728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 27 Mei 2017

    Setelah Politisasi Ayat dan Mayat Kini muncul Politisasi Anak-anak

     Dalam sebuah kalimat, seorang pujangga besar yang dikelanl oleh tiga agama besar, yaitu Shalomo (ini ejaan yang saya kenal, pembaca silakan mengeja sesuai yang saudara pahami) pernah menggumuli persoalan kehidupan, salah satunya bagaimana mendidik anak-anak. Dalam puncak permenungannya, Shalomo sampai pada kesimpulan bahwa pendidikan di masa anak-anak sangatlah penting.

    Dan akhirnya, sampailah Sang Pujangga Besar pada sebuah kesimpulan. Kesimpulan itu dia tuangkan dalah sebuah madah dan kalimatnya kurang lebih seperti ini, “Didiklah anak muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun dia tidak akan menyimpang dari jalan itu” ( Sumber ). Kata patut di sini bisa diartikan sesuai atau cocok dengan norma kebaikan universal yang berlaku.

    Nasehat itu sangat dasyat, karenanya bisa bertahan ribuan tahun hingga sampai ke tangan kita semua untuk dibaca dan diresapi makna yang terkandung di dalamnya. Menyimak beredarnya video nyanyian anak-anak yang melantunkan lagu “pembunuhan” terhadap seseorang, siapapun tiu, nampaknya ada yang rusak parah di negeri ini. Seseorang itu adalah orang yang sangat baik (menurut saya) karena tidak pernah berpikir untuk dirinya sendiri, namun memikirkan orang banyak dan yang dipikirkan adalah kebaikan orang lain, hingga rela dijadikan tumbal kedamaian, dialah Bapak Basuki Tjahya Purnama.

    Anak-anak diajak pawai dan dalam pawai mereka disuruh menyanyikan lagu.  Dan dalam nyanyian itu bersyairkan ancaman pembunuhan ke Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama. Penulis yakin seyakin-yakinnya bahwa itu bukan niat dari jiwa anak-anak yang seharusnya masih bening dan bersih.Penulis yakin bahwa anak-anak itu paatilah disuruh oleh orang yang lebih dewasa dan nampaknya memiliki pengaruh yang kuat.

    Penulis tidak paham siapa yang menyuruh anak-anak itu, namun penulis menduga bahwa anak-anak itu disuruh seseorang dalam balutan paham agama tertentu dan juga di belakangnya ada kepentingan politik tertentu.

    Persengkongklan politik kotor dengan beberapa tafsiran atas kitab suci agama nampaknya semakin akut mendominasi paham politik dan keagamaan di negeri ini. Dan itu semua semakin menemukan “kesuksesannya” manakala dunia ekonomi yang tidak mengenal belas kasih ikut nimbrung diantara perpaduan politik dan paham agama tertentu.

    Dunia perpolitikan di negeri ini nampaknya sudah mengalami sakit yang sangat parah. Saking parahnya, dalam pandangan politik, benar bisa salah dan salahpun dalam tekanan massa yang banyak akan bisa menjadi sebuah kebenaran. Di negeri ini politik nampaknya menjadi sebuah dunia bebas tanpa aturan dan tanpa etika. Semua bebas demi menggapai ambisi kelompok dan pribadi.

    Semua sepertinya harus mengalah atau harus tunduk ke politik. Semua dipaksa takluk dan kalau tidak mau tunduk, maka dia akan digilas kekuatan politik yang sangat mengerikan. Dan agamapun dikorbankan, bahkan anak-anak, kelompok manusia yang masih sederhana, masih berpikir demi keceriaan dan masih belajar, yang seharusnya dibimbing oleh orang yang lebih tua ke jalan kebenaran dan kebaikan, justru dijerumuskan ke kubangan kebencian yang tiada terbantahkan.

    Penulis tidak begitu paham, apakah orangtua anak-anak yang pawai dan menyanyikan lagu sadis, ancaman pembunuhan ke seseorang itu mengetahui atau tidak. Namun andaipun para orang tua anak-anak itu mengetahui, belum tentu mereka bisa menghentikan paham yang disebarkan ke anak-anak mereka. Bisa jadi, mereka, para orangtua itu justru “bangga” karena perilaku anak-anak mereka, karena mereka diajarkan bahwa melawan “musuh” paham yang mreka Imani akan mendatangkan berkah yang luar biasa.

    Video anak-anak menyanyikan syair ancaman pembunuhan kepada seseorang itu sudah beredar. Artinya, kesempatan untuk terlihat oleh orang banyak, termasuk anak-anak kita, sangat besar. Maka, penulis mengingatkan agar orang tua menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus ke dalam pemahaman beragama yang salah. Dan sepertinya polisi juga mulai bergerak untuk menyelidiki. Penulis tidak paham, apakah saat tulisan saya ini terpublish, video itu masih ada atau sudah terhapus, namun penulis yakin, sudah banyak yang melihat video kurangajar tersebut.

    Jika anak-anak saja sudah dicekoki ajaran tentang kebencian, maka tidak mengherankan jika nantinya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hidup penuh dendam dan kebencian. Mereka akan melihat siapa dan apa saja yang berbeda dengan dirinya, harus dilawan dan kalau bisa dilenyapkan. Anak-anak kecil saja sudah ditanami benih kebencian dan ujaran kalimat pembunuhan, bagaimana besarnya jika tidak segera dibersihkan otaknya dari paham salah itu?

    Jikapun masih bisa dibersihkan, siapa yang mau menjadi relawan untuk membersihkan pikiran anak-anak itu dari paham yang penuh dengan dendam dan kebencian. Mungkin Negara bisa mendorong orangtua mereka untuk mengembalikan paham anak-anak mereka, namun siapa yang bisa menjamin akan berhasil, karena orangtua lebih dekat dengan para “guru agama” yang mengajari anak-anak mereka?

    Dari semuanya itu, nampaknya anak-anak dan juga orangtua sudah menjadi korban politiksasi. Dunia politik yang bar-bar, yang bebas dan menghalalkan segala cara, nampaknya menjadi alasan, mengapa anak-anak itu disuruh menyanyikan sebuah syair yang begitu seram dan mengerikan. Politik dengan segala macam bentuk partainyalah sejatinya yang menjadikan kehidupan bangsa kita ini semakin runyam. Politik dengan segala bentuk dan model paratai-partainyalah yang sebenarnya merusak masa depan anak-anak bangsa ini.

    Salam Damai Untuk Nusantara

    Penulis :  dony setyawan   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Setelah Politisasi Ayat dan Mayat Kini muncul Politisasi Anak-anak Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top