728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 16 Mei 2017

    Penyakit Kronis Bangsa Indonesia yang Perlu Dibasmi

    Semalam ada yang inbox, yang kebetulan seiman dengan saya, tanya tanggapan saya mengenai Aksi 1000 Lilin yang katanya baginya tidak tepat, seolah-olah aksi umat Kristen & malah mempermalukan Ahok katanya.

    Inilah penyakit bangsa yang perlu dibasmi:

    1. Merasa Benar Sendiri & Sulit Menghargai

    Menurut saya pribadi ya, apa pun aksi yang turun ke jalan dari dulu di mata saya tidak efektif. Makanya saya tidak pernah tertarik melakukannya. Apa lagi bisa dipastikan aksi dimana banyak orang bergerombolbiasanya rawan penyusup yang membuat gaduh. Kecuali adegan panjat gedung oleh mahasiswa dulu untuk melengserkan Soeharto, itu terbukti efektif. Itu doang.

    Tapi buat saya, Aksi 1000 Lilin itu hanya aksi untuk menyatakan ekspresi terkait apa yang sudah terjadi di negeri ini. Dan itu sah-sah saja. Bahkan Ahok pun pastinya tidak mempermasalahkan. Sama seperti Aksi Kirim Bunga ke Balai Kota. Itu hanya ungkapan perasaan saja sambil menaikkan harapan kepada Tuhan, bukan memprotes pemerintah atau siapa pun itu. Dan toh tidak akan setiap hari begitu.

    Saya punya cara sendiri dalam berekspresi, salah banyaknya dengan menulis, menangis berhari-hari, mengoreksi diri dan berdoa. Kita boleh punya cara berekspresi sendiri, tapi bukan berarti cara orang lain salah. Ada yang bakar lilin. Ada yang buat video. Dan sebagainya.

    2. Bersikap tidak Adil

    Bahkan saat Aksi Damai 212 dulu tetap untuk saya pribadi, saya menghargai. Karena itu hanya pernyataan ekspresi saja, apalagi ada yang sampai bawa bibit pohon. Jika pun ada yang merugikan, tentu saya tidak setuju. Adillah sejak dalam pikiran. Jangan hanya karena arogansi agama, maka ketika agama lain melakukan hal yang sama kita juga mencelanya.

    Percuma kita mau berdebat masalah begini. Karena ketika kita belum mampu menyembuhkan luka orang lain, apalagi mencerdaskannya agar tidka mudah terluka oleh cara berpikir yang keliru, biarkan saja mereka mengobati lukanya sendiri dengan caranya masing-masing selama itu tidak merugikan orang lain.

    3. Miskin Karya & Prestasi Sehingga Hobi Mengagung-agungkan Identitas

    Terus dibilang lagi bahwa dia mau agar nama Kristen tetap terjaga saja.

    Eheeemm, sejak beberapa tahun lalu saya bukan lagi pengagung-pengagung agama, termasuk agama saya sendiri. Karena agama itu hanya label, yang penting itu esensinya. Lagi pula menjadi pengagung agama membuat kita menjadi arogan dalam beragama.

    Saya pun lebih cenderung menilai seseorang dari pribadinya, bukan dari agamanya. Karena orang tidak baik, tidak ada sangkut pautnya dengan agamanya. Orang baik pun karena memang dasarnya dia memang cerdas dan rendah hati untuk membuka diri belajar sehingga mudah memahami nilai-nilai agama dengan baik.

    Saya tidak mau lagi memakai standar agama untuk mendefinisikan orang lain. Kalau ada yang gagal paham, ya dasarnya memang gagal paham, bukan karena tidak baiknya agamanya. Berulang-ulang saya katakan, intoleran & radikalisme itu produk dari kebodohan. Kalau mau membasminya, ya dengan ikut mencerdaskan bangsa. Kalau tidak, bangsa ini tetap miskin karya dan prestasi. Sehingga tidak ada hal yang mereka bisa dibanggakan, jadinya agama saja yang dielu-elukan, daripada tidak ada sama sekali.

    4. Arogan dalam Beragama

    Jika pun dulu saya pernah mengkritisi Zakir Naik, itu bukan dalam ajang bela agama. Tapi membela hidup harmonis & kerukunan yang coba diporak-porandakan oleh Zakir Naik dengan menebar arogansi beragama dengan cara menjelek-jelekkan dan menafsirkan sesukanya isi kitab suci agama lain secara terbuka. Bukan saja menebar arogansi beragama, tapi juga melakukan pembodohan massal. Upaya pembodohan itu memang perlu dilawan. Jika tidak, produk dari kebodohan itu terus mengakar dan membumi lalu sulit dibendung lagi.

    Hati-hatilah jika mulai mengatakan mengenai agamamu bahwa demi menjaga agama A tetap baik di mata masyarakat. Karena itu adalah awal dari tindakan radikalisme, dimulai dari arogan dalam beragama. Mulai dari mencoba menjaga, lalu menjadi anti kritik karena tidak mau dianggap sikapnya salah. Lalu baper bahwa agamanyalah yang dikritik.

    Setidaknya saya pernah merasakan sendiri, mengkritisi tokoh agama sendiri, bukan agamanya, sayanya yang diserang habis-habisan. Padahal jelas-jelas tokoh agama juga keliru dalam bersikap di ruang terbuka dan tidak sesuai dengan panduan kitab suci. Jadi di agama mana pun, tetap ada umat radikalnya. Yang sulit membedakan mana pandangan dan sikap. Sehingga jauh dari keadilan tapi hampir tiap hari selalu menuntut keadilan.

    Lalu tidak lama kemudian, menjadi suatu budaya baru dimana agama menjadi senjata untuk menyerang orang lain & sekaligus menjadi tameng untuk bertahan pada kesalahan.


    Penulis : Mey Sumber :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Penyakit Kronis Bangsa Indonesia yang Perlu Dibasmi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top