728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Sudah Keterlaluan, Wahai Tukang Teror Berdoalah Supaya Anda Masih Bisa Dipenjara

    Rabu malam bom di Terminal Kampung Melayu menjadi penutup aksi berturut-turut di seluruh dunia. Manchester menjadi pembuka rangkaian kejadian yang memilukan. Disusul dengan jatuhnya Kota Marawi di Filipina, dan Terminal Kampung Melayu menjadi serangan terakhir orang-orang yang bernafsu jahat.

    Teror demi teror terus terjadi, tidak memilih korbannya. Ada Polisi, Supir Angkot, dan Tukang Warung. Mereka tidak bisa memilih tempat untuk menghindar, karena waktu berputar begitu cepat. Malam itu sudah hampir usai, mereka mungkin tengah berkumpul untuk sekedar bersiap pulang bertugas, sedang menghitung uang sisa setoran untuk anak istrinya, sedang mencatat barang-barang belanja apa yang akan dibeli untuk esok hari.

    Seharusnya mereka bisa pulang dengan tenang, bertemu keluarga dan bercerita betapa kerasnya hidup di Jakarta. Tapi siapa sangka, keluarga yang tenang di rumah harus bergegas sambil menahan haru. Mereka dijemput Bapak-Bapak dari Kepolisian untuk datang ke Rumah Sakit, memastikan tubuh yang terbujur kaku itu adalah keluarga mereka. Sangat tidak diduga, bahwa mereka menjadi korban kebodohan berfikir orang-orang yang memang dari lahir tidak ada gunanya.

    Mereka dengan bangga menciptakan bom, dan dengan suara yakin akan diterima masuk ke dalam surga. Kasihan surga menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai dengan cara yang sangat instant dan tidak masuk logika. Mereka tanpa segan membunuh, dan kalau bisa dengan jumlah korban yang sangat banyak.

    Pola-pola pemikiran seperti ini sudah sangat mengkwatirkan. Karena sesungguhnya peran negara menjadi begitu utama terkait masalah terorisme. Mungkin yang terhormat Bapak Presiden dua periode sedang menyimak semua informasi bom ini sambil makan dengan kerabat-kerabatnya. Mereka sibuk berdialog mengapa dan kenapa bom bisa meledak. Lalu mereka akan menyatakan sikap, bahwa mereka bersama korban dan sangat menyesal atas kejadian yang menimpa keluarga korban. Mereka menaruh simpati dan meminta pemerintah mengusut kasus ini sampai tuntas.

    Sudah sampai disana mereka akan berhenti, karena memang inilah karakter sesungguhnya kaum-kaum penindas rakyat yang sesungguhnya. Mereka tidak benar-benar peduli dengan keadaan bangsa ini. Karena kalau mereka peduli, mereka tidak akan diam saja selama sepuluh tahun.

    Para elit ini tidak bisa berbuat apa-apa kepada hal yang tidak menguntungkan hidupnya. Hari-harinya hanya diisi dengan pemenuhan keinginan dan list belanja konsumerisme yang tidak masuk akal. Kalau berhadapan masalah radikalisme langsung angkat tangan dan pindahkan segala dokumen ke meja sebelah untuk bertanggung jawab. Selalu seperti itu, tidak perlu ada pelarangan yang ketat, toh semua masih baik-baik saja.

    Padahal, kita bisa bayangkan. Kalau sepuluh tahun lalu anak-anak yang berumur sepuluh tahun, otak mereka diisi dengan kurikulum membunuh itu halal, menyiksa itu sah-sah saja, dan melawan orang tua adalah bagian dari perjuangan. Mereka didesak oleh hewan-hewan yang berkedok sekolah agama. Diperdaya oleh bahasa-bahasa dari Timur Tengah sana sehingga tampak berwibawa. Dan diberikan seragam putih-putih supaya tidak dosa. Dan berapa banyak diantara mereka yang sudah dewasa saat ini. Sudah siap menjadi lawan dari negara ini. Mereka sudah yakin atas pilihan hidupnya, dan mereka akan mencari generasi-generasi yang baru menjadi penggantinya.

    Andai saja pejabat sepuluh tahun itu tidak diam, dan minimal berfungsi terhadap jabatannya. Mungkin kurikulum itu tidak pernah ada. Dan kalau saja hewan-hewan buas itu ditahan, mereka tidak bisa mengajar dengan leluasa dan menciptakan generasi pembunuh. Pejabat sepuluh tahun itu memang tidak akan mengerti, wong menterinya ikut acara HTI tidak langsung dipecat. Terkesan dibiarkan saja, karena mereka tidak akan pernah mengira gerakan bawah tanah itu sudah siap menggulung bangsa ini.

    Sesungguhnya dengan diamnya mereka membuka jalan begitu cepat. Karena dengan tindakan diam, mereka percaya pemerintah merestui paham-paham radikal itu. Penghuni surga-surga-an ini akan terus berkicau siang dan malam, tanpa logika hanya memakai perasaannya yang gila dan terucap begitu saja bagai bau kotoran hewan yang menyengat sampai kita tidak bisa lupa baunya.

    Itulah mereka, sudah semakin parah dengan apa yang telah diperbuatnya. Tidak heran bangsa ini begitu buas dengan hal-hal yang berbau agama. Semua dipolitisir dengan berbagai kekudusan dari surga buatan. Dan tampaknya bangsa ini tidak muak dengan sandiwara-sandiwara itu. Bom Kampung Melayu itu rekayasa saja, untuk mengalihkan perkara Ahok. Penista agama yang dihukum hanya dua tahun penjara. Bom itu buatan polisi sendiri, supaya junjungan tertingginya disalahkan dan dihukum atas kasus ini.

    Rasanya sudah habis kata-kata untuk menghina pemikiran-pemikiran seperti itu. Dan parahnya sangat banyak orang percaya dengan opini buatan mereka sendiri. Yang ditakutkan adalah, negara khususnya pemerintahan tidak tahu sudah berapa parah otak-otak yang dijangkit oleh penyakit-penyakit seperti ini. Bagi sebagian orang mungkin tidak bisa percaya dengan pemerintahan saat ini. Itu adalah pilihan anda, tapi janganlah asumsi anda menutupi hati nurani dan memilih percaya dengan cerita-cerita buatan bom palsu.

    Begitu banyak anak-anak kecil yang bernyanyi, bunuh Ahok, bunuh Ahok. Tanpa adanya larangan dari orang sekitar. Ingat diam juga mengandung arti tanda setuju. Artinya orang-orang yang ada disana setuju dengan lagu tersebut, dan tidak masalah untuk membunuh orang kafir. Saat ini mereka masih anak-anak. Tapi sepuluh tahun lagi anak-anak itu bisa saja membawa bom untuk diledakan supaya mereka masuk surga.

    Menjadi sadar di tengah tanya yang besar, sampai kapan ada kabar polisi mengabarkan berita duka terus menerus. Dan beberapa jam berikutnya bakal ada berita sanggahan untuk kepalsuan berita-berita yang memang nyata. Sayang sekali keahlian mereka di bidang design bukan digunakan untuk merancang pelabuhan di kota terpencil di Papua. Karena mereka lebih tertarik membuat berita hoax dan membuat cerita dengan opini menyesatkan.

    Salam anjay untuk semua teroris, selamat anda berhasil membuat Presiden kami marah. Siap-siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan anda. Mudah-mudahan penjara masih bisa menjadi tempat hukuman untuk anda. Karena seharusnya sudah cukup darah tertumpah di negeri ini.

    Dan untuk para penebar kebencian dan pembuat berita palsu. Kami sudah sangat muak dengan apa yang telah anda buat. Dan berharap baca berita dari koran, kalau-kalau ada nama jonru ada di list itu. Kalau belum percayalah, waktunya tidak lama lagi.



    Penulis :  Hisar Ivan Hutabarat   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sudah Keterlaluan, Wahai Tukang Teror Berdoalah Supaya Anda Masih Bisa Dipenjara Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top