728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 24 Mei 2017

    Perang Komunikasi: Pembelajaran Kekalahan Ahok

    Dari tahun lalu hingga akhir pemilihan, hampir setiap bulan saya mengirim serangkaian email kepada Bapak Basuki Tjahja Purnama (Ahok) untuk memberikan saran terutama dalam masalah messaging dan membangun narasi di media terutama setelah kasus Al Maida dan Buni Yani di Pulai Seribu. Ahok memang merupakan pemimpin yang sangat transparan dan merespon cepat jika kita memiliki keluhan atau saran mengenai permasalahan Jakarta. Saya sewaktu itu menyarankan pak Ahok, untuk bergerak cepat dalam memadamkan permasalah PR (Public Relations)  yang dihadapi di Pulau Seribu serta eskalasi gerakkan Bela Islam, Ditengah-tengah eskalasi skandal Al Maida saya bahkan sampai menyarankan jika perlu, Pak Ahok harus merombak tim komunikasi kampanyenya, karena permasalahan ini diperpanjang dan ini bisa menjadi hambatan bagi citranya dan proses kampanye untuk Pilkada 2017. Saya juga sempat menyarankan untuk menarik juru bicara lebih banyak dari kalangan putra daerah, seniman maupun tokoh betawi, karena selama ini jika pak Ahok lebih terlihat diwakilkan dari kalangan artis atau pemerintah, kesannya sangat elitis. Email-email tersebut semua dibalas dalam salaman terimakasih, namun seperti kita lihat dari hasil Pilkada 2017, tim komunikasi Ahok gagal dalam melawan merebaknya fitnah-fitnah dan isu Almaidah yang dibesar-besarkan melalui media sosial dan berita online.

    Walaupun permainan elit yang dikatakan sebagai faktor yang cukup besar dibelakang kekalahan Ahok, memiliki tim komunikasi yang kuat dalam mempertahankan pesan, membangun narasi ataupun pencitraan dan meredam kritik, fitnah serta pencemaran nama baik di publik, tetap menjadi kunci kemenangan dan ini sepertinya yang masih minus dalam proses kampany Ahok di Pilkada 2017 kemarin. Lihat saja calon Dark Horse yang akhirnya memenangkan Pilkada DKI  2017, pak Anies dan Sandiaga Uni. Keduanya merupakan kaum Islam yang sangat moderat, kapitalis dan memiliki pandangan yang cenderung ke Barat. Keduanya sangat pro bisnis, pro pasar bebas dan bertolak belakang dari segala unsur ke-Islaman yang dibangun selama masa kampanye. Namun, selama proses kampanye mereka  mengarahkan pencitraan dan narasi kampanye ke arah yang lebih religius dan bahkan menggunakan slogan-slogan “Coblos Pecinya” sebagai simbol yang mudah bisa diterima masyarakat Jakarta yang mayoritas adalah muslim, terutama masyarakat konservatif.

    Slogan kebijakan seperti OK-OCE yang sering diejek-ejek oleh mahasiswa dan kelompok menengah keatas, ternyata banyak tersangkut dan mudah diingat oleh kalangan menengah kebawah, sehingga kesan kedua kandidat tersebut jauh lebih merakyat dibandingkan Ahok-Djarot. Padahal kembali itu sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya pada calon Pak Anies dan Sandiaga Uno, yang keduanya berasal dari elit berpendidikan yang bahkan sudah memiliki orang tua yang kaya, sukses dan disegani masyarakat.

    Masyarakat yang kecewa banyak yang menyalahkan kelompok-kelompok Islam yang selalu berusaha membangun fitnah-fitnah dan mencemarkan nama baik Ahok. Masyarakat yang pro Ahok juga merasa masyarakat Indonesia masih sangat SARA dalam memilih pemimpin gubernur yang tidak seagama. Saya sendiri juga sangat jenuh dengan propaganda dan kebencian masyarakat yang menggunakan Agama sebagai senjata politik. Namun saya menyadari kalau sebenarnya tim kampanye Ahok juga masih lemah dalam mengcounter serangan-serangan dari kelompok lawan dan membangun pesan yang kuat serta menohok.

    Dari masa Jokowi, masyarakat sudah banyak yang menyerang Ahok masalah penggusuran. Rakyat yang digusur diperlakukan sebagai “KORBAN” oleh kelompok anti Ahok , padahal mereka menempati bantaran sungai secara ilegal, menyebabkan banjir serta penyakit dan hidup dibawah standar kemanusiaan. Namun inilah narasi yang dibangun oleh kelompok anti Ahok karena mereka tidak memiliki skandal, persengketaan ataupun isu yang benar-benar valid untuk menyerang Ahok. Ketika kelompok anti Ahok tidak menemukan banyak hal yang valid, masalah SARA selalu menjadi alternatif terakhir. Masyarakat Jakarta dari kalangan menengah keatas mungkin tidak akan terlalu peduli dengan masalah agama ataupun aspek SARA lainnya, karena masyarakat yang rasional lebih tertarik meritokrasi. Akan tetapi masyarakat menengah kebawah atau pun berberapa masyarakat menegah keatas yang menganut nilai konservatif yang tinggi, akan sangat terpengaruh oleh permainan politik yang menggunakan agama dan SARA.

    Merebaknya berita online yang banyak dipertanyakan sumbernya atau diatur oleh agenda tertentu semakin membuat pembangunan narasi dan image ini semakin penting,  Media online menciptakan sejenis echo chamber (ruang gaung)  yang mengulang-ulang pesan berita, memang ini membuat kita semakin memudahkan penyampaian pesan namun ini juga merupakan cara untuk menyebarkan pencemaran maupun propaganda. Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum siap dalam memilah kualitas berita untuk mencari kebenaran, maka dari itu perlu adanya pertarungan komunikasi yang kuat bagi semua kandidat politik. Permasalahan Ahok waktu itu adalah beliau kurang offensive dan enggan melakukan spin atau shift pada pengkritiknya terutama dalam kasus Al Maida. Saya mengirimkan sebuah rekaman yang berupa ceramah sholat Jumat dari salah satu masjid besar yang didukung oleh PKS, yang sarat akan kebencian dan elemen yang sangat SARA kepada warga non muslim. Saya sarankan beliau untuk mengungkapkan kenyataan, dalam masalah penistaan agama kelompok-kelompok ini sudah melakukannya sejak lama dengan tingkatan yang jauh lebih parah.

    Saya juga sempat menyarankan pak Ahok untuk mengungkapkan kebenaran akan undang-undang ITE kepada masyarakat, dimana jika itu benar-benar dimaknai, pidato Ahok di pulau seribu tidak memenuhi syarat untuk vonis, karena beliau tidak memiliki intensi untuk menista, beliau juga tidak menggunakan kata kasar dalam standar EYD dan masih bisa dimasukkan dalam ranah kritik ketimbang hate speech. Pembelaan beliau tidak cukup dibawa dilingkaran persidangan dimana pesan-pesan kita bisa didistorsi oleh para “ahli hukum” di media atau perwakilan laiinnya, Ahok sebenarnya harus lebih frontal dalam mengklarifikasi namanya, untuk menunjukkan keberanian dan ketegasan.

    Walaupun banyak yang menyarankan bahwa Ahok harus tetap diam saja dan melanjutkan kampanyenya yang sebenarnya bisa diukur sangat positif, saya tidak terlalu yakin dengan strategi ini. Jika pandangan masyarakat sudah beku untuk masalah SARA, satu-satunya cara adalah mendobrak kredibilitas lawan. Saya sudah merasakan tanda-tanda kekalahan Ahok ketika melihat kenaikan angka Pak Anies Baswedan. Saya sarankan beliau berkali-kali, jika Ahok tidak bergerak cepat, suara Agus lebih banyak akan ke Pak Anies. Saya memberikan saran Pak Ahok untuk segera menyerang pak Anies.

    Negative campaign, bukan berarti black campaign. Negative campaign sebenarnya hanya berarti kita mengungkap kekurangan dan kelemahan lawan di mata publik. Permasalahannya Ahok kurang dalam hal ini karena lebih ingin menonjolkan meritokrasinya. Jika saya dalam posisi Ahok, saya akan habisi semua kegagalan program pak Anies dan kinerjanya, saya akan suruh tim research saya untuk mengungkap kebobrokkan dari Pak Sandiaga Uno, dan saya tidak akan takut menyentil mereka disana saat debat selama berkali-kali, ataupun mempersiapkan frase-frase menohok yang sarkastis ataupun berbai satir.

    Kaum oposisi Ahok banyak sekali mengeluarkan buzzer, trolls dan bots di internet yang menggunakan akun-akun palsu, dimana disana mereka (terutama kelompok FPI) banyak sekali melakukan penghinaan, pencelaan dan black campaign. Pak Anies dan Sandiaga Uno dibalik ketulusan dan kehalusan mereka menyiapkan armada yang penuh kebencian, kekotoran dan SARA.  Stigma buzzer di sosial media buruk dimasyarakat, namun saya rasa ini menjadi alat yang cukup vital jika kita ingin bertarung komunikasi di era internet dan media sosial.

    Terkadang masyarakat memang sangat mudah diarahkan, terutama melalui media online yang jangkauannya lebih luas bagi masyarakat menengah kebawah. Mereka tidak tertarik untuk membaca bacaan yang substantif dan lebih tertarik pada berita pendek namun sensasional walaupun kebenarannya masih dipertanyakan. Ahok seharusnya menyiapkan buzzer yang lebih banyak, seperti yang digunakan Jokowi dulu melawan Prabowo, hanya saja menganut pada konten komunikasi yang lebih cerdas, berpanut pada data dan berisi, agar buzzer-buzzer yang menggunakan fitnah dan kekotoran bisa dikalahkan.

    Banyak perusahaan dan elit mampu meredam berita-berita palsu ataupun berita yang merusak citranya dengan menggunakan tim komunikasi maupun public relations yang kuat. Sayangnya strategi yang digunakan tim kampanye Ahok sepertinya belum terlalu efektif. Yang sebenarnya kasus sederhana, hanya masalah miskomunikasi kecil dibesar-besarkan selama berbulan-bulan. Kelompok ekstrimis seperti FPI yang sebenarnya menyebabkan pemecahan bangsa malah menyalahkan Ahok sebagai pemecah bangsa. Dukungan mereka didukung oleh lembaga korup seperti MUI yang pendukung integralnya merupakan oposisi Ahok. Saya rasa banyak sekali mis-step yang dilakukan tim public relations Ahok yang seharusnya lebih berani mengatakan bahwa kritikan mengenai Al Maida itu sah-sah saja dan dimana Al Maida dalam pengertian kelompok ini memiliki unsur rasisme, penistaan dan kebencian tersendirinya yang menjadi hambatan dalam persatuan bangsa.

    Tapi saya cukup memberikan kredit terhadap tim kampanye Ahok yang memanggil berbagai ahli Islam untuk menjelaskan berbagai konteks Al Maida, walaupun tidak cukup untuk menjatuhkan narasi kelompok oposisinya. Saya rasa walaupun masa kampanye sudah selesai, masyarakat, terutama tim Ahok yang dulu harus terus menyuarakan pesan-pesan nasionalis, meritokrasi dan toleransi. Kaum agama yang melawan Ahok tentunya tidak pernah berhenti, coba saja perhatikan pidato sholat Jumat di kampung konservatif, berapa kali mereka menistakan kaum Yahudi, Nasrani dan kaum Kafir seperti saya sendiri.





    Penulis :  Putu Lumina Mentari.   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Perang Komunikasi: Pembelajaran Kekalahan Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top