728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 20 Mei 2017

    Strategi Devide Et Impera: Warisan Pemerintah Belanda Yang Paling Digemari

    Indonesia yang merupakan negara bekas jajahan pastinya mewarisi banyak hal dari bekas penjajahnya. Selama 350 tahun Belanda menjajah Indonesia. Menurut sejarah, keberhasilan Belanda dalam menaklukan Nusantara tidak terlepas dari strategi devide et impera atau yang lebih dikenal dengan politik pecah belah. Secara definitif  devide et impera atau politik pecah belah adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam arti lain, devide et impera juga merupakan upaya pencegahan kelompok – kelompok kecil untuk bersatu membentuk kelompok besar yang lebih kuat.

    Tidak akan ada suatu kebijakan politik yang berhasil tanpa ada unsur pendukungnya, bagaimana pun baiknya suatu kebijakan politik kalau tanpa partisipasi politik maka akan gagal total dan sebaliknya sejelek-jeleknya kebijakan politik tetapi kalau ada unsur pendukung yang mengsukseskannya tentunya kebijakan tersebut akan berjalan dengan sendirinya. Belanda tidak akan berhasil menjalankan strategi devide et impera jika tidak ada pihak orang-orang bodoh yang mudah dipropaganda dan pihak haus harta dan kekuasaan untuk diajak bekerja sama dalam menjajah penduduk Nusantara.

    Penjajahan oleh Kolonial Belanda yang membuat rakyat Indonesia menjadi bodoh, miskin, dan terbelakang. Tahun 1932 dikeluarkan Onderwijs Ordonnantie (OO) yang melarang diselenggarakannya sekolah swasta yang tidak mengikuti kurikulum, persyaratan guru, persyaratan administrasi dan lain-lain. Karena OO tersebut jelas-jelas akan mematikan sekolah swasta. Pemerintah Belanda juga mengeluarkan larangan mengajar bagi guru-guru yang tidak berijazah sekolah guru Pemerintah Belanda. Larangan itu  mengakibatkan banyak guru Tamansiswa ditangkap dan sebagian sekolah Tamansiswa ditutup. Setali tiga uang dengan cara Belanda di Zaman dahulu, di Zaman sekarang ini propaganda isu SARA dan radikalisme masuk ke sekolah-sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Anak-anak yang mengemban pendidikan di sekolah dan terus-terusan didoktrinasi tentang radikalisme yang menyebabkan pemikiran mereka menjadi radikal.

    Dengan kebodohan dan kemiskinan rakyat membuat Pemerintah Belanda semakin mudah dalam mempengaruhi dan mempropaganda rakyat untuk melancarkan strategi devide et impera, memecah belah persatuan bangsa sehingga mereka menjadi tercerai berai menjadi kelompok-kelompok kecil dan lemah kedudukannya, sehingga sangat mudah bagi Pemerintah Belanda untuk menaklukan Nusantara dan mencapai tujuannya.

    Bahkan Presiden pertama Republik Indonesia sempat menyinggung dalam salah satu pidatonya saat Hari Kebangkitan Nasional di tahun 1964, Soekarno menyinggung soal upaya adu domba dan pemecahbelahan sebagai senjata yang paling ampuh untuk menguasai suatu bangsa.

    Secara antropologi, negara Indonesia adalah negara heterogen dengan adat budaya, agama, suku dan ras. Inilah yang memudahkan bangsa Belanda untuk melakukan politik adu domba. Dalam memecah belah, Belanda menggunakan aksi isu atau provokasi, propaganda, desas – desus, bahkan fitnah kepada kekuasaan yang ada dengan disusupi permusuhan besar.

    Hingga saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa devide et impera adalah strategi yang paling digemari dan paling sering dipraktikan oleh para “elit” dan penguasa. Strategi ini dijalankan untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan oleh para “elit” dan kelompok berkepentingan. Sampai saat ini setelah 72 tahun Indonesia merdeka pun, strategi keji divide et impera masih dipraktikan oleh sekelompok “elit” berkepentingan, mereka menggunakan isu SARA untuk memecah belah kesatuan bangsa Indonesia.

    Isu SARA, terlebih isu agama memang adalah “barang bisnis” yang sangat menggiurkan dan sangat menjanjikan untuk diperdagangkan.  Salah satu bukti nyata adalah kasus penistaan agama yang menimpa Ahok baru-baru ini.  Indonesia termasuk negara yang “over religius” dan dimabuk agama, sehingga sekelompok elit politik dan orang-orang berkepentingan memanfaatkan keadaan ini, di mana masyarakat begitu mudah di provokasi. Tempat-tempat ibadah sudah menjadi sarana untuk kepentingan politik. mereka menjadikan atau memanfaatkan agama sebagai atau layaknya “barang dagangan” untuk meraup keuntungan ekonomi-politik dan material-duniawi.

    “haram hukumnya memilih pemimpin kafir.”

    “orang yang memilih pemimpin kafir pasti akan masuk neraka.”

    “jenazah pemilih pemimpin kafir tidak akan disholatkan.”

    Logikanya, apakah seseorang yang sepanjang hidupnya selalu melakukan amal kebaikan, bersedekah, dan taat beribadah akan di masukan ke neraka hanya karena memilih pemimpin kafir? Dan, apakah seseorang yang sepanjang hidupnya selalu mengambil hak milik orang lain, merampok, memperkosa, iri dan dengki, tetapi karena saat pilkada ia memilih pemimpin yang seiman maka ia langsung masuk surga begitu saja?

    Setelah berhasil menggunakan isu SARA dalam melengserkan Ahok yang triple minority (warga keturunan Tionghoa, Kristen, anti-korupsi) dari kursi gubernur, kini mereka mulai membidik Jokowi untuk melengserkannya dari kursi RI 1 dengan isu Jokowi adalah PKI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan keturunan dari anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak sedikit pula yang mengklaim mereka bisa membutktikan bahwa Jokowi terkait dengan PKI. Bahkan, isu lain menyebutkan bahwa orang yang diakui sebagai orang tua Jokowi, bukanlah orang tua kandungnya. Tujuan dari para “elit” dan politikus ini hanya satu, yaitu melengserkan Jokowi dan merebut kursi RI 1. Mereka akan terus merongrong dan gatal jika tujuannya utamanya belum dapat tercapai.

    Memang sangat disayangkan disaat negara lain sudah belajar melompat-lompat, namun Indonesia masih baru belajar berjalan, disaat negara-negara lain sudah membicarakan tentang ruang angkasa, negara kita masih saja berkutat dengan hal-hal agama. Butuh waktu berapa lama untuk merevolusi mental bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang maju?

    Begitulah kura-kura



    Penulis  :   Gabriella Helian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Strategi Devide Et Impera: Warisan Pemerintah Belanda Yang Paling Digemari Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top