728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Terorisme, Pola Pertama Untuk Memperbudak Negara Muslim

    Kali ini sasaran utamanya adalah Islam, setelah sekian lama komunisme dijadikan budaya pop sebagai pesakitan dunia. Islam merupakan target yang mudah dieksploitasi, karena sebagaimana Agama Samawi lainnya, Islam memiliki kecenderungan perlawanan fisik, bahkan melalui jalan terror. Sejarah menuliskan, bahwa masa-masa Kenabian Muhammad SAW kaum Muslim berada di antara posisi menerror atau diterror oleh para musuh-musuhnya. Upaya pembunuhan jamak berlangsung, bahkan Nabi SAW pun tidak luput dari beragam upaya pembunuhan dan teror. Rumahnya pernah dikepung namun beliau berhasil meloloskan diri dan berhijrah ke Madinah, menjelang Haji Wada, Nabi pun pernah diserang upaya pembunuhan dengan cara diracuni.

    Era pengganti beliau, terror semakin sukses dilakukan. Tidak kurang dari empat Khalifah pengganti, mendapatkan serangan mendadak, dan diserang diam-diam saat tidak siap. Umar bin Khattab misalnya, ditikam dari belakang oleh Ibnu Muljam pada saat menjadi imam sholat. Siapa penyerangnya? Kali ini sesama muslim yang tidak tahu caranya berdialog dalam menyelesaikan masalah. Setiap masalah selalu di selesaikan dengan cara kekerasan. Bahkan “khalifah kelima” Umar bin Abdul Aziz, hanya mampu menuaikan tugas sebagai khalifah cukup tiga tahun saja, karena beliau diracuni oleh para emir-emir bawahan yang tidak menyukai gaya kepemimpinannya yang jujur dan antikorupsi.

    Keengganan muslim untuk berdialog pada sesamanya, atau pada nonmuslim telah menjadikan Islam berantakan, padahal sang Allah dan Nabi SAW selalu menganjurkan dialog dan musyawarah,

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 159)

    Apabila salah seorang kamu meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka penuhilah.” (HR. Ibnu Majah)

    Dengan demikian, sejatinya tidak ada sandaran bagi muslim dimanapun untuk melakukan tindakan terorisme. Bagaimanapun, segala tindakan teror tersebut di era para khalifah digolongkan sebagai tindakan kriminal dan dosa besar, karena membunuh orang lain yang tidak bersalah. Dan apabila ada pertentangan satu sama lain, setiap muslim dianjurkan untuk bermusyawarah, dan bilamana sudah bulat tekad hati untuk tetap ada dalam sikap yang sama setelah musyawarah diminta untuk takut dan berserah diri pada Allah (tawakal) yang artinya jangan sampai melakukan kekerasan, karena tindakan orang yang tawakal adalah tidak menurutkan hawa nafsu amarahnya.

    Namun, budaya pop tidak akan membiarkan pesan-pesan positif sampai ke tangan ummat Islam. Ummat Islam tetap diprovokasi untuk melakukan pembalasan dendam, ummat Islam digambarkan sebagai kelompok yang menolak demokrasi, melecehkan hak-hak sipil, melukai minoritas, sehingga dunia wajib memeranginya.

    Kepemimpinan di dunia muslim tengah  membiarkan pola-pola kriminalisasi Islam oleh budaya pop berlangsung. Mereka korup, hidup dalam hedonisme, menjejerkan kenikmatan dunia, menolak diatur oleh moral akhlak agama dan bersikap semau gue, namun masih mampu memperlihatkan topeng-topeng “kesucian” di tengah kaum muslim yang tidak sadar bahwa mereka tengah dipermainkan oleh para pemimpinnya.

    Dan para pemimpin yang tampak suci itu berkerjasama serta dibiayai oleh para sutradara militeris dan industri senjata yang mendapatkan untung besar kontrak-kontrak miliaran dollar karena perang yang berlangsung terus-menerus di negeri muslim. Sementara itu menunggu di belakangnya kontraktor industi paska perang, yang siap menguasai tanah, air, udara, minyak, emas, permata, tembaga, di negeri muslim yang hancur karena perang, dan memeras rakyat yang tersisa sebagai budak pekerja yang diupah murah, dan makan sedikit agar tetap hidup.

    Pola macam ini diperlihatkan oleh wartawan Eva Bartlet yang meliput perang Suriah. Para teroris diinjeksikan ke suatu negara untuk buat kekacauan kecil-kecilan. Saat pemerintah bereaksi membabi buta dan menganggap semua kelompok radikal muslim adalah sama, maka kelompok penolak dialog dipasok senjata oleh industri perang untuk bisa berhadapan langsung dengan pemerintah, sementara kelompok lain ikut dipasok senjata untuk saling menyerang satu sama lain. Sehingga terjadilah  kekacauan di mana tiap-tiap kelompok saling memerangi dan berperang dengan pemerintah, hingga darah orang Suriah terakhir.  Sementara media barat dan tentu saja dengan kekuatan imaji mereka dalam poster-poster mengaduk emosi,  serta turut mendorong produksi hoax-hoax agar kelompok-kelompok dalam Islam berhenti berdialog, dan saling memusuhi.

    Apakah yang macam itu yang menjadi masa depan negeri kaum muslim? Apakah kaum muslim tidak bisa saling dialog dengan sesamanya, entah dengan sunni atau syiah, walau terdapat perbedaan tajam hingga saling kokang senapan? Yang jelas, budaya pop telah mengeksploitasi kaum muslim, mengadu domba antar sesama mereka, mendorong tumbuhnya muslim yang terjebak pola menjadi teroris, dan pada akhirnya merelakan kedaulatan negaranya untuk menjadi bangsa budak dari bangsa lain yang lebih pintar dan sangat ahli dalam mengaduk-aduk emosi.

    Penulis :  Anca Ursita Dinata    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terorisme, Pola Pertama Untuk Memperbudak Negara Muslim Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top