728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 18 Mei 2017

    Sri Mulyani: Tunjukan Pada Dunia Cara Jokowi Bangun Infrastruktur. Rakyat Masih Ga Mau Pilih Presiden Yang Teruji dan Terbukti?

    Bagi orang yang paham bahwa infrastruktur dari satu negara sama pentingnya seperti rangka tulang pada badan manusia. Ketika seorang manusia memiliki tulang yang rapuh, kita bisa bayangkan seberapa jauh dia bisa berjalan, seberapa banyak dia bisa bergerak. Tapi seorang manusia yang memiliki struktur dan kualitas tulang yang kuat, dia akan mampu untuk berjalan jauh bahkan berlari dan bergerak bebas.

    Pemerintah Orde Baru pertama kali membangun jalan tol pada 1973 yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi atau dikenal Tol Jagorawi. Tol sepanjang 50 kilometer itu diresmikan pada 1978, saat pembangunan sampai ruas Jakarta-Citeurep.

    Ketika Presiden Soeharto memulai pembangunan infrastruktur di era Orde baru, Presiden Soeahrto diuntungkan menghadapi dan mendapatkan bonansa minyak pada tahun 1974. Sekarang ketika Presiden Joko Widodo ingin melakukan dan mempercepat pembangunan infrastruktur, persoalannya adalah kita tidak mendapatkan booming itu lagi. Komoditas harganya pun sedang terpuruk. Namun keinginan dan keharusan kita untuk membangun infrastruktur, membuat kita harus mencari jalan lain.

    Anggaran pembangunan infrastruktur melonjak drastis sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah atau RPJM, tahun 2015-2019, kebutuhan dana infrastruktur ditetapkan Rp 4.796 triliun.

    Menurut Mantan Direktur Bank Dunia, pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan dana yang cukup besar itu, tidak akan terbuang sia-sia. Ini karena infrastruktur penting sebagai upaya pemerintah melakukan pemerataan ekonomi.

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan proyek infrastruktur yang jor-joran dilakukan pemerintah saat sekarang terbilang hal yang baru.

    Bahkan Sri Mulyani mengatakan, suksesnya Indonesia mengebut proyek-proyek infrastruktur dengan dana APBN yang terbatas ini, bisa jadi contoh keberhasilan untuk negara-negara lain. “Ini bisa jadikan Republik Indonesia terus belajar membangun infrastruktur sesuai prediksi dan rencana. Juga pendanaan infrastruktur dengan sumber dana makin beragam, karena makin beragam ini akan makin berguna tak hanya Indonesia tapi juga global,” ungkapnya di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (4/4/2017).

    “Ini bisa tunjukan bahwa pembangunan infrastruktur yang sekarang ini, bisa menjadi contoh bagi kita sendiri sebagai pemerintah, dan juga sebagai Indonesia untuk ditunjukan pada dunia,” tambahnya.

    Sampai tahun 2016 ,target membangun jalan 3.149 kilometer (km), capaiannya 2.528 km.Untuk jembatan, pemerintah ingin membangun 12.898 panjang jembatan, yang tercapai 10.500 jembatan. Bandara, dibangun 15 bandara hingga 2019, realisasi di 2016 ada 3 bandara baru.

    Kemudian, pemerintah ingin membangun 37 bendungan, dan selesai semuanya di 2016. Selanjutnya, infrastruktur sanitasi dan air bersih. “Kita ingin membangun 2.549 untuk keluarga bisa mengakses air bersih. Kita ingin mencapai 4.299 hektar drainase, yang dicapai adalah 983 ribu KK dan 850 hektar drainase,” terang Sri Mulyani.

    Sri Mulyani menambahkan, meski ada pemotongan anggaran belanja pada 2016, tidak membuat pemerintah berhenti membangun infrastruktur. “Jadi dalam pemotongan anggaran benar-benar presisi sehingga tidak membuat pemerintah paralyze, dan kegiatan ekonominya berhenti,” kata Sri Mulyani.

    Diungkapkannya, meski sudah sangat besar dibandingkan anggaran rezim sebelumnya, anggaran infrastruktur tersebut masih jauh dari kata cukup jika mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah yang sudah dibuat.

    “Ini masih kurang dibandingkan kebutuhan. Tapi kami tidak hanya melalui kementerian lembaga dalam menyalurkan anggaran infrastruktur. Pemerintah telah melakukan beberapa cara untuk bisa alokasikan anggaran berdasarkan karakteristik itu sendiri,” ucapnya.

    “Dalam rangka mewujudkan ekonomi yang tak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga pertumbuhan yang inklusif. Tak hanya bangun infrastruktur untuk pertumbuhan ekonomi, tapi juga untuk kesejahteraan dan akses masyarakat untuk menikmatinya,” tambahnya.

    Di luar itu, sebut Sri Mulyani, terlambatnya pembangunan infrastruktur membuat Indonesia tertinggal dibandingkan negara tetangga dalam hal biaya logistik.

    “Dalam hal competitiveness masalah infrastruktur ini menempatkan Indonesia pada rangking yang rendah. Ketidakefisienan dan tingginya biaya yang dikeluarkan perusahaan dan masyarakat, akibat belum tersedianya infrastruktur yang baik di perkotaan maupun pedesaan,” ujar Sri Mulyani.

    Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, tren negara-negara di dunia juga tengah menggiatkan pembangunan proyek infrastruktur. Peningkatan daya saing menjadi sebab pendorong utamanya.

    Keberhasilan percepatan proyek infrastruktur Indonesia, kata Sri Mulyani, tak lepas dari keterlibatan swasta dan BUMN dalam menggarap berbagai infrastruktur. Sesuatu yang menurutnya jarang dilakukan negara lain.

    “Dunia sedang sibuk bangun infrastruktur, jarang ada negara bangun infrastruktur dengan skema KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha). Namun dengan kualitas infrastruktur, cost, manajemen proyek kelas dunia,” terang Sri Mulyani.

    Diungkapkannya, sejauh ini skema pendanaan yang diterapkan pemerintah masih berjalan dengan sangat baik. Apalagi, proyek-proyek dari jalan tol hingga pembangkit listrik tersebut sudah bisa dikerjakan sendiri oleh anak-anak bangsa.

    “Jadi saya harap saat giatkan proyek infrastruktur, kita mampu jadi etalase dunia bahwa Indonesia berisi manusia-manusia yang profesional, berkompetensi, dan berkomitmen jalankan proyek yang berguna bagi masyarakat. Bisa jadi contoh untuk dunia dalam pembangunan infrastruktur,” pungkas Sri Mulyani.

    Presiden Jokowi selalu mengatakan tentang “Persaingan Global”. Tanpa infrastruktur yang sempuran, Indonesia tidak akan mampu mengimbangi persaingan global. Jika ini terjadi, maka Indonesia akan mengalami keterbelakangan pembangunan.

    Sampai pada tahun 2019, pembangunan infrastruktur masih belum dapat dikatakan 100% sempurna. Contoh nyata misalnya Projek TransSumatra yang dijadwalkan akan 100% selesai dan sempurna pada tahun 2025.

    Saya memandang bahwa saat ini sudah tidak bisa lagi kita berandai-andai dengan memilih pemimpin yang baru. Proyek-proyek yang direncanakan Presiden Jokowi sudah terbukti banyak yang selesai dan sudah mulai dinikmati rakyat. Sistem kontrol yang dilakukan membuktikan bahwa pendanaa proyek berjalan lancar tanpa kebocoran.

    Kita bisa membaca sejarah, selama 72 tahun Indonesia berdiri, baru di era Jokowi pembangunan infrastruktur dilakukan secara massive diseluruh negeri. Ini adalah jaminan bahwa ketika infrastruktur Indonesia sempurna, maka pemerataan kesejahteraan rakyat dapat dicapai.

    Jadi, kalau Presiden Jokowi sudah teruji dan terbukti, buat apa pilih yang lain?



    Penulis : Erika Ebener    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sri Mulyani: Tunjukan Pada Dunia Cara Jokowi Bangun Infrastruktur. Rakyat Masih Ga Mau Pilih Presiden Yang Teruji dan Terbukti? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top