728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Pakdhe Bermain Catur

    Pilkada DKI 2017 berakhir sudah dan Pilpres 2019 masih lama, tetapi suhu politik belum mereda dan masih hangat. Semula penulis berpikir semuanya akan tenang, aman dan damai pasca Pilkada DKI berakhir. Sehingga kolom-kolom portal opini Seword akan banyak diisi dengan kegiatan demo masak, isu seputar selebriti, gadget-gadget termutakhir, buka puasa bersama dan lain lain. Kelihatannya harapan ini masih jauh panggang dari api. Belum lagi ledakan bom di Kampung Melayu turut memperkeruh suasana.

    Dengan terpilihnya Cagub Anies Sandi lewat retorika-retorika angin surganya, juga cara-cara kontroversial memanfaatkan isu SARA, politisasi ayat dan mayat lewat corong mesjid, diikuti dengan dipenjarakannya Ahok melalui pengadilan yang tidak kalah kontroversialnya.  Sebagai bentuk perlawanan, kita melihat aksi-aksi solidaritas berupa karangan bunga, penyalaan lilin dukungan di seluruh Indonesia dan juga pernyataan simpati dari luar negeri.

    Ke depannya kita belum akan melihat suasana politik yang mereda karena ormas-ormas radikal yang merusak tenun kebangsaan dan rajut kebhinekaan kita akan “digebuk” pakdhe, karena coba-coba mengusik dasar negara yang paling fundamental. Kita juga masih menantikan kepulangan (Habib?) Rizzieq Shihab yang dirindukan semua pihak. Pihak pendukungnya merindukan sosok imam besar, FH merindukan sosok ayah buat calon bayinya. Polisi merindukan untuk memberkas perkara dan mengantarnya ke Jaksa Penuntun Umum. Para penulis Seword juga merindukannya untuk bahan tulisan. Pembaca Seword juga merindukan tokoh antihero, karena tidak mungkin ada film yang isinya jagoan semua.

    Di balik layar berita berita di televisi, politisi-politisi mulai mengambil ancang-ancang sambil menyusun strategi. Skenario dengan target menjatuhkan Jokowi dalam 2 tahun sejak terpilih lewat parlemen gedung, kelihatannya gagal. Ternyata Jokowi tidak seperti Gus Dur yang bisa dilengserkan lewat Bruneigate Dan Buloggate. Cara lain lewat parlemen jalananpun gagal, karena tidak ada embusan isu yang cocok untuk diangkat ke gedung “Taman Kanak-Kanak” Senayan. Untuk mencari kesalahan Jokowi di bidang politik dan ekonomi belum ketemu uratnya. Semua on the right track. Indikator-indikator ekonomi menunjukkan rapor biru, menyusul pujian demi pujian dari luar negeri atas bukti nyata kinerja pembangunan infrastruktur di seluruh pelosok nusantara, hingga daerah-daerah tertinggal yang selama ini terlupakan. Satu-satunya cara adalah menunggu Jokowi salah langkah ketika menyikapi persoalan kasus hukum Ahok, misalnya: mengintervensi Judikatif, memberi grasi, mengancam lawan politik, dll. Tapi melalui langkah catur yang tepat, nyaris tidak ada celah pihak lawan untuk melakukan skak.

    Bung Karno benar ketika berkata bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda lebih mudah karena lawannya jelas terlibat, tetapi menjadi sulit ketika menghadapi lawan yang adalah teman sebangsa sendiri. Ini namanya musuh satu selimut. Maka permainan caturpun dimulai. Lawan-lawan invisible, sudah mulai bisa dipetakan oleh BIN. Beritanya menyebar dengan cepat di sosial media yaitu gabungan 3 kekuatan:

        Kelompok yg takut dosa dan aib masa lalunya terungkap.
        Kelompok haus kekuasaan.
        Kelompok yang merindukan NKRI bersyariah.

    Mereka kelihatannya bersatu karena punya kepentingan bersama. Kekuatan kelompok-kelompok ini tidak besar secara jumlah, namun kuat dalam pendanaan.

    Pada dasarnya Islam di Indonesia mayoritas adalah silent majority yang enggan terlibat dengan permainan politik praktis. Kelompok ultrakanan di Indonesia tidak terlalu banyak, namun menurut hasil survei Yenny Wahid, kelompok intoleran makin banyak belakangan ini. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/04/12/yenny-wahid-kaget-hasil-survei-tunjukkan-intoleransi-cukup-tinggi-di-indonesia

    Bagaimana cara melibatkan umat Islam silent majority untuk bisa ikut bermain dalam politik? Untuk itu diperlukan penciptaan suatu “musuh bersama” bagi umat Islam. Untuk kasus Ahok dalam Al Maidah 51 mereka berhasil menerapkan jargon Asal Bukan Ahok. Jadi kalaupun bukan Anies, sosok Ahmad Dhani atau Haji Lulung sekalipun bisa terpilih jadi gubernur.

    Target berikutnya adalah Jokowi. Akan tetapi, masalahnya adalah bagaimana membuatnya sebagai musuh bersama untuk menggerakkan silent majority ? Hal inilah yang belum ketemu, karena Jokowi adalah seorang muslim, Jawa, nasionalis.  Maka caranya dibuatlah isu bahwa Jokowi adalah PKI keturunan Cina bernama Wie Jokoh. Tabloid Obor Rakyat sudah mencoba lakukan black champaign pada pilkada 2012 lalu. Sesuatu yang tidak masuk akal buat kita yang tinggal di bumi bulat. Bagaimana mungkin partai politik yang sudah dinyatakan terlarang sejak 1966 bisa tiba tiba muncul bak hantu di siang bolong. Di dunia bumi bulatpun hanya tinggal Korea Utara, negara miskin dengan pemimpin gila tersebut yang masih murni komunis. Uni Soviet sudah terpecah belah menjadi 13 negara. RRC pun sudah setengah kapitalis sejak zaman Deng Xiao Ping. Negara kecil Kubapun sudah megap-megap. Dan lagi konteks saat ini berbeda jauh dengan situasi 1965 di mana Komunis merupakan kekuatan besar di Indonesia dan dunia. Seperti pemeo petinggi NAZI, bahwa kebohongan yang  diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran

    Kalau boleh diibaratkan permainan catur, kasus Ahok sebagai jatuhnya salah satu perwiranya Jokowi. Kalau bersikeras dipertahankan, bIsa mengancam keselamatan raja. Sehingga mau tidak mau pengorbanan harus dilakukan dengan imbalan serangan bidak catur lawan kehilangan momentum. Dan untuk sementara ancaman langsung berkurang. Sebagai kompensasi, dua bidak catur lawan juga jatuh, yakni FPI Dan HTI. Sementara Korlap-korlap 212 sudah kehilangan taji setelah diamankan polisi. Untung saja tidak terlalu banyak bidak yang tertinggal. FUI, GNPF tidak kuat. Serikat Buruh belum terorganisir baik.

    Beruntung masih ada perwira-perwira lainnya. Bidak Menteri panglima TNI dan Kapolri, juga bidak Ansor dan Banser yang belum dimainkan. Kaum silent majority lain yang siap berubah jadi people power bila dibutuhkan. Saat ini tindakan mengirim bunga dan menyalakan lilin tanda dukungan adalah langkah halus dan lembut yang paling mungkin dilakukan. Perimbangan kekuatan lainnya, sedikit kalah suara di parlemen, tapi menang di birokrasi. Perimbangan kekuatan di media televisi juga tidak tidak boleh kalah. Dan tugas berikutnya adalah mengembalikan fungsi mesjid sebagai tempat netral yang mendekatkan kita dengan Allah, bukan untuk tempat politik.

    Beginikah kura kura ?


    Penulis :  Steven Handoko    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pakdhe Bermain Catur Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top