728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 31 Mei 2017

    Prof Mahfud MD: “Indonesia yang Pancasilais itu sudah berarti Khilafah”

    Harus diakui, acara ILC di TV One semalam (30-05-2017) yang bertajuk “ISIS sudah di Kampung Melayu” sangat sarat dengan informasi yang penting dan cukup mencerahkan. Khususnya bagi masyarakat umum yang masih bingung soal Terorisme dan cikal bakal aneka paham radikal.

    Saking banyaknya yang menarik, saya sampai bingung mengangkat yang mana. Namun berikut inilah yang bisa dirangkum dengan ulasan sesuai pemahaman dan ingatan saya setelah menonton.

    Napi Bom Bali, Ali Imron, menyatakan bahwa dengan mengetahui banyaknya kaum teroris yang ada di Indonesia serta kemampuan mereka maka “Bom Kampung Melayu itu hanyalah aksi kecil” mungkin masih seperti aksi percobaan.

    Menurut Imron polisi atau Densus dan BNPT atau NU dan Muhammadiyah masing-masing takkan bisa membendungnya kalau tidak bersatu dengan semua elemen masyarakat.

    Sebelumnya Sofyan Tsauri telah mengupas dasar paham teroris ISIS. Dia menjelaskan bahwa banyak yang terjangkiti paham radikalisme Takfiri yang mengkafirkan semua yang bukan sepaham karena dalam kitab-kitab rujukan mereka yang radikal menyatakan bahwa semua yang ragu akan kekafiran yang kafir adalah kafir juga.

    Dengan mengutip pendapat ulama, menurut Sofyan pada asalnya kaedah itu untuk sosok-sosok yang jelas kekafirannya seperti Fir’aun yang telah mengaku tuhan, namun mereka mengaplikasikan pada semua yang rela dengan pemerintahan selain Islam. Maka hujatan itu membuat rantai mata kekafiran yang mencakup mayoritas muslim dan itu sangat berbahaya.

    Menurut Sofyan Pendekatan dan penyadaran terhadap kaum teroris Takfiri haruslah datang dari dalam grup mereka sendiri. Karena sehebat apapun ulama yang selain dari kalangan mereka takkan dihiraukan. Walau mendatangkan dalil-dalil kuat pun takkan mereka anggap. Baik itu dari NU, Muhammadiyah, MUI atau ulama manapun.  Adapun ketika evaluasi itu datang dari sosok seperti Usama bin Laden saat menyatakan ada penyusup yang yang menyalahkan makna jihad maka barulah mereka bisa intropeksi.

    “Disharmony antara Ulama dan Umaro (pejabat) harus segera dihentikan. Indonesia harus mampu bertahan menjadi negeri yang kondusif. Karena kalau ada konflik dan kekacauan maka disitulah terorisme akan bebas bergerak.”

    Mantan Kepala BNPT Ansyad Mbai menjelaskan: “Ada home grown terrorism. DPR jangan merubah fokus. Bukannya lekas membantu membuat UUD yang memudahkan aparat untuk menghadang teroris malah mengarahkan kekuatan ke pemerintahan.

    “Untuk melawan paham takfiri kita membutuhkan Ulama dan kementrian agama disitu.” Katanya.

    Muhammad Syafi’i fari Komisi DPR-RI-F Gerindra menyangkal tuduhan bahwa DPR mengulur untuk mematangkan UU Anti Teror. Karena baru semenjak April 2016 hal itu diangkat jadi bukan bertahun-tahun. Itupun juga rapat seminggu dua kali terus berlangsung.

    Begitupun juga Aboubakar AlHabsyi dari Komisi DPR-RI-F-PKS menyanggah kritikan Ansyad Mbai. Dia tegaskan bahwa DPR terus sibuk bekerja dan memproses dengan hendak memastikan supaya jangan sampai ada pihak yang terzalimi oleh UU yang akan diberlakukan. DPR Komsis hukum bahkan baru saja kembali dari London untuk mempelajari UU perihal Terorisme.  Kata Aboubakar, Pertemuan swring ditunda karena pemwrintah masih mau merapikan yang di dalam dahulu. Bahkan soal makna ‘terorisme’ saja belum tuntas. Jadi konsekuensinya DPR yang selalu kebagian tidak enaknya. Seakan melambat-lambatkan. Gak ada itu melambat-lambatkan. Ayo adu cepat dengan kita.”

    Yang paling mengejutkan adalah teori Prof Mahmud MD. Kata dia; “Semakin ingin mengatakan bahwa di Islam itu ada ajaran Khilafah maka semakin jelas hal itu tidak ada dalam Islam. Contohnya Ada Almawardi tetapi ada juga Almawdudi, Ada Alafghani dan ada Alghazali, semuanya mempunyai konsep yang bertentangan soal Khilafah. Sebenarnya Indonesia yang pancasilalis itu sudah bentuk khilafah yang sebagaimana dalam agama disebut Mitsaqan Ghalidza (Janji Yang disepakati) dan dasar ideology.”

    Jadi menurutnya bernegara itu wajib. Siapapun yang menentang negara pancasila itu sah dilawan dan dihukum. Mempunyai negara itu wajib hukumnya dan bentuknya boleh macam-macam.
    Kalau mau buat dengan nama Islam maka akan repot sesuai pandangan yang mana karena masing-masing mazhab mempunyai pandangan UUD yang berbeda.

    Prof Mahfud juga menegaskan bahwa “yang sudah semestinya diperjuangkan itu substansi nilai-nilai islam yang mulia seperti keadilan dan semacamnya bukan simbol-simbolnya.”

    Acara ditutup oleh Karni Ilyas yang membacakan riwayat dari Sahih Bukhari tentang seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,

    “Apakah saya boleh ikut berjihad?”
    Rasulullah: “apakah kamu masih punya orangtua?
    “Iya”
    “Kalau begitu jihadmu adalah mengurus orang tuamu!”


    Penulis :   Moudy Kondang    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Prof Mahfud MD: “Indonesia yang Pancasilais itu sudah berarti Khilafah” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top