728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 30 Mei 2017

    Rizieq Terbukti Berzinah, Haruskah Dihukum Rajam? Ini Penjelasannya

    Saya bukan kyai bukan juga ulama bukan pula seorang ustad, bapak atau kakek serta buyut saya juga tidak memiliki darah seorang ulama jadi saya mohon maaf sebesarnya jika saya mengalami kekeliruan dalam menuliskan artikel ini. Saya hanya mencoba memberikan sebuah pandangan tentang Zinah dan kasus Firza-Rizieq, selebihnya biar para pembaca yang menilainya.

    Wala taqrabu zina, kita mulai pembahasan artikel ini dengan ucapan Allah SWT Tuhan sekalian alam. Kata mutiara ini diambil dari firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 32, berikut arti lengkapnya: Dan janganlah kalian mendekati zinah; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

    Saya bukan hendak mendeskreditkan masyarakat kota, namun saya ingin memberikan sedikit wawasan dan gambaran masyarakat desa. kalau kita hidup di desa, biasanya selepas Shalat Ashar ataupun Shalat Maghrib kita akan disuruh orang tua kita mengaji di mushala ataupun masjid terdekat.

    Kita akan belajar baca tulis Al-Qur’an, sejarah Rasul, sejarah para ulama dan selainnya. Sejak kecil kita sudah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan agama sebelum dewasa dan siap mengarungi hidup. Ketika kita remaja, maka tidak hanya guru ngaji, orang tua, saudara, kakak, tetangga yang lebih tua, pakde, bude, kakek, nenek dan semua orang yang mengenal kita akan mengatakan ” le ati-ati wes gede dijogo ikune (nak hati-hati sudah besar dijaga itunya)”.

    Maksudnya adalah kita harus menjaga kesucian kita, karena ketika remaja kesucian adalah sesuatu yang sakral untuk kita jaga. Tapi sebenarnya kata “jaga” yang dimaksud bisa berarti sangat luas. Bisa berarti jaga lisan ketika berbicara dengan seseorang, jaga hati karena Allah SWT maha mengetahui isi hati, jaga langkah ketika memutuskan jalan hidup, jaga mata dari penglihatan yang bukan-bukan, jaga pendengaran dari kata-kata yang bersifat mencela-menggunjing-menghardik-menggosip dan selainnya. Begitulah cara orang tua kami mendidik kami ketika berada di desa. Semua pengajaran itu merupakan terapan atau praktik dari surat Al-isra ayat 32. Jadi Allah SWT Tuhan sekalian alam memerintahkan kami “muslim” untuk menjauhi zinah. Tolong dicatat : menjauhi zinah, bukan hanya melarang melakukan zinah tapi juga perintah untuk menjauhinya.

    Larangan agama ini, di beberapa desa akan diterapkan/diejawantahkan secara berbeda-beda. Saya memiliki seorang teman yang tinggal di Gresik, Jawa Timur. Teman saya pernah bercerita bahwa di desanya tinggal. Ketika ada para pemuda-pemuda sedang ketahuan malam-malam bersamaan di tempat yang tidak semestinya maka mereka akan dinikahkan.

    Meskipun mereka didapati sedang tidak berzinah, ketika mereka ketahuan berada di tempat gelap bersama, atau berada di kamar bersama dan selainnya maka mereka akan segera dinikahkan. Hal itu merupakan sebuah gambaran hukum adat/hukum desa yang ada hubungannya dengan Al-Isra’ 32. Di Arab sendiri, tempat turunnya Al-qur’an penerapan surat Al-Isra’ 32 lebih ekstrem lagi karena para pelaku zinah akan dihukum rajam. Saya tidak akan memperjelas pembahasan rajam karena sudah dibahas oleh Mas Alifurrahman.

    Apakah Rizieq Terbukti Berzinah? Haruskah Dihukum Rajam?

    Jika kita menggunakan surat Al-isra’ 32 sebagai dasar untuk membuktikan Rizieq berzinah apa tidak maka jawabannya jelas bahwa Rizieq telah berzinah. Karena secara mata, pendengaran dia dan Firza sudah melakukan sesuatu yang masuk sebagai kategori “Walla taqrobu zinah”.

    Namun apakah mereka sudah benar-benar melakukan zinah (tindakan tidak senonoh di ranjang yang bukan suami istri) itu bukan urusan penulis dan pembaca karena yang tahu pun hanya mereka berdua dan Allah SWT TUhan sekalian alam. Jadi kesimpulannya jelas bahwa Rizieq dikategorikan sudah mendekati zinah dalam masalah kasus pornografi ini. Dia hendak mengelak dengan cara apapun, konten chat seks mereka sudah beredar sehingga menjadi omong kosong kalau mereka mengingkari terus-menerus apa yang sudah mereka perbuat.

    Apakah Rizieq harus dihukum rajam? Pertanyaan ini adalah pertanyaan hukum, saya pribadi bukan praktisi atau ahli hukum baik hukum yang berlaku di Indonesia maupun hukum islam. Namun saya ingin mencoba memberikan gambaran tentang permasalahan yang membelit Rizieq.

    Rizieq sampai detik ini masih berkilah dan enggan datang ke Indonesia, bahkan pengacaranya dengan tegas mengatakan bahwa yang seharusnya ditangkap itu yang menyebarkan konten bukan Rizieq si pelaku konten. Meskipun Firza sendiri sekarang sudah mulai kooperatif dan mengakui permasalahan yang ada. Untuk membahas permasalahan ini saya mengutip ayat Allah Surat An Nur 4-5.

    Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik ( melakukan zinah) dan mereka tidak mendatangkan 4 orang saksi, maka deralah mereka ( yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamanya.  Dan mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

    Apa hubungannya kasus diatas dengan Rizieq? Sederhana?


    Pihak kepolisian sudah memiliki bukti-bukti kuat sehingga berani menetapkan Rizieq sebagai tersangka (baca bukti dalam teks Al-Qur’an  ditafsirkan sebagai  4 orang saksi) bahasa konteks nya zaman sekarang adalah saksi dan alat bukti. Jika Rizieq merasa tidak bersalah maka dia tinggal melaporkan balik pihak kepolisian dengan begitu pihak kepolisian bisa disalahkan balik dan bisa didera 80 deraan ( konteks zaman itu) konteks sekarang mungkin bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik misalnya dalam UU ITE tidak terdapat pengertian tentang pencemaran nama baik. Dengan merujuk pasal 310 ayat (1) KUHP, pencemaran nama baik diartikan sebagai perbuatan menyerang kehromatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum.

    Apa kesimpulannya?


    Kesimpulannya adalah Rizieq harus gentle menghadapi kasus ini. Dia tidak boleh pengecut menghadapi kasus ini, dia harus ksatria sebagaimana Ahok yang sering dia sebut sebagai orang kafir. Jika dia tetap lari dari masalah layaknya orang pengecut maka sangat tidak pantas dia disebut sebagai habib, ulama, imam apalagi imam besar. Semoga para pengikutnya tersadar ketika membaca artikel ini

    So, ini bulan suci Ramadhan seharusnya Rizieq memberikan contoh bagaimana seorang ulama dalam bersikap biar Ramadhan kami bermakna dan kami dapat mengambil hikmah dari sikap ksatria seorang rizieq. Karena kepada siapa kami belajar agama dan makna bulan suci ramadha jika bukan kepada para ulama. Itulah artiramadhan bagi para ulama, umat muslim dan seluruh umat manusia di dunia.

    Semoga bermanfaat.

    Terima kasih.

    #ARTIRAMADHAN


    Penulis :  Mukhlas Prima Wardani     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rizieq Terbukti Berzinah, Haruskah Dihukum Rajam? Ini Penjelasannya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top