728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 25 Mei 2017

    Menteri-menteri Benalu

    Sebagian menteri Jokowi itu mirip benalu. Mereka menikmati hidup jadi menteri, ke mana-mana dikawal, dihormati, ditempatkan di barisan paling depan. Namun tak bisa bekerja. Reshufle memang beberapa kali dilakukan. Hasilnya lumayan. Meskipun beberapa benalu tetap tinggal di kabinet. Hidup nyaman dan dielu-elukan oleh rakyat. Disorot media bak artis.

    Pembentukan kabinet kerja memang seperti memakan buah simalakama. Di tengah kepungan serigala KMP (Kumpulan Makhluk Pandir), Jokowi harus mencari dukungan. Ia membelah oposisi. Menarik dukungan dengan memberikan kursi. Jalan itu terpaksa ditempuh untuk memuluskan program kerja pemerintahan. Meskipun mereka bergabung juga dengan setengah hati.

    Sebagian menteri Jokowi benar-benar bekerja keras. Menteri KKP, Susi Pujiastuti adalah idola saya. Meski mendapat predikat disclaimer dari BPK tahun ini, Susi tetaplah yang terbaik. Ia bekerja dengan sepenuh hati. Soal gaji, tidak ada apa-apanya dengan hasil yang diterima dari perusahaannya. Namun ia memilih mendedikasikan diri untuk Negara. Bekerja dengan sebaik-baiknya.

    Ada juga Archandra Tahar dan Jonan dua sejoli yang ganas di ESDM. Duet maut yang keras kepala, sehingga membuat Freeport yang terkenal bengal itu kelimpungan. Ada Sri Mulyani yang cerdas. Di tangannya kondisi keuangan yang defisit dikendalikan. Tax Amnesty dan pemangkasan pembiayaan dijadikan jalan keluar darurat. Predikat WTP dari BPK yang diterima Pemerintah setelah bertahun-tahun absen adalah hasil dari usaha kerasnya.

    Namun ada menteri yang tak melakukan gebrakan apa-apa. Tidak kelihatan kerjanya. Seperti kuman di seberang lautan. Kueeeciiiil sekali. Meski begitu tidak punya malu nangkring di kabinet yang jelas mengusung ide konkret, “Kerja”. Presiden keliling ke mana-mana mengontrol pekerjaan. Isterinya sampai legam warna kulitnya. Ini menteri malah plonga-plongo.

    Ketika ada PNS (ASN) membenci atasannya, memprovokasi, menyulut perpecahan, tidak becus bekerja, menteri yang berkewajiban menegur, mengatur, memberi sanksi tak berbuat apa-apa. Menteri tak berguna ini seolah-olah bahagia kalau para PNS itu mencela dan menggembosi pemerintahan. Simbol Negara, kepala pemerintahan, pucuk tertinggi eksekutif, dilecehkan oleh cecunguk di bawah kendalinya

    Ada juga menteri yang jelas-jelas melihat para aparat terdoktrin pemurnian agama ekstrem, terindikasi teroris, ini menteri ya hanya plonga-plongo. Ia membiarkan anak buahnya tersesat dalam kebencian. Padahal mestinya sudah tugasnya memberikan arahan, teguran, hukuman. Situ menteri apa tukang bakso nunggu mangkok?

    Yang aneh, ada menteri yang tahu seluk-beluk terorisme, politisasi masjid, radikalisme melenceng, tapi malah bikin pidato. Sibuk bikin arahan ceramah di masjid. Menteri ini membiarkan sekolah islam terpadu misalnya, jadi bunker wahabisme. Ia yang tanpa sungkan menampakkan kepengecutannya di hadapan ormas intoleran.

    Ada juga yang tahu kualitas baca masyarakat rendah, pengetahuan sastra rendah, kesejahteraan sastrawan rendah, para pelaku kebudayaan kecil banyak yang hidup dalam kesepian, seniman miskin terlunta-lunta, ini menteri dengan anggaran luar biasa hanya bisa membual. Bikin acara seremonial yang menghabiskan uang Negara. Situ menteri apa agen katering?

    Hoax, fitnah, informasi menyesatkan beredar bebas. Ini menteri juga sibuk main medsos. Tidak ada upaya nyata unuk memberatasnya. Grup anti hoax mati-matian membendung hoax. Satu hoax diberantas, ribuan lain bermunculan. Menterinya ongkang-ongkang kaki menikmati pembodohan massal itu.

    Menteri-menteri itu mungkin ada yang cerdas, tapi tak bernyali. Menteri yang tak punya imajinasi. Hanya membaca buku petunjuk, how to be a good minister, pasang tampang manis di depan Presiden. Kerjanya nol, atau nyaris nol. Hanya seperti operator yang menunggui mesin bekerja. Kalau ada maslaah baru memanggil teknisi. Lha situ kerjanya apa?

    Menteri-menteri ini biasanya hasil barter kekuasaan. Jkkowi butuh dukungan parlemen, maka diberikanlah posisi itu agar mereka mengegolkan program Pemerintah. Beberapa kali pergantian tak membuat oknum lebih baik muncul dari partai yang sama. Mereka hanya tidak lebih buruk saja. Kualitas kerjanya sama. Tukang pencitraan. Benalu yang merepotkan.

    Jadi, Presiden itu sibuk kasih pengarahan setiap hari. Tujuannya untuk menyetir menteri yang mirip mobil mogok ini. Harus didorong terus, diberi jalan terus. Situ menteri apa balita yang belajar sepeda roda tiga?

    Saya sudah menyerah dengan menteri-menteri tak berguna itu. Begitu banyak persoalan besar di tubuh bangsa ini, mestinya mereka paham solusinya. Apalagi yang memang petahana, sudah jadi menteri di di bidang yang sama sebelumnya. Namun mereka hanya bisa cengengesan. Rakyat tak butuh senyum palsu. Mana hasil kerja kalian. Setiap hari dimarahi Presiden, tidak malu? Situ bolot ya?

    Kalau tak sanggup jadi menteri, mundur. Biarkan mereka yang memang kompeten dan berdedikasi mengambil alih. Mereka yang tak takut tantangan. Berani mengambil risiko. Yang punya cita-cita. Ini namanya menteri Kabinet Kerja. Tugasnya ya bekerja, bukan mengarang bebas di atas podium. Situ penyair dadakan, mau niru Panglima itu ya?

    Goblok boleh, jadi menteri benalu jangan!



    Penulis :  Kajitow Elkayeni   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menteri-menteri Benalu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top