definisi terorisme saja mereka kesulitan menjelaskannya, apalagi nanti berbicara mengenai pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi. Masih sangat jauh sepertinya revisi UU Anti Terorisme ini. Entah sampai kapan akan bisa direalisasikan. Tetapi kalau memang serius dan menganggap ini sudah menjadi ancaman, maka DPR dengan Pansusnya aka menseriusi revisi tersebut.

    Lambatnya proses revisi ini tentu saja membuat kita jadi bertanya-tanya dan menimbulkan kecurigaan. DPR sepertinya dipenuhi oleh oknum-oknum yang ingin melindungi orang-orang atau organisasi yang kalau RUU Anti Terorisme ini disahkan akan dengan mudah dikriminalisasikan. Karena seperti penjelasan Tito, dalam RUU ini tindakan pencegahan akan bisa dilakukan dengan penangkapan.

    Siapakah oknum-oknum tersebut?? Mereka adalah Ketua GNPF-MUI, Bachtiar Nasir dan imam besar FPI, Rizieq Shihab.

    Kalau Ketua GNPF-MUI, Bachtiar Nasir bisa dijerat karena adanya dugaan aliran dana ke Turki yang diduga bisa juga mengalir ke Suriah (ISIS), maka Rizieq Shihab bisa ditangkap karena pernyataannya yang menyebut ISIS adalah sodara mereka. Tindakan pencegahan akan memungkinkan menangkap mereka dan melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan sangat mendalam.

    Tetapi sayangnya, RUU Anti Terorisme mandek dan hingga saat ini tindakan pencegahan menjadi sangat sulit dilakukan. Kalau begini terus, maka saya ragu RUU ini akan segera dituntaskan. Selain kecurigaan ingin melindungi sesuatu, saya jadi curiga juga ada mereka di DPR ini atau pansus yang setuju dengan gerakan ISIS dan gerakan Khilafah seperti yang dilakukan HTI dan FPI dengan cara yang berbeda.

    Mungkinkah kecurigaan saya ini bernar?? Biarlah waktu yang menjawabnya.

    Salam RUU Anti Terorisme.



    Penulis :  Palti Hutabarat    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tito Desak RUU Antiterorisme Dituntaskan, RUU Antiterorisme Mandek Di DPR, Ada Apa?? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top