728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 20 Mei 2017

    Saatnya Koreksi Patriotisme Palsu dengan Matriotisme Sejati

    Ada tiga hal penting yang perlu kita ingat(kan) pada Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei yang berawal dari pendirian Boedi Oetomo 20 Mei 1908.

    Pertama, gerakan itu dipelopori oleh kelompok cendekiawan, khususnya para dokter. Sang pendiri adalah Dr.Wahidin Soedirohoesodo di Sekolah Kedokteran Stovia, Kwitang, Jakarta. Tetapi, dalam rapat pertama di Yogyakarta pada tahun itu juga, dia percayakan tugas-jabatan ketua kepada yang lebih muda, Dr.Soetomo.

    Kedua. Organisasi Boedi Oetomo sebagai organisasi sosial tidak bergerak di politik praktis, melainkan politik etis dengan misi memerjuangkan kesejahteraan rakyat bumiputera melalui pendidikan.  Karena itu tidak ditolak bahkan ditolerir oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

    Ketiga, Budi Utomo merupakan gerakan pertama di tingkat nasional, setelah gerakan-gerakan di tingkat daerah tidak punya dampak berarti. Karena itu disebut Kebangkitan Nasional. Intinya adalah bangkitnya kesadaran hidup berbangsa yang didasari sense of unity, rasa persatuan tanpa sekat-sekat suku-agama-kepercayaan.

    Ketiga kata kunci  tersebut [cendekiawan, politik etis, sense of unity] penting diingatkan secara khusus.  Sebab kondisi kita dalam 6-7 bulan terakhir ini sungguh memrihatinkan. Ada ancaman perpecahan karena rongrongan kelompok-kelompok vigilante dengan demo berjilid-jilid, yang justru diotaki oleh orang-orang terpelajar, para sarjana yang pintar-pintar, lengkap dengan  professor doktor, tetapi yang tidak layak disebut cendekiawan. Bedanya: cendekiawan (Intellectuals) selalu mencari dan membela kebenaran, sarjana biasa-biasa memihak dan membela kepentingan.

    Politik kita, yang juga ditokohi para sarjana, orang-orang terpelajar itu, banyak ditandai politik tanpa etika dan moralitas. Sampai-sampai pertarungan politik di Pilkada DKI diberi cap dengan bahasa paling kasar: brutal dan biadab!

    Ada sinyal-sinyal yang menunjukkan Kebangkitan Nasional sedang menuju kebangkrutan nasional. Ya, kebangkrutan nasionalisme, gara-gara rasialisme dan fanatisme agama yang melahirkan radikalisme. Tragis! Oknum-oknum terpelajar yang menjadi aktor-aktor di belakang kebangkrutan ini layak dikaregorikan sebagai ‘patriot-patriot palsu’. Mereka ada di orpol, ormas, bahkan memegang jabatan-jabatan kunci di lembaga-lembaga resmi Negara. Nama-nama mereka setiap hari berseliweran di tulisan-tulisan Seword dan medsos lain serta media mainstream.

    Patriotisme Palsu

    Sebenarnya tanpa sadar kita mewarisi kekeliruan konsep Cinta Tanah Air dalam istilah ‘Patriotisme’.  Mengapa saya berani katakan itu keliru? Mari kita buktikan.

    Patriotisme berasal dari kata Latin abad ke-6 ‘patriota’, yang berakar pada kata pater (bapak). Diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan fatherland, karena anggapan bahwa Tanah Air berkasta maskulin alias jantan. Nampaknya dikaitkan dengan perang untuk membela Tanah Air yang memang menjadi tugas khas dan eksklusif kaum lelaki. Itu sebelum dibuktikan sebaliknya oleh pahlawan perempuan Perancis, Jean d’Arc.

    Istilah ‘patriotisme’ sendiri dipopulerkan oleh Samuel Johnson melalui bukunya The Patriot (1774), yang merupakan kritik terbuka terhadap apa yang dianggapnya patriotisme palsu. Samuel Johnson, cendekiawan terkemuka Inggeris, menghasilkan empat edisi Dictionary. Dalam edisi kedua kamusnya itu, dia definisikan ‘patriot’ sebagai “the one whose ruling passion is the love of his country” – seorang yang hasratnya dikuasai oleh cinta pada Tanah Air.  Namun dalam edisi keempat ia menambahkan kalimat ini: “it is sometimes used for factious disturber of the government” – sering digunakan untuk pengganggu pemerintahan demi kepentingan faksi/partai.

    Tambahan itu dikaitkan dengan kritik keras yang diucapkannya pada 7 April 1775: “Patriotism is the last refuge of a scoundrel” – Patriotisme adalah tempat perlindungan terakhir seorang bajingan.

    Sindiran itu ditujukan pada politikus terkemuka Inggeris, Edmund Burke dan partainya, yang dalam pandangan Johnson merupakan kumpulan politisi munafik. Dengan menggunakan argumen patriotisme teoritis dalam debat-debat di parlemen, Burke dkk selalu meminjam nama rakyat kecil dan ‘kepentingan Negara’ untuk mengegolkan kepentingan partai sendiri. Burke bahkan tercatat sebagai politikus yang bekerja dengan teori konspirasi penuh intrik dengan pihak pengadilan. Bayangkan bagaimana nasib suatu Negara ketika legislatif sudah berkolaborasi dengan yudikatif untuk merongrong eksekutif.

    Karena itu Johnson tak segan-segan mencap Burke sebagai bajingan manipulatif, yang berlindung dibawah argumen patriotisme, mengaku-ngaku sebagai patriot, tetapi sebenarnya memerjuangkan kepentingan diri dan partainya. Perilaku politik mereka penuh dengan kemunafikan, kebusukan dan agenda-agenda tersembunyi yang mengkhinati rakyat.

    Bagaimana dengan Indonesia? Rasa-rasanya kritik Samuel Johnson itu sangat cocok dengan sikon kita belakangan ini. Pembaca budiman pasti dengan mudah menyebut nama-nama patriot-patriot palsu sekelas Edmund Burke, termasuk partai mereka. Paling mudah ditemukan di Senayan. Juga di panggung-panggung kampanye pilkada DKI, dan di panggung unjuk rasa berjilid-jilid.

    Satu contoh paling jelas, disajikan oleh Bung Nafys dalam tulisannya tentang politikus Partai Gerindra bernama Muhammad Syafi’i. Entah siapa yang memberi gelar begitu ‘suci’: Romo. Mengingatkan kita pada karakteristik ke-5 pemimpin narsistik, dalam tulisan saya kemarin. Entah negara mana yang dia ingin bela. Pasti bukan Indonesia, yang Presidennya jelas Jokowi. Sebab presiden dia yang fotonya terpajang di ruang kerjanya di Senayan, adalah junjungannya, PS. Sungguh sulit dicerna dengan otak waras. Gedung DPR-RI Senayan itu milik Pemerintah Indonesaia yang sah, bukan milik partainya yang kalah dalam pilpres 2014 lalu. Masih waraskah dia itu? Atau memang satu jenis dengan ‘kanjeng romo’ dan si habib yang dibelanya itu?

    Patriot-patriot palsu semacam itu bergentayangan di mana-mana. Dan menjadi bahaya laten ketika mereka itu memegang jabatan politik yang strategis, lalu mulai berkolaborasi. Yang tadinya masih sembunyi-sembunyi sebagai ‘musuh dalam sarung’, mulai terang-terangn bermain di medan perang terbuka. Tapi suara mereka selalu merdu mengatakan ‘demi Bangsa dan Negara’. Tidak heran kalau ada yang mengatakan, musuh terbesar Negara kita saat ini tidak hanya narkotika dan korupsi, tapi juga kemunafikan. Jadi KKN gaya baru: Kemunafikan, Korupsi, Narkotika.

    Para cerdik-pandai yang politikus semacam itu pasti tidak layak disebut Cendekiawan apalagi Negarawan. Politikus dalam arti sebenarnya pun masih terlalu luhur juga buat mereka. Sebab politik itu sejatinya adalah ‘seni meraih kekuasaan demi kepentingan umum’. Mungkin patriot-patriot palsu itu lebih tepat dikategorikan sebagai ‘tikus-tikus politik’.

    Konsep Cinta Tanah Air Kita: Matriotisme

    Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional ini mestinya menjadi saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan konsep Cinta Tanah Air. Sebab konsep ‘Patriotisme’ sudah menjadi “tempat persembunyian terakhir para (maaf) bajingan politik”. Persis seperti kritik Samuel Johnson.

    Bagi kita, Tanah Air adalah Ibu (Latin: ‘mater’), yang kita sapa dengan hormat dan cinta sebagai ‘Ibu Pertiwi’ karena kasih-sayang dan kesetiaanya yang tanpa batas. Kasih sayang Ibu Pertiwi sepanjang jalan tak berujung, seluas tanah dan wilayah udara Indonesia dan sedalam samudera serta laut-laut lepas dengan seluruh kekayaan alam yang dikandungnya untuk menghidupi seluruh rakyat, putera-puterinya. Kesetiaannya selalu terbukti, tidak pernah sekalipun berkhianat. Ketika kita menanaminya dengan padi, yang ditumbuhkan selalu padi, bukan yang lain. Kasih sayang dan kesetiaan seperti itu belum tentu ditunjukkan seorang bapak.

    Karena itu sudah saatnya kita koreksi ‘Patriotisme’ dengan ‘Matriotisme’: ungkapan cinta, kesetiaan dan kesiap-sediaan untuk membela Ibu Pertiwi dengan seluruh jiwa-raga. Dan cinta, kesetiaan dan pembelaan itu haruslah yang sejati, bukan jenis KW apalagi palsu.

    Mungkin sulit mengganti istilahnya, karena sudah telanjur terpatri dalam pikiran dan hati kita. Apalagi kalau harus mengubah lagu-lagu yang memakai kata ‘patriot’ seperti “patriot proklamasi” dalam lagu nasional Garuda Pancasila.

    Bagaimanapun, kita mesti bersyukur atas blessing in disguise yang kita refleksikan dari kekalahan Ahok-Djarot, pasangan Matriot sejati, kemudian kriminalisasi dan viktimisasi Ahok. Rahmat terselubung itu adalah bangkitnya sense of unity dan kesadaran kolektif berbangsa dari the real majority yang selama ini memilih berdiam diri. Dan itu semua digerakkan oleh para Cendekiawan Sejati.

    Hebatnya, banyak diantara mereka adalah kaum perempuan. Termasuk penulis-penulis hebat kita di Seword ini. Kita angkat topi untuk mereka. Simbol-simbol yang digunakan dalam unjuk-rasa damai merekapun sangat menyentuh secara emosional dan spiritual: bunga dan lilin. Sanga Matriotis!

    Selamat Merayakan “Hari Move on Nasional” dengan Matriotisme Sejati!


    Penulis  :   Filo Rustandi    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Saatnya Koreksi Patriotisme Palsu dengan Matriotisme Sejati Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top