728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 18 Mei 2017

    Omong Kosong Rekonsiliasi Kubu Anies-Sandi

    Sudah satu bulan sejak pemilihan gubernur pada putaran kedua di Jakarta, 19 April 2017, yang menghasilkan Gubernur DKI baru yaitu Anies Rasyid Baswedan dengan Wakil Gubernur Sandiaga Salahudin Uno. Sejak hari pertama kemenangan yang didapat setelah semua lembaga survey menunjukan hasil quick count yang memenangkan pasangan Anies-Sandi, terucap kata untuk rekonsiliasi. Kemenangan mereka adalah kemenangan warga Jakarta. Semua diharapkan bersatu kembali membangun Kota Jakarta.

    Sehari setelah itu, Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjalani sidang tuntutan jaksa atas kasus penodaan agama. Jaksa hanya menuntut 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Berkenaan dengan kekalahan Ahok-Djarot, para pendukung mereka memberikan dukungan dan apresiasi atas kerja keras mereka berdua selama menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak 2014. Kiriman karangan bunga atau papan bunga memenuhi Balai Kota dan sekitarnya. Bahkan karena banyaknya dan tidak muat lagi sehingga papan bunga kiriman warga tersebut sampai disusun sepanjang trotoar dari Balai Kota sampai Monas. Dukungan dari warga yang mengirimkan papan bunga bukan hanya dari warga Jakarta bahkan dari luar Jakarta dan WNI yang berada di luar negeri.

    Fenomena fantastis itu menjadi catatan sejarah di Indonesia, seorang kepala daerah yang kalah kontestasi pilkada mendapatkan ekspresi, penghargaan, doa dan dukungan dari warganya bahkan pendukungnya di seluruh Indonesia dan dunia, tercatat lebih dari 5000 papan bunga yang dikirim oleh para pendukung Ahok-Djarot. Atas desakan sebagian orang akhirnya fenomena ini mendapatkan pengakuan rekor MURI. Kita melihat banyaknya ungkapan dari dalam hati pendukung Ahok-Djarot melalui papan bunga yang dikirmkan. Banyak yang memberikan doa dan dukungan, tidak kalah juga ada yang memberikan apresiasi atas kinerja mereka selama menjabat, ada juga yang ungkapan lucu. Semua merupakan ekspresi yang tulus dari dalam hati pendukung Ahok-Djarot.

    Namun dari hal positif yang dilakukan oleh pendukung Ahok-Djarot tersebut malah mendapatkan cibiran pedas maupun celoteh bernada miring dari pihak pendukung Anies-Sandi. Padahal kita lihat apa yang dilakukan tidak merugikan mereka, tetapi ada saja fitnahan yang terus diujarkan kepada Ahok maupun pendukung-pendukungnya sebut saja Fadli Zon, Marissa haque, jonru dan banyak lagi. Bahkan pada tanggal 1 Mei 2017 bertepatan dengan memperingati hari buruh, sebagian papan bunga warga yang notabene sebagai ungkapan perasaan warga kepada pemimpin yang mereka cintai dibakar oleh aksi masa buruh. Dengan rasa tidak bersalah mereka melakukan hal demikian. Sungguh tindakan yang sangat mengecewakan. Namun tidak lama berselang turun hujan, mereka juga menggunakan papan-papan bunga untuk berteduh.

    Pada beberapa kesempatan, Anies juga mengeluarkan kata-kata yang lagi-lagi menjelekan Ahok bahkan juga Presiden Jokowi. Sangat lucu jika melihat pertarungan perebutan kursi gubernur tetapi bisa-bisanya nyemprit presiden. Mungkin karena masih ada perasaan sakit hati dicopot dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada kesempatan memberikan sambutan diacara- acara yang dihadirinya, tidak sedikit pula Anies menyudutkan Ahok maupun Pemprov DKI yang masih dipimpin oleh Ahok pada saat itu. Anies selalu mengatakan Pilkada DKI yang membuat warga Jakarta terkotak-kotak dan terpolarisasi. Perlu adanya tindakan mempersatukan kembali warga Jakarta, namun malah Anies sendiri masih memberikan contoh yang salah.

    Pasca vonis Majelis Hakim PN Jakarta Utara yang  menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun kepada Ahok karena dianggap terbukti bersalah melakukan tindak pidana penodaan agama, para pendukung Ahok tidak henti-hentinya melakukan aksi solidaritas mendoakan dan mendukung Ahok. Aksi solidaritas yang dilakukan tidak hanya di kota Jakarta saja, tetapi dilakukan oleh pendukung dan simpatisan Ahok yang ada di seluruh nusantara  bahkan sampai luar negeri. Aksi dilakukan dengan berdoa, menyanyikan lagu-lagu nasional dan menyalakan lilin.

    Aksi yang dilakukan oleh pendukung dan simpatisan berlangsung aman dan damai, namun terdapat beberapa lokasi yang sempat terjadi ketegangan karena adanya penyusup yang berusaha membuat keributan. Aksi-aksi dengan keramaian memang mudah disusupi oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Aksi-aksi solidaritas pendukung Ahok sepertinya masih membuat tim pendukung Anies-Sandi maupun kaum sumbu pendek tidak terima dan iri. Bahkan kegiatan di di kota Makasar dihadang oleh sekelompok massa FPI dan HMI. Belum lagi adanya suatu acara syukuran merayakan vonis 2 tahun penjara kepada Ahok oleh timses Anies-Sandi, mungkin hati nurani manusia-manusia yang merayakan itu sudah mati, bergembira atas kezaliman yang dialami oleh Ahok.

    Kegiatan aksi solidaritas pendukung Ahok umumnya kaum nasionalis yang mendukung keutuhan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 serta menghargai keberagaman dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika. Aksi-aksi dilakuan dengan damai tanpa melakukan tindakan kekerasan ataupun intoleran. 

    Sering terdengar imbauan ataupun ajakan Anies-Sandi sebagai pemenang, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih kepada pendukungnya maupun kepada pendukung Ahok-Djarot untuk saling menyatu dan rekonsiliasi pasca pilkada. Akan tetapi tindakan mereka terkadang tidak mencerminkan niat yang benar-benar ingin rekonsiliasi. Adanya mereka masih menghujat ataupun menyindir pendukung Ahok-Djarot yang tidak bisa move on, yang tidak terima kekalahan, menyepelekan kegiatan aksi pendukung Ahok-Djarot mulai dari papan bunga, balon, hingga aksi 1000 lilin disejumlah wilayah.

    Sebenarnya aksi yang dilakukan secara damai itu hendaknya diterima karena berupa kegiatan positif dan tidak merugikan pihak manapun. Pendukung Ahok bahkan melakukan doa bukan hanya untuk Ahok tetapi juga untuk keutuhan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun pendukung Anies-Sandi tetap sinis. Mereka tidak menggunakan akal sehat lagi, mereka tidak lagi melihat dan mengingat bagaimana cara mereka menang pilkada, bagaimana mereka menyerang, bagaimana mereka menghujat, memfitnah dan lainnya. Dengan segampang itu mereka mengharapkan rekonsiliasi.

    Seperti halnya GNPF MUI yang juga menyarankan untuk rekonsiliasi pada pendukung Ahok-Djarot, justru kita melihat mereka-merakalah yang dulunya merusak keharmonisan warga, melakukan intimidasi, intoleransi dan mendemo dengan mengerahkan massa yang banyak dab berjilid-jilid. Pendukung Ahok tidak seperti yang mereka bayangkan, seperti kata Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bahwa selama ini dia menganggap tak pernah bermasalah dengan GNPF MUI. Kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak pernah melawan, kita enggak macam-macam kenapa rekonsiliasi?  Setengah heran, Djarot bilang selama ini selalu menghormati pihak lain walaupun punya pendapat berseberangan.  Kendati begitu, Djarot mengingatkan masyarakat harus tetap berhait-hati dalam membuat gerakan atau menyuarakan pendapat. Djarot meminta kelompok masyarakat menghormati dasar negara Pancasila. Hal ini ia katakan mengingat perlakuan tak baik yang pernah dirinya terima kala mengunjungi masjid saat kampanye Pilkada DKI. Sudah jelas sekali mana yang ngeles kan?

    Anies dengan bermulut manis mengajak rekonsiliasi. Jika ajakan rekonsiliasi kepada pendukung Ahok-Djarot hanya untuk menarik simpati agar mendukungnya, sama saja akan sia-sia. Niatnya saja tidak tulus, buktipun belum nyata dilakukan sepenuhnya malahan adanya kembali menyindir Ahok dan merembes ke Jokowi. Aneh bukan?

    Perlu diingat pendukung Ahok merupakan orang-orang yang waras dan rasional, tidak perlu mengajak rekonsiliasi hanya untuk mengharapkan dukungan tetapi yang diperlukan adalah bukti kerja nyata seperti halnya apa yang telah dilakukan Ahok. Pendukung Ahok sendiri akan mendukung Anies-Sandi jika kerjanya yang memang untuk rakyat dan bebas korupsi, tetapi juga akan kritis terhadap hal-hal yang merugikan warga Jakarta. Semoga saja Anies-Sandi memberikan bukti apa yang pernah mereka janjikan dalam kampanye, dan tentunya jangan mempermainkan warga Jakarta yang telah memberikan kepercayan pada mereka untuk memimpin di Jakarta.


    Penulis : Covalins   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Omong Kosong Rekonsiliasi Kubu Anies-Sandi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top