728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 24 Mei 2017

    Pilkada dan Cerminan Rakyat Satu Golongan di Negara Bhineka Tunggal Ika

    Pilkada DKI mungkin sudah berjalan beberapa waktu yang lalu namun ada banyak hal yang bisa diambil pelajaran dan ke depannya. Salah satunya tentang bagaimana calon pemilih memlih pemimpinnya. Pilkada DKI lalu yang dimenangkan oleh pasangan Anies Sandi sempat diwarnai beberapa hal yang kontroversial mulai Ahok yang kepleset lidah, demo berseri – seri layaknya cinematic universe, kampaye sara dan intimidasi seperti pelarangan menyolatkan jenazah , label munafik bagi orang seagama yang memilih pemimpin non muslim, hingga kampanye pribumi vs non pribumi.

    Dari beberapa hal itu pihak – pihak ada yang menghembuskan kampanye politik identitas berdasarkan agama dan ada juga oknum yang melakukan kampanye hitam melalui provokasi sentimen sara dan ujaran kebencian entah melalui sosial media, demonstrasi dan sejenisnya berhasil menggiring opini calon pemilih menengah kebawah dan mungkin menengah keatas lainnya yang masih sulit berpikir kritis atau mengedepankan emosi ketimbang logika untuk memilih pasanganya berdasarkan latar belakang atau identitasnya yaitu agama dan juga etnisnya. Kedua hal tadi berkolaborasi dan menjadi senjata yang sangat ampuh dalam menghancurkan lawan politik yang beda agama, etnis dan tentunya beda partai politik.

    Hal ini tentu menggambarkan akan masyarakat yang masih sulit berpikir rasional dan mengikuti kampanye politik secara sehat. Jika seperti ini terus pemimpin yang berbeda agama, etnis dan partai politik namun punya kemampuan yang bagus, jujur, anti korupsi, dan bersedia melayani rakyat sepenuh hati tentu akan habis duluan bahkan tidak akan mendapatkan kesempatan sama sekali atau mungkin bisa dihabisi oleh lawan politik juga yang memanfatkan momen tertentu melalui oknum tertentu.

    Tentu dalam negara yang Bhineka Tunggal Ika ini setiap orang punya hak dan bebas menggunakan hak pilihnya tanpa intimidasi atau paksaan atau cacian atau label negatif seperti orang yang dituduh munafik karena memilih pemimpin non muslim karena punya skill bagus dan anti korupsi namun uniknya ketika mereka melabeli, mencaci dan mengintimidasi orang yang memilih pemimpin non muslim itu, mereka dengan santai mengatakan itu hanya kegiatan untuk mengingatkan sesama. Yah mengingatkan sesama dengan cacian itu benar – benar luar biasa kurang ajarnya.

    Dengan adanya pemisahan atau sekat pembatas karena kelompok yang ingin memilih karena faktor identitas atau menggunakan politik identitas agama tentu akan semakin memisahkan dan membatasi warga – warga yang berbeda etnis, suku, agama, antar golongan dan lain sejenisnya.

    Dalam politik pecah belah atau divide et impera hal seperti ini suatu saat akan memudahkan pihak – pihak lain untuk mengacau sebuah tempat dan menjadi konflik karena setiap golongan yang beda agama dan sejenisnya tidak berbaur dengan baik, timbul curiga berlebihan dengan yang lain, tidak punya wawasan budaya lain sehingga mudah untuk menelan informasi palsu yang sangat merugikan apalagi kalau tidak kritis.

    Apalagi kalau tiap hari sering mendengar atau mendapatkan informasi yang berbentuk ujaran kebencian entah dari sosial media, ceramah atau acara lainnya seperti kampanye pribumi vs non pribumi dan lain sejenisnya yang terus didengungkan sehingga menjadi kebenaran dan hal yang wajar untuk membenci sesama cuma karena beda agama, etnis atau latar belakang lainnya.


    Ini bukanlah hal yang wajar, cerminan rakyat satu golongan entah agama atau etnis dan sejenisnya yang memilih pemimpin karena kesamaan agamanya atau sukunya bukanlah hal yang normal di negara yang beragam agama, etnis dan lain – lain. Sudah seharusnya kita membentuk identitas sebagai satu kesatuan rakyat Indonesia, bukan rakyat satu golongan tertentu. Tentu tidak masalah mencintai agama, suku atau budaya sendiri namun ketika sudah masuk ke ranah politik dan memaksakan orang dalam golonganya untuk memilih pemimpin karena kesamaan agama, suku dan lain – lain, di sisi lain merendahkan agama, suku, budaya lain dan juga menjelekkan orang dalam golongannya atau kelompoknya karena tidak memilih sesuai keinginan mereka yaitu pemimpin yang seagama, sesuku, atau separtai politik, ini akan menjadi bahaya sendiri dalam membangun kesetaraan dalam keragaman di negara Indonesia ini.

    Dan jika dibiarkan tentu bukan tak mungkin jika suatu saat timbul konflik kecil atau besar karena pembelaan suku, agama atau identitas lainnya. Mereka yang dipisahkan secara frontal karena identitas membuat pihak yang berbeda menjadi alien atau sosok asing yang dicurigai karena faktor latar belakangnya. Dan jika hal seperti ini terus dibiarkan ke daerah lain, bukan tak mungkin sekar pemisah akan semakin kentara dan dalam hal ini pihak yang cerdas, rasional dan kritis tidak boleh diam saja, harus selalu mendengungkan kebebasan berpendapat dan menggunakan hak pilih dalam politik agar mereka sadar bahwa memilih karena berbeda pandangan itu tidak masalah, yang bermasalah adalah kampanye hitam, radikalisme, bigot, chauvinisme, etnosentrisme dan stereotypekan manusia.




    Penulis :  Dy Pradana   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pilkada dan Cerminan Rakyat Satu Golongan di Negara Bhineka Tunggal Ika Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top