728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 17 Mei 2017

    Setelah Masa Kejayaan, Kini FPI Menuju Saat Kehancuran

    “Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian….” begitulah salah satu bait lagu Raihan. menjelang bulan ramadhan, sudah saatnya sebagai seorang hamba kita berlomba-lomba mensucikan diri dari segala bentuk perbuatan maksiat. Agar Tuhan mau mengampuni segala dosa-dosa kita, terlebih dahulu kita harus mengakui kesalahan dan bertobat. Apa jadinya kalau sebagai hamba kita merasa angkuh dan tidak mengakui perbuatan dosa kita? Tentu Tuhan tak akan mengampuni apalagi memberi kita surga-Nya.

    Masih segar ingatan kita semua akan awal-awal kasus Ahok yang membuatnya menanggung hukuman dan kekalahan di Pilkada. Saat itu, FPI yang dipimpin Rizieq Shihab mendapat simpati banyak rakyat Indonesia dengan kesamaan rasa tersinggung dengan ucapan Ahok yang dianggap menista agama islam. Ketika dahulu FPI dianggap sebelah mata oleh banyak orang dan lebih diidentikkan dengan ormas preman. Saat itu, mereka dipuji-puji banyak pihak karena keberaniannya mendesak pemerintah memproses Ahok yang dianggap bersalah dalam kasus penistaan agama.

    Banyak warga Nahdiyyin dan Muhammadiyah merapat satu barisan dengan HTI dan FPI berbondong-bondong memusatkan demo besar-besaran ke Jakarta. Diantara mereka ada yang merasa tersinggung dengan ucapan Ahok, ada yang memiliki kepentingan agar Ahok tak bisa lagi menjadi gubernur Jakarta, sampai ada yang merencanakan makar. Pemerintah dan aparat penegak hukum dibuat kelabakan dengan orasi mereka yang mendekati gedung MPR DPR. Masih segar rasanya bagaimana demo 411 berakhir ricuh di malam hari dan berebut dengan pihak keamanan untuk menduduki gedung pemerintah pusat.

    Begitu juga dengan demo 212 di bulan desember 2016 yang tak kalah besar jumlahnya, tapi berhasil dialihkan ke Monas. Setelah akhirnya Ahok diproses menjadi tersangka, Rizieq Shihab sebagai pimpinan FPI seakan banjir pujian. Ada yang melantiknya menjadi imam besar umat islam karena keberaniannya menuntut pemerintah membuat Ahok menjadi tersangka.

    Tentunya pujian untuk Rizieq berdatangan dari orang dan kelompok yang memiliki kepentingan busuk dibalik semua demo tersebut. Di luar mereka meneriakkan tegakkan hukum dan bela agama, tapi di tengah demo teriakan mereka berubah menjadi gantung Ahok, turunkan Jokowi, Kembali ke 98. Dan benar rupanya karena aksi demo mereka sudah ditunggangi para elit politik yang memiliki kepentingan busuk di negeri ini. kepentingan untuk makar dan mengganti pemerintahan yang sah. Ini terbukti dengan ditangkapnya berbagai aktivis, jenderal purnawirawan sampai artis sesaat sebelum demo 212 dilakukan.

    Aksi demo terus berlanjut menjadi 313, dan seterusnya hingga Ahok kalah di Pilkada putaran kedua. Saat Ahok dijebloskan ke penjara, para lawan politik mulai kehabisan akal untuk melancarkan demo lanjutan. Saking stresnya anggota kader Gerindra, Muhammad Syafi’i mengajak seluruh rakyat berdemo ke Jakarta untuk menuntut MPR mencabut mandat Jokowi. Alasan mengada-ada mulai dibuat dengan tuduhan Jokowi menggunakan Kapolda, Kapolri dan Kejagung untuk melindungi Ahok. Padahal putusan hakim untuk menahan dan mempidana Ahok selama 2 tahun sudah ada yang menjadi bukti kalau Jokowi tidak mengintervensi hukum yang berjalan. Mungkin Syafi’i lupa dan tak diajak syukuran kubu Anies dan Prabowo dengan judul “Selamat Ahok di Penjara”.

    Kembali lagi pada ormas FPI, mungkin banyak masyarakat umum yang bertanya-tanya mengapa hanya HTI yang dibubarkan pemerintah, kenapa FPI tak ikut dibubarkan. Rasanya kalau membaca peta politik dan gerakan ormas radikal tersebut, kita sudah mengetahui jawabannya. Menurut Wiranto, sebelumnya sudah ada 20 negara di dunia yang melarang oraganisasi Hizbut Tahrir karena tak sesuai dengan ideologi nasionalisme suatu bangsa. Hizbut Tahrir menginginkan negara khilafah yang terpusat di suatu negara dan tak mengakui adanya bentuk negara nasionalis dan demokratis. Hal itu menjadi salah satu alasan pemerintah membubarkan HTI.

    Jubir HTI bisa saja berkilah kalau oraganisasinya hanya berdakwah, tapi saya pribadi sering melihat konten berbau khilafah, bendera panji rasulullah dan sebagainya berseliweran di medsos. Dengan menunggangi kasus Ahok, HTI membuktikan sistem khilafah yang dianutnya lebih baik dari sistem demokrasi dengan dipimpin seorang kafir. Begitu juga FPI yang menunggangi kasus Ahok, tapi lebih ke arah keuntungan organisasi dibanding tujuan khilafah.

    Sepertinya pemerintah paham kalau FPI lebih berskala nasional dibanding Hizbut Tahrir yang berskala internasional. Hizbut Tahrir akan lemah dengan status sebagai organisasi terlarang dan wajib dibubarkan. Menghukum pimpinan HTI saja tidak akan membuat organisasinya lemah karena sistem dakwah HTI yang bersifat merata, buktinya meski dilarang dibanyak negara, tetap bisa berdiri di Indonesia. Maka pembubaran menjadi jalan satu-satunya.

    Sedang FPI memiliki kekuatan dipimpinan organisasinya. Bisa dikatakan hanya Rizieq Shihab seorang yang bisa membakar semangat para pengikut FPI. Maka ketika Rizieq Shihab secara tak sengaja tersandung kasus pornografi yang melibatkan muridnya sendiri, Firza Husein. Aparat keamanan memanfaatkan momentum ini untuk segera mengambil tindakan hukum kepadanya. Dan benar saja, Rizieq seakan tak punya muka untuk kembali ke Indonesia dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Padahal Emma sebagai saksi sudah membenarkan kasus pornografi tersebut dan Firza Husein sudah ditetapkan sebagai tersangka.

    Bahkan istri Rizieq sudah dipanggil sebagai saksi. FPI tanpa Rizieq bak sayur tanpa garam dan berasa hambar. Meski pengacara dan pengikut FPI membela mati-matian dengan menuduh kriminalisasi ulama. Tapi, nasi yang sudah menjadi bubur tak bisa kembali lagi. Suatu saat Rizieq akan kembali dan menyusul Firza menjadi tersangka. Walau 300 pengacara dan Komnas HAM dilibatkan untuk membelanya, tapi rasanya berat untuk membebaskannya dari jerat hukum.

    Sebentar lagi Rizieq akan menyusul Ahok di penjara. Kemungkinan dia akan menjalani masa kurungan yang jauh lebih lama dibanding Ahok. Nama FPI yang dulu berjaya karena dirinya akan menjadi hancur seketika juga karena dirinya yang terbukti melakukan zina dan pornografi.

    Untuk pendukung Ahok, mungkin kita harus bersabar hingga Ahok dibebaskan. Kalau masa kejayaan dan kehancuran FPI berjalan begitu cepat. Bisa jadi saat ini adalah masa kehancuran kita untuk menyambut masa kejayaan ketika suatu saat Ahok bebas. Mungkin saat itu banyak masyarakat awam yang menyesal karena menuduh Ahok telah menista, mungkin saat itu dirinya sudah pantas menjadi pemimpin bangsa. Bisa jadi RI2 atau bahkan RI1.

    Salam Kejayaan!

    Penulis :  Niha   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Setelah Masa Kejayaan, Kini FPI Menuju Saat Kehancuran Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top