728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 17 Mei 2017

    Pakde Jokowi , Ayo Belajar Dari Majapahit Untuk Mengatasi Musuh Dari Dalam

    Desas-desus keberpihakan Jusuf Kalla kepada pasangan Baswedan-Uno,pemenang pilgub DKI Jakarta semakin lama semakin menunjukkan kejelasannya. Keberpihakan yang secara logika orang waras (tidak kenthir dalam bahasa jawa) menikam presiden Jokowi dari belakang. Keberpihakan diam-diam yang menyatakan betapa kerdilnya jiwa kenegarawanan Jusuf Kalla yang adalah  “orang dalam” di pemerintahan Presiden  karena dia adalah wakil presiden.

    Perlahan namun (nampaknya) pasti, masyarakat sudah mulai bisa mengerti perilaku dan gerak-gerik politik wakil presiden, yang kesemuanya berujung gerakan bisnis yang hanya akan menguntungkan dirinya. Bahkan dahulu, dalam kisah papa minta saham, ada dugaan bahwa Sudirman Said yang adalah orang kepercayaan JK sudah melakukan gerakan cepat dengan Freeport atas suruhan JK  ( Sumber ).  Gerakan cerdik dan bertujuan jahat yang saya sebut dengan istilah licik sudah dirancang sedemikian rupa oleh Jusuf Kalla yang bekerjasama dengan Baswedan  dengan cara mengangkat kembali orang-orang yang terelimiasi dari kabinet kerja Presiden Jokowi, semisal Sudirman Said ( Sumber ).

    Dari satu contoh ini saja, sebenarnya masyarakat awam yang peduli dengan NKRI harusnya bisa membacanya. Bagaimana mungkin seorang wakil presiden nekat menghianati presiden dengan cara mengangkat orang-orang yang gagal bekerja sesuai dengan mentalitas yang dikibarkan presidennya? Dan malah mengangkat mereka dengan  jiwa pengecut, karena dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, apakah ini model wapres sebagai negarawan baik?

    Selain satu contoh di atas, masih ada beberapa tingkah wapres yang merugikan Negara. Dari kedekatannya dan pertemuannya dengan Zakir Turun, eits..Naik  ( Sumber ) yang adalah pendakwah provokatif yang di tolak di beberapa negera islam, statement kepada media asing yang mengatakan bahwa jakarta aman-aman saja, sudah menunjukan kepada kita semua, bahwa wapres adalah bahaya untuk NKRI.

    Pertanyaannya adalah, seberapa besarkah jiwa nasionalisme Jusuf Kalla si wakil presiden? Apakah presiden Jokowi dari awal tidak bisa membaca tatapan mata licik dari Jusuf Kalla ketika sepakat maju berpasangan? Apakah jiwa nasionalismenya terendam jiwa serakah bisnisnya, sehingga tega merongrong kemajuan pembangunan yang dikembangkan presiden? Akan seperti apakah Negara kita jika “driver dan co-driver” sebagai pengemudi laju Negara sudah tidak kompak?

    Jujur saya katakan, bahwa posisi wakil presiden bukan hanya mengancam presiden, namun juga mengancam keutuhan NKRI. Jika wakil presiden itu sekelas mentri mungkin presiden akan segera me-resuflle wapres dan menggantinya dengan yang lebih berjiwa nasioanalis dan pejuang sejati. Namun nampaknya (saya tidak mengerti) dalam hal wakil presiden, Presiden tidak memiliki wewenang untuk menggantinya di tengah jalan, karena satu paket dalam pilpres. Oleh karena itu, Jusuf Kalla merasa aman saja melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya. Dan ini yang berbahaya, bahkan sangat berbahaya.

    Sejarah nusantara ini pernah menggoreskan kisah tentang Majapahit dengan segala dinamika sejarahnya. Dan dalam salah satu kisah, baik mitos dan juga sejarah Majapahit yang terkenal adalah tentang tokoh Mahapati atau Halayuda. Dia politikus dan juga negarawan. Dia dikenal sangat dekat dengan istana, sangat dekat malahan. Dan karena kedekatannya itu, Mahapati bahkan bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan prinsipil sang Raja. Selain itu, karena begitu dekatnya dengan istana, dengan raja, sering tokoh ini mengambil kebijakan aneh yang tidak berpihak kepada rakyat dan rakyat percaya bahwa apa yang dilakukan Mahapati atas ijin raja.

    Dan dampaknya adalah perang saudara hebat yang melukai Majapahit. Fitnah terhadap Nambi, ketika ayahnya meninggal, ketika ingin memperpanjang masa cuti malah dianggap bahkan dituduh merencanakan melawan raja. Fitnah terhadap Lembu Sora, Arya Wiraraja, Kebo Anabrang dan yang lain menjadikan Majapahit bermandikan darah.

    Pengalaman historis ini nampaknya penting untuk pakde Joko Widodo, agar bisa cerdik belajar dari sejarah ini. Bukankah wapres sangat dekat dengan presiden? Bukankah wapres bisa mengambil kebijakan-kebijakan tanpa harus berkonsultasi langsung dengan presiden dan ketika itu terjadi, bisa saja rakyat tahunya itu kebijakan presiden.

    Sejarah memang mencatat, Mahapati atau Halayuda akhirnya terbunuh akibat ulahnya. Ulahnya yang merugikan Negara, yang hanya untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya, pada akhirnya terbongkar dan dia dihukum dengan cara dicincang bagaikan daging babi. Persoalannya jika dibandingkan dengan situasi NKRI, adalah perbedaan otoritas. Dalam konteks Majapahit, raja ketika mengetahui sepak terjang Mahapati segera memerintahkan prajurut menghukumnya, sedangkan di negara kita sekarang berbeda. Meskipun nada keburukan wapres sudah nyaring terdengar, namun presiden tidak punya otoritas mutlak terhadap persoalan ini.
    Oleh karena itu, rakyat bersama-sama presiden dan segenap jajarannya,dalam hal ini memiliki posisi strategis menyelamatkan NKRI dari rongrongan rayap-rayap yang bergerak dari dalam. Dan ada rayap yang sangat kuat. Rakyat perlu selalu mendukung presiden dalam mengambil kebijakan demi NKRI. Ayo rakyat Indonesia, kita jaga bersama negara kita!

    Salam NKRI Jaya

    Penulis :  Dony Setyawan  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pakde Jokowi , Ayo Belajar Dari Majapahit Untuk Mengatasi Musuh Dari Dalam Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top