728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 19 Mei 2017

    Perang Melawan ‘Narkoba’ Jenis Baru Bernama ‘Hoax’

    Fenomena ini memang baru mulai menjangkit pada masa kampanye Pilpres 2014 yang lalu, tetapi efek merusaknya luar biasa dan berdampak besar dalam kehidupan bermasyarakat. Saat itu, negara ini dihadapkan dengan merebaknya berita-berita fitnah dan hoax melalui internet dan media  sosial. Tentu saja hal tersebut dibuat dengan maksud menghancurkan nama baik dan karakter pihak lawan politik, dengan satu tujuan memenangkan pertarungan Pilpres. Walau tak selamanya membuahkan kemenangan, namun cara ini terbukti cukup efektif.

    Meskipun Pilpres 2014 sudah berlalu, ternyata produksi dan distribusi berita hoax sama sekali tidak berkurang apalagi berhenti. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa permintaan konsumen akan berita hoax ini rupanya sangat tinggi. Para politisi busuk perlu menggunakannya untuk merusak citra para pejabat yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka.

    Di sisi lain, orang-orang yang telah terbiasa mengkonsumsi berita hoax tidak pernah puas untuk terus mencari dan menggali berbagai sumber berita hoax agar mereka bisa membagikannya kepada para pecandu lainnya. Mereka berlomba siapa yang tercepat mem-posting dan menyebarkan berita hoax. Dan bahkan siapa yang dapat membumbuinya dengan ujaran-ujaran kebencian yang membuat orang yang membacanya ikut terpengaruh dan ikut ditumbuhi benih-benih kebencian.

    Mengingat masifnya peredaran berita hoax melalui media sosial yang dapat tersebar dengan sangat cepat ke berbagai lapisan masyarakat dan berbagai kalangan usia, mulai dari tua sampai anak-anak, serta dampak merusak yang diakibatkannya pada diri pribadi maupun tatanan kehidupan berbangsa, maka di sini penulis meng-analogi-kan berita Hoax sebagai ‘Narkoba’.

    Dalam peredaran berita hoax ini mungkin kita perlu mengklasifikasikan para pelaku yang terlibat sebagaimana mata rantai peredaran narkoba pada umumnya, sebagai berikut:

        Produsen, yaitu portal-portal dan situs-situs yang mencari bahan, merancang, dan menghasilkan berita-berita hoax.
        Bandar, yaitu agen-agen utama penyebaran berita hoax, mereka bertugas menyebarkan seluas-luasnya lalu ditambahi bumbu ujaran kebencian. Contoh yang paling populer sampai saat ini tentu saja Jonru Ginting yang memiliki follower di Facebook mencapai sejutaan orang.
        Pengedar, yaitu orang-orang yang membagikan berita-berita hoax tersebut agar mempengaruhi lebih banyak orang.
        Pemakai, yaitu para penikmat berita-berita hoax yang ingin memuaskan emosi-emosi negatif dalam dirinya.

    Dalam dunia peredaran narkoba, ada kecenderungan bahwa yang awalnya hanya pemakai kemudian mencoba menjadi pengedar. Lalu dengan semakin berkembangnya jaringan, meningkat lagi menjadi bandar, bahkan produsen.

    Demikian juga halnya dalam peredaran berita hoax. Kebanyakan dimulai dari hanya icip-icip ikut menikmati berita hoax. Lama-kelamaan dengan semakin berkuasanya berita hoax dalam pikiran, membuat semakin meningkatnya ketergantungan mereka terhadap hal ini. Mereka pun mulai menjadi pengedar. Karena mereka kecanduan sensasi yang ditimbulkan oleh rasa kebencian, iri, dengki, dan penyakit hati lainnya, yang terasa bergelora di dada, membuat adrenalin melonjak berkali-kali lipat.

    Setiap mereka membagikan berita hoax yang kemudian disukai, dibagikan, dan dikomentari oleh para korban baru, maupun sesama pecandu, dan dipanasi oleh para bandar pengedar, membuat mereka semakin menggandrungi aktivitas ini. Mereka merasa hebat, merasa mendapat pengakuan, merasa menjadi populer dan terkenal secara instan hanya dengan modal menyebarkan berita fitnah dan ujaran kebencian.

    Ketika kasus seperti Indrisantika Kurniasari yang menghina Presiden Jokowi saat mengenakan pakaian adat Maluku mendapat perhatian publik, ada sebagaian orang yang berpendapat bahwa dia hanyalah korban dari penyebaran berita hoax. Saya merasa kurang setuju dengan pendapat ini. Sebagaimana pengedar narkoba tidak dapat menyatakan dirinya hanya korban dari rayuan teman yang dulu mengajak iseng mencoba narkoba.

    Ibu ini bukan lagi dalam tahap sebagai pemakai, tetapi telah menjadi pengedar bahkan bandar berita hoax karena sudah menambahkan dengan hujatan dan kebencian. Sebagai manusia yang diciptakan dengan dibekali otak dan akal budi, tentu setiap orang harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan dan dikatakannya. Orang yang telah dewasa di mata hukum tentu harus berani dihadapkan ke muka hukum jika berani melawan hukum tersebut.

    Dengan meningkatnya kesejahteraan perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya, membuat hampir semua orang dan kalangan saat ini telah memiliki smartphone. Ditunjang dengan pembangunan koneksi internet di Indonesia dengan sinyal yang semakin baik dan kencang, menjadikan hampir setiap orang akrab bergaul dengan facebook, whatsap, bbm yang tidak pernah lepas dari keseharian. Para buruh, penjual sayur, pengemudi ojek, pembantu rumah tangga, bahkan para remaja dan anak-anak banyak yang sudah menenteng smartphone dalam genggaman.

    Kebanyakan dari kita mungkin sepakat bahwa yang rentan menjadi korban berita hoax adalah mereka yang kurang mengenyam pendidikan formal, maupun yang kurang pengetahuan agamanya. Mereka biasanya baru berusaha mengenal pendalaman agama melalui internet. Tapi mirisnya, kebanyakan justru terjerumus dalam situs-situs ajaran radikal yang menjadi produsen berita hoax.

    Meskipun tidak terbatas pada kalangan tersebut saja, oknum-oknum dengan pendidikan tinggi dan segambreng gelar sarjana pun kerap membagikan berita hoax. Jadi kita jangan sampai terkecoh dengan ‘subjek’ penyebarnya siapa, melainkan harus fokus pada ‘objek’ berita apa yang dibagikan. Cek dan ricek lagi dengan berbagai sumber berita valid dan terpercaya, tetap harus dilakukan. Kemalasan dan keengganan menyelidiki kebenaran berita sebelum membagikannya, merupakan penyebab utama berita hoax dengan sangat mudah berkembang biak dan menyebar kemana-mana bak jamur di musim penghujan.

    Bangsa Indonesia sejak zaman dahulu telah memiliki nilai-nilai luhur budaya bangsa seperti sopan-santun, ramah-tamah, tenggang rasa, toleransi, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Tetapi dengan euforia media sosial saat ini, membuat kebanyakan dari kita tidak siap dan menjadi kehilangan pegangan.

    Nilai-nilai etika dan sopan santun terlepas lalu tertinggal saat kita berpetualang di dunia maya. Di dunia nyata mungkin kita akan berpikir ratusan kali sebelum mengeluarkan caci-maki dengan kata-kata kotor dan kasar. Tetapi di dunia maya banyak yang lupa daratan, jari-jari dengan begitu mudah mengetikkan kalimat kotor, kasar, fitnah, dusta, dan berbagai hal buruk lainnya.

    Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja karena alam bawah sadar sudah terlalu banyak terkontaminasi dengan maraknya berita-berita fitnah dan hoax yang dipenuhi hujatan dan ujaran kebencian. Berita hoax ini bekerja meracuni dan merusak pemikiran serta cara kerja otak, juga menggerogoti kesehatan jiwa dari para pecandunya.

    Kita sering kali dibuat tercengang menyaksikan teman-teman bahkan sahabat yang sudah dikenal sejak kecil juga ikut membagikan berita hoax. Saat ditegur secara baik-baik, mereka justru menjadi beringas dan menyerang dengan kasar. Hal ini tentu saja membuat kita memilih memutuskan pertemanan di media sosial yang juga berarti hancurnya persahabatan di dunia nyata.

    Mereka seperti hidup di dunia yang berbeda, yang sering kita sebut dengan ‘bumi datar’. Ini terjadi karena di dunia mereka memang informasinya serba terbalik. Apa yang tidak ada, diciptakan menjadi fitnah yang nyata. Sedangkan informasi yang benar dan akurat justru mereka cap hoax.

    Sejak kampanye Pilpres 2014 lalu, mereka bahkan mengharamkan sumber berita yang profesional, akurat, dan terpercaya. Sebut saja media seperti Kompas, Detik, Tribunnews, MetroTV, dan media mainstream lainnya, malah mereka anggap sebagai pembuat berita palsu. Hal ini memang diajarkan oleh portal-portal berita yang menjadi panutan mereka untuk mencegah pemikiran pengikutnya direhabilitasi.

    Karena sudah terbiasa tidak menggunakan etika dan sopan santun di media sosial, tentu saja perilaku ini terbawa dalam kehidupan nyata sehari-hari. Perpecahan dalam masyarakat sudah semakin terlihat dan terasa. Orang-orang sampai anak kecil sekalipun, mulai bersikap dan berkata-kata rasis terhadap sesamanya. Bahkan peristiwa perusakan dan pembakaran vihara-vihara di Tanjung Balai berawal dari provokasi di media sosial Facebook.

    Memang usaha swadaya masyarakat untuk menghambat penyebaran berita hoax sudah mulai dilakukan. Kita dapat melihat banyak muncul akun-akun yang berupaya mengklarifikasi berita hoax dan meluruskan berita yang sebenarnya terjadi. Pemerintah pun telah melakukan upaya pemberantasan seperti Menkominfo yang memblokir portal-portal penghasil berita hoax. Tetapi ternyata upaya ini belum banyak membuahkan hasil, karena mereka masih bisa membuat situs baru.

    Kita begitu kagum dan bangga dengan ketegasan Presiden Jokowi yang sejak menjabat langsung menyatakan perang terhadap narkoba. Jokowi memerintahkan eksekusi terhadap para terpidana mati kasus narkoba. Beliau sama sekali tak gentar dengan berbagai tentangan dari dalam maupun luar negeri. Bahkan tekanan dari kepala-kepala negara lain yang sampai mengancam memutuskan hubungan diplomatik, tidak sanggup membuatnya mundur selangkah pun.

    Saat ini kita sangat mengharapkan ketegasan yang sama dari Presiden Jokowi untuk menyatakan perang terhadap berita hoax. Bukan lagi hanya berupa imbauan atau teguran, tetapi berupa hukuman pidana yang seberat-beratnya. Vonis 8 bulan penjara kepada Pemred dan penulis Tabloid Obor Rakyat, yang sejak kampanye Pilpres 2014 gencar membuat fitnahan-fitnahan busuk kepada Presiden Jokowi, sama sekali tidak memberikan efek jera. Pemblokiran situs-situs penyebar hoax oleh Menkominfo juga belum cukup efektif.

    Supremasi hukum sangat dibutuhkan saat ini. Pihak kepolisian dan kejaksaan tentu lebih paham pengenaan pasal-pasal berlapis yang dapat membuat para pelaku penyebaran berita hoax ini dituntut hukuman seberat-beratnya. Selanjutnya kita mesti mengawal vonis yang dijatuhkan hakim agar hakim selalu berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Untuk itu kita menuntut Reformasi Peradilan seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan sebelumnya, di sini.

    Menurut saya pribadi, hukuman belasan tahun penjara mungkin bisa membuat para produsen beserta bandar berita fitnah dan hoax untuk pikir-pikir lagi sebelum merancang, membuat, dan menyebar berita-berita hoax. Dengan demikian, bisnis berita hoax yang mungkin beromzet miliaran rupiah, yang diperoleh dari para sponsor yang berkepentingan, bisa semakin berkurang, redup, dan mati.

    Penulis : Lina Lotus    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Perang Melawan ‘Narkoba’ Jenis Baru Bernama ‘Hoax’ Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top