728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 27 Mei 2017

    Nyanyian Ulama “Bunuh si Ahok” Jadi Lagu Anak-anak, di Mana Kyai dan Ustad?

    Apa yang terjadi di Kampung Melayu kemarin sepertinya hanyalah konsekuensi logis dari serangkaian doktrin radikal dan terorisme yang didengungkan oleh teroris, yang selama ini berlindung di balik label ulama.

    Mereka berlindung di balik label ulama agar tidak bisa diproses hukum. Dan kalau mau diproses pun, pengikutnya akan teriak: kriminalisasi ulama, pemerintah anti Islam dan seterusnya. Lihat saja sekarang, ada ulama yang terjerat banyak kasus, dari kasus pelecehan terhadap Pancasila sampai kasus pelecehan terhadap wanita.

    Padahal kalau mau berpikir secara waras dan jujur, dia bukanlah ulama. dengarkn saja khutbahnya, penuh ucapan permusuhan, penuh kata-kata kutil babi, setan, iblis, dajjal dan sejenisnya. Mana ada ulama seperti itu? Saya saja yang muslim biasa-biasa saja, masih belajar tentang agama Islam, tidak berani mengatakan sumpah serapah sebanyak itu. Hanya sekali dua kali saja untuk hal-hal yang memang sudah keterlaluan dan melecehkan. Ini ulama, dikit-dikit kutil babi, dikit-dikit mengajak orang lain untuk bunuh, ulama macam apa? pembaca Seword tau ya siapa yang saya maksud? Inisialnya HRS.

    Betapapun kita mempertanyakan gelar ulama yang disandang dan dibanggakannya, pada akhirnya dia tetap memiliki pendukung yang ceriwis nan fanatik. Sebenarnya sedikit, tapi karena ceriwis jadi cukup memekakkan telinga dan mata kita.

    Lebih buruk lagi, sepertinya tidak ada yang berani membantah status dia sebagai ulama. Indonesia ini tak kekurangan kyai, ustad dan ulama. Tapi tidak ada satupun yang berani menyebut HRS bukan ulama, sekalipun khutbah-khutbahnya penuh kebencian dan kata-kata syaitoni.

    Sehingga orang-orang seperti saya, rakyat jelata, ketika mempertanyakan status atau gelar ulamanya, malah diintimidasi dan dicaci maki dengan: menista ulama, membenci Islam dan seterusnya.

    Untuk itu saya pikir sudah saatnya para kyai, ustad dan ulama ikut bersuara menanggapi sikap HRS. Sikapilah. Jangan pura-pura buta dengan kenyataan sosial yang ada. Kalau saya yang mempertanyakan, para dayang-dayang HRS itu bisa dengan ceriwis mengatakan bahwa saya benci Islam. Tapi kalau anda-anda yang merupakan pimpinan pesantren, kyai, ustad dan ulama yang dinilai memiliki pemahaman agama yang lebih dalam, para dayang-dayang HRS itu tak akan berani menyerang anda. Ayolah, selamatkan agam Islam dari perlindungan dan pembibitan teroris.

    Bom Kampung Melayu itu hanya konsekuensi logis dari doktrin radikal yang ditanam dan dipupuk di benak banyak orang. Ketika ada ulama bernyanyi yel-yel ajakan pembunuhan secara terbuka di tempat umum, secara tidak langsung, sedikit banyak akan menginspirasi orang lain untuk melakukan pembunuhan terhadap orang yang mereka anggap salah, atau sekedar tidak disukai.

    Bunuh-bunuh si Ahok jadi lagu anak-anak

    Menurut banyak penelitian, pendidikan masa kecil memilik pengaruh yang sangat signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Jadi ketika kita sekarang melihat begitu banyak koruptor di Indonesia, harusnya kita berkaca dan melihat ke belakang, bagaimana para koruptor tersebut dididik semasa kecilnya?

    Karena kalau kita lihat, mereka bukannya orang yang tidak mengerti konsep agama dan Tuhan. Sebagian yang korup malah orang-orang yang paling rajin beribadah. Ini salahnya di mana?

    Menurut kesimpulan sepihak dan paling logis menurut saya, adalah karena cerita-cerita negatif yang mereka konsumsi saat masih kecil. Anda pasti tahu kisah “Si Kancil.” Dalam cerita tersebut, Kancil begitu licik dan cerdik dalam hal mengelabuhi petani, buaya, singa dan hewan lainnya. Kecerdikan Kancil ini kerap digunakan untuk mencuri timun-timun petani.

    Jadi kalau sekarang negara kita dihadapkan dengan banyaknya kancil-kancil yang suka mencuri timun APBN miliki petani dan rakyat Indonesia, begitu lihai berargumen, licik sekali dalam menggunakan undang-undang, saya pikir semua itu adalah buah dari doktrin cerita negatif yang ada selama ini.

    Sekarang, saat cerita Kancil suka mencuri timun itu sudah melahirkan generasi-generasi korup, masih ditambah dengan munculnya fenomena teroris dan kelompok radikal yang berlindung di balik gelar ulama.

    Beberapa bulan yang lalu ulama tersebut bernyanyi “bunuh-bunuh-bunuh si Ahok” di jalan-jalan. Bernyanyi dengan orasi penuh ancaman dan cacian luar biasa. Kalimatnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak bisa menghargai manusia sebagai ciptaan Tuhan. Sehingga dengan entengnya menyebut “kutil babi” dan mengajak jamaahnya untuk membunuh. Lebih buruk dari itu, ada ulama yang berpakaian serba putih, dengan sadar dan serius mengatakan secara live di teve nasional bahwa “Ahok sebenarnya bisa dipotong tangan, dipotong kakinya, atau minimal diusir dari Indonesia. Ini dinyatakan secara live dan dianggap merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Astaghfirullah……

    Kemudian beberapa hari yang lalu, anak-anak kecil usia sekolah dasar dan TK berkeliling kampung, pawai membawa obor, bernyanyi yel yel “ayo-ayo bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga.”

    Gila! Anak kecil sudah dengan entengnya mengatakan “bunuh,” sudah bisa dibayangkan betapa kelam dan radikalnya lingkungan mereka saat ini?

    Saat saya masih kecil, jangankan membunuh manusia, melihat orang tua menyembelih ayam saja saya takut. Jangankan berteriak dan bernyanyi “bunuh-bunuh,” mengatakan kata “bunuh” saja saya tidak pernah.

    Bahkan sekarang, setelah dewasa dan berusia 27 tahun pun saya tidak berani mengajak orang lain untuk membunuh, atau bernyanyi “bunuh-bunuh-bunuh si Ahok.” Asli tidak berani. Sebab bagaimanapun, seburuk-buruknya Ahok, dia adalah manusia, sama seperti saya, sama-sama ciptaan Allah subhanahuwataala. Mana bisa saya punya niat atau mengajak orang lain untuk membunuhnya?

    Jadi ketika ada anak-anak kecil yang bernyanyi “bunuh-bunuh-bunuh si Ahok,” saya jadi melihat dan membayangkan betapa gelap dan suramnya nasib bangsa ini ke depan jika tidak dicegah.

    Bila cerita negatif si kancil anak nakal suka mencuri timun, cerdik dan licik mengelabuhi petani, menurut saya ada korelasinya dengan lahirnya koruptor-koruptor licik dan cerdik, bukankah lagu anak-anak yang mengajak orang lain untuk membunuh sesama manusia itu bisa menghasilkan generasi teroris dan radikal?

    Untuk itu, dalam rangka berikhtiar untuk melawan doktrin radikal dan teroris yang berlindung di balik gelar ulama dan jubah agama Islam, saya mengajak semua orang, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun jabatannya, untuk bersama-sama mengutuk doktrin radikal dari ulama yang mempelopori nyanyian “bunuh-bunuh-bunuh si Ahok.”

    Saya mengharap kyai-kyai pesantren, ustad dan ulama, ketua umum PBNU, Muhammadiyah dan MUI, untuk secara tegas memberikan pernyataan, bahwa mengajak orang untuk membunuh merupakan tindakan yang sangat keji. Menyatakan bahwa nyanyian “bunuh-bunuh-bunuh” si Ahok yang dipopulerkan oleh ulama berinisial HRS merupakan doktrin radikal dan terorisme yang sangat terstruktur, sistematis dan massif. Menyatakan bahwa HRS bukan ulama. Jika tidak begitu, maka anda semua, para kyai, ustad dan ulama, pengurus ormas Islam, benar-benar tidak mencegah kemungkaran.

    Semoga dengan begitu, negara kita ini tetap aman dan damai. Anak-anak generasi penerus tidak diwarisi oleh doktrin radikal, kebencian dan sifat-sifat teroris yang dapat memecah belah bangsa ini. Anak-anak itu memang tak mengerti, tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, tapi dampak dan efeknya terhadap alam bawah sadar mereka akan sangat luar biasa. Dan ini menurut saya harus segera dicegah bersama-sama….Begitulah kura-kura.

    Penulis :  Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Nyanyian Ulama “Bunuh si Ahok” Jadi Lagu Anak-anak, di Mana Kyai dan Ustad? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top