728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 17 Mei 2017

    Presiden Jokowi TAK PERNAH Meninggalkan Basuki Sendirian!!

    Prolog

    Setelah keputusan Majelis Hakim yang menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun dan langsung ditahan, muncul reaksi beragam dari para pendukung pak Basuki terhadap Presiden Jokowi yang dianggap ‘diam saja’. Muncul anggapan Presiden meninggalkan pak Basuki di saat pak Basuki butuh dukungan penuh.

    Presiden tak pernah meninggalkan pak Basuki sendirian. Apa yang sedang dialami oleh pak Basuki sekarang ini, itu sudah pernah dibicarakan berdua. Presiden Jokowi dan pak Basuki sudah pernah membicarakan kasus pak Basuki termasuk akibat terburuk yang mungkin terjadi.

    Kapankah percakapan Presiden Jokowi dan pak Basuki terjadi?

    Bagi para pendukung pak Basuki, pahami baik-baik pernyataan pak Basuki di bawah ini:

        Calon gubernur petahana Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan ada pihak yang menyuruh dia mundur dari Pilgub DKI 2017. Siapa gerangan yang menyuruh Ahok mundur?

        Ahok menceritakan informasi itu datang dari Presiden Jokowi. Jokowi sendirilah yang mendengar saran seorang teman agar Ahok mundur.

        Mundurnya Ahok dinilai bisa jadi jalan keluar di tengah panasnya situasi politik saat ini. Namun Ahok menolak saran itu, Ahok meyakini masyarakat sudah dewasa dan demokrasi di Indonesia juga semakin matang

    sumber.

    Kita tidak tahu kapan tepatnya Presiden menyampaikan ‘saran seorang teman’ tersebut kepada pak Basuki. Dan siapa si pemberi saran, juga tidak penting kita ketahui saat ini. Yang kita tahu Pak Basuki menceritakan kembali percakapannya dengan Presiden, kepada media, pada tanggal 10 November 2016. Kesimpulan : kita bisa memastikan bahwa percakapan tersebut terjadi sebelum pak Basuki akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, pada 16 November 2016.

    Ada kemungkinan percakapan tersebut terjadi pada tanggal 24 Oktober 2016. Pada hari itu pak Basuki bertemu Presiden untuk pamit karena akan cuti untuk kampanye mulai 28 Oktober 2016. Dari Istana Merdeka, pak Basuki menuju ke Bareskrim untuk melakukan klarifikasi kasusnya.

    Jadi kemungkinan besar, kedatangan pak Basuki ke Istana Merdeka, bukan hanya untuk pamit akan cuti kampanye. Tujuan utama adalah membicarakan ‘saran seorang teman’ agar pak Basuki mundur dari Pilgub DKI Jakarta 2017. Presiden dan Pak Basuki membicarakan semua opsi dan konsekuensi dari setiap pilihan.

    Pak Basuki Siap Dipenjara Demi NKRI Dan Demokrasi

    Pak Basuki dengan sadar memilih untuk tetap pada keputusannya dan tidak mau mundur dari Pilgub DKI Jakarta 2017. ‘Saran seorang teman’ itu lebih tepat adalah ‘ancaman’ yang akan terjadi jika pak Basuki tidak mundur dari Pilgub DKI Jakarta 2017. Tentunya ‘ancaman’ akan ada demo lanjutan dari demo 14 Oktober 2017 sudah menanti. Itu bisa berakhir buruk, bermuara pada pak Basuki dijatuhi hukuman penjara. Pak Basuki memilih untuk tidak tunduk pada teror, pada pemaksaan kehendak dari pihak-pihak tertentu. Pak Basuki sudah ikhlas menerima segala konsekuensi (termasuk dipenjara) demi NKRI, demokrasi, dan terwujudnya rencana-rencana Presiden Jokowi atas DKI Jakarta (kita tentu tidak lupa bahwa Presiden sebelumnya adalah Gubernur DKI Jakarta).

    Pengorbanan-Pengorbanan Presiden Yang ‘Tanpa Kata’

    Presiden Jokowi dan Pak Basuki sadar akan kemungkinan terjadinya demo-demo susulan itu. Jadi, sebenarnya tanpa kita sadari, Presiden Jokowi sudah ‘berkorban’ atas keputusan yang dilipih pak Basuki. Mengapa?

    Karena Presiden Jokowi bisa saja memerintahkan Pak Basuki untuk mundur dari Pilgub DKI Jakarta 2017. Pak Jokowi bisa menjanjikan posisi menteri kepada pak Basuki, sebagai ganti melepas Kursi DKI1. Intinya : Presiden Jokowi dalam posisi bisa meminta pak Basuki untuk tidak membuat gaduh, sehingga pembangunan bisa berjalan lancar.

    Kita tahu bagaimana Presiden ‘terpaksa’ membatalkan kunjungan ke Australia, demi memastikan keadaan dalam negeri kembali normal. Kita juga tahu bagaimana Presiden melakukan maraton silaturahmi dan pertemuan-pertemuan, baik dengan para elit politik maupun dengan para ulama pasca 411.

    Presiden ‘bertaruh nyawa’ datang untuk sholat Jum’at bersama peserta aksi 212. Ingat Presiden tidak ‘mengeluh’, tidak cur-hat kemana-mana karena sudah dibikin pontang-panting oleh demo berjilid-jilid itu. Kita tentu masih ingat bagaimana Presiden tetap memberi simbol, sinyal, tanda, kesan atau terserah mau disebut apa: ‘Presiden menginginkan Pak Basuki menjadi DKI1’.

    sumber : liputan6.com

    Bagi penulis, semua yang dilakukan Presiden Jokowi, bukan semata-mata karena posisi Beliau sebagai seorang Presiden. Kerja keras Presiden adalah suatu bentuk penghargaan kepada keberanian perjuangan pak Basuki. Tidak percaya dengan kata saya? Silahkan tanya kepada pak Basuki. Atau silahkan tunggu biografi Presiden Jokowi yang entah kapan (pasti) akan terbit.

    Kita harus mulai belajar memahami bahasa ‘tanpa kata’ Presiden kita. Mari kita pahami wejangan Dalai lama ini : ‘Kadang-kadang seseorang membangun citra dinamis dengan mengatakan sesuatu, dan kadang seseorang bisa membangun citra sangat dinamis tersebut dengan ‘tanpa kata’  (by remaining silence). Presiden ‘Ndeso’ kita tercinta ini sangat piawai berkomunikasi ‘tanpa kata’.

    Mengapa Presiden Joko Widodo ‘rela’ mempertaruhkan jabatan Beliau sebagai Presiden untuk seorang Basuki Tjahaja Purnama ? Karena yang diperjuangkan pak Basuki, bukan hanya kursi DKI1, tetapi terutama kelangsungan program-program Presiden sendiri. Program-program Beliau saat masih menjadi Gubernur Jakarta.

    Lagi pula, kesediaan pak Basuki mundur dari Pilgub DKI Jakarta sama artinya Presiden Jokowi dan pak Basuki sudah tunduk kepada cara-cara teror, intimidasi, dan pemaksaan kehendak, bukan? Apakah kita setuju Presiden Jokowi dan pak Basuki memenuhi tuntutan oknum yang mengincar kursi DKI1, dengan menggunakan senjata pengerahan massa? Tidak, bukan?

    Hikmah

    Maka marilah kita ‘berbangga diri’ menjadi bagian dari perjuangan Presiden Jokowi dan pak Basuki, walaupun saat ini bisa dikatakan kita ‘kalah’ melawan cara-cara pengerahan massa tersebut. Ada hikmah di balik peristiwa ini …. (Pak JK adalah sang pemenang pilkada DKI Jakarta)

    Kini kita sadar bahwa Presiden Jokowi sudah berjuang keras membangun bangsa ini. Pembangunan  yang bukan hanya fisik, tetapi terutama pembangunan akhlak, moral, dan etika dalam berpolitik. Dengan langkah berani, tegas, dan genuine Presiden sudah menggunakan  pak Basuki – si Nemo, untuk mengubah ‘arah bergerak’ berpolitik.

    Karena saat ini elit politik masih dipenuhi oleh oknum-oknum yang suka bermain kotor, oportunistis, dan menghalalkan segala cara; maka nampaknya Presiden sudah kalah dalam pertarungan ini. Buktinya jelas : pak JK berhasil memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017, dan Pak Basuki dijatuhi hukuman penjara 2 tahun, serta langsung ditahan (yang ada kemungkinan penahanan tersebut tidak sah/wajar).

    Ada sisi positif dari keputusan tidak adil Majelis Hakim.

    Kesadaran ‘silent Majority’ bahwa mereka harus bergerak, bersuara dan melawan adalah sebuah kemenangan besar, bukan? Ini kemenangan Presiden Jokowi melalui pak Basuki, yang tidak mungkin bisa dipahami oleh orang-orang macam pak JK, Fadli Zon, Fahri Hamzah dan para oknum penjilat mereka.

    Kesadaran rasa Kebangsaan yang benar, mendapat momentumnya berkat ketidakadilan yang dialami oleh pak Basuki. Mari kita tidak patah semangat dan terlalu fokus kepada realitas yang mudah terlihat saja. Sekarang saatnya kita melanjutkan perjuangan pak Basuki dengan tetap mendukung Presiden Jokowi.

    Penutup

    Musuh utama yang harus kita berantas adalah korupsi. Tanpa korupsi, oknum koruptor tidak punya dana untuk membayar ormas-ormas radikal. Dan ‘silent Majority’, juga harus makin berani bersuara mendukung Polri dan NU menumpas radikalisme, terorisme, dan intoleransi demi NKRI, PANCASILA, BHINNEKA TUNGGAL IKA, dan UUD 1945

    Mari LAWAN dengan tanpa kekerasan (AHIMSA), sampai pak Basuki divonis bebas karena sejatinya tidak ada penistaan agama dalam kasusnya.

    Salam i’m nobody alias kulo sanes sinten sinten

    Penulis :  Ariati Indriani    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Presiden Jokowi TAK PERNAH Meninggalkan Basuki Sendirian!! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top