728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 02 Mei 2017

    Rizieq Syihab dan Kebodohan-kebodohan atas nama Agama

    Dulu, sewaktu pertama kali mendengar ceramah Rizieq yang sedang membongkar Pancasila, terus terang saya kagum. Apalagi sesudah membaca buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila karya Yudi Latief. Tingkatan intelektual Rizieq tentu di atas Yudi. Karena Yudi hanya menjabarkan esensi pancasila. Meskipun bahasanya indah dan menakjubkan. Rizieq jelas lebih top, ia mengkritisi Pancasila. Lalu membawa-bawa istilah lain yang lebih agamis, Piagam Jakarta. Islami sekali.

    Orang-orang yang tidak paham sejarah pastinya akan takjub, lalu melaknat Soekarno disertai takbir. Persis seperti yang dilakukan Rizieq. Ketika ia dan kelompok ngamukan bernama FPI berada di atas angin, Gusdur dan NU sekalipun tidak mereka anggap. Bahkan mereka cemooh. Maklum, konon waktu itu aparat memihak anjing penyalak itu. Padahal ketika itu, menurut saksi mata, Banser di Jakarta sudah siap perang. Namun upaya seperti itu selalu tidak diberi ijin.

    Membenturkan Pancasila dengan Piagam Jakarta itu adalah bentuk ketololan. Orang-orang yang tak paham sejarah menahan libido kebencian memuncak dalam dirinya. Mereka, atau sebut saja Rizieq menyalahkan Soekarno karena dianggap keliru sehingga keluar kalimat, “Ketuhanan Soekarno ada di pantat”.

    Padahal sejak perumusan Pancasila dalam sidang BPUPKI, berubah jadi Piagam Jakarta, lalu disempurnakan lagi jadi Pancasila seperti yang kita kenal, itu atas jasa Soekarno. Bung Besar selalu hadir dalam setiap proses perumusan itu, termasuk jadi ketua Tim Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta!

    Orang seperti Rizieq ini ingin tampil sebagai tokoh terkemuka, ia butuh panggung, maka ia menyerang tokoh terkemuka sekelas Soekarno. Sayangnya, ia salah menakar diri. Atau ketika ia mengejek Wiranto dengan sebutan Wiranti, namun kemudian saat terdesak mengemis minta suaka kepadanya. Dan sekarang ia melakuan hal yang sama untuk ke sekian kali. Ia tidak sadar bahwa orang-orang seperti SBY, Wiranto dan aparat yang membesarkannya hanya menganggapnya seperti gelembung sabun. Ia besar karena ditiup dan ditinggikan.

    Dan sekarang gelembung itu sudah sampai ambang batasnya meletus.

    Waham kebesaran dan kemuliaan ini juga menjangkiti pengikutnya. Mereka menganggap orang ini mulia, semulia kakeknya, bebas berbuat apa saja, langsung masuk surga. Padahal menurut Ilham Q Moehiddin, menyandarkan penasaban Rizieq dan habib lain ke Nabi itu kurang tepat. Mestinya nasabnya ke Ali, sesuai tradisi Arab. Lagipula, Nabi sendiri mengancam akan memotong tangan anaknya (Fatimah) jika mencuri. Tidak ada pengecualian dalam hukum.

    Jika intelektualitas Rizieq jelas terbukti jemblok, keberaniannya juga ternyata tidak ada. Orang yang disebut sebagai Raja Singa (Sic!) oleh kelompoknya itu, ternyata bermental kerupuk. Ia mangkir dari panggilan Polisi. Tidak hanya itu, ia dan pendukungnya membuat lelucon tentang teror sniper. Orang lain mungkin akan tertawa, tapi bagi pengikutnya, kekonyolan itu adalah fakta. Mereka juga membawa-bawa Islam sebagai tameng. Islam sedang diserang.

    Kebodohan semacam ini juga baru ditunjukkan satu akun Facebook bernama Ida. Saya tidak tahu siapa dia, atau apakah akun itu nyata, tapi dulu juga pernah ada laki-laki yang punya pikiran serupa. Ida bahkan mempersembahkan dirinya, dengan pernyataan memilukan, “Jangankan hanya Firza, tubuh saya pun rela saya berikan untuk Habib Rizieq dan pengikutnya…”

    Pertanyaannya kemudian, kenapa orang-orang ini kehilangan kewarasan begitu parah? Pengkultusan Rizieq bahkan melebihi Nabi sendiri. Rizieq diperbolehkan menabrak aturan, dianggap tidak berdosa, dapat jaminan langsung masuk sorga. Saya kira kebodohan ini terjadi karena budaya berpikir kritis tidak diterapkan. Orang-orang terpikat jubah, logat arab, sorban, dan tentu saja nasab. Anehnya, habib sungguhan seperti Gusdur dan Quraisy Shihab malah dimusuhi.

    Istilah agama adalah candu sangat tepat diterapkan di sini. Orang-orang ini sakaw agama, mabuk dalam kondisi yang parah, mereka bahkan kesurupan Tuhan.

    Masa kejayaan Rizieq sebenarnya telah selesai. Dan ia mengakhiri itu dengan cara-cara pengecut. Ia terbelenggu oleh waham kebesaran yang ia ciptakan sendiri. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi sebaik-baik orang bersalah adalah mengakui kesalahan dan bertobat. Bukan kabur dan mengungsikan keluarga ke luar negeri dengan dalih diteror. Prilaku Rizieq ini tentu memalukan habib yang lain. Sudah mesum berdrama pula.

    Orang-orang rela menjual agama demi keuntungan yang sedikit. Efeknya, lahir kebodohan-kebodohan luar biasa atas nama agama yang membuat orang-orang waras ingin salto tujuh kali ke belakang sambil teriak, “Take beer…!”




    Penulis :  Kajitow Elkayeni  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rizieq Syihab dan Kebodohan-kebodohan atas nama Agama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top