728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Mengampuni dan Memberi, Daya Spiritualitas Ahok yang Menginspirasi

    Di tengah ketidakadilan yang menimpah Ahok, para pendukung dan simpatisannya berharap ia dan pengacaranya melakukan langkah hukum berikutnya. Melakukan naik banding.
    Karena celah hukum ini, publik pintu keadilan bagi Ahok masih terbuka lebar. Banding akan memungkinkan Ahok bebas dari segala tuduhan selama ini, sebagai pelaku penistaan agama.

    Namun, hal ini justeru tidak dilakukan Ahok. Ia, melalui sang istri, menolak banding. Ditolaknya banding oleh Ahok melahirkan berbagai spekulasi dan analisis. Mulai dari spekulasi politik hingga ke argumentansi ranah personal pribadi Ahok dan keluarga.

    Mungkin ada benarnya berbagai spekulasi atau analisis yang politis, tetapi penulis lebih melihat alasan pribadi Ahok sendiri. Alasan ini menguat, terbaca dari suratnya dibacakan oleh ibu Vero untuk para pendukungnya.

    Dalam surat itu ada kalimat kunci yang sangat kuat dan mendalam maknanya. Hal ini terkait dengan habitus dan spiritulitas Ahok serta tokoh junjungan yang diimaninya, Yesus Kristus.

    Saya kutip paragraf kalimat kunci yang dimaksudkan berikut ini :

        Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara.

    Selengkapnya surat Ahok dapat dibaca pada Surat Lengkap Ahok dari Tahanan Mako Brimob.

    Dari kalimat kunci di atas, saya merujuk pada dua kata kunci, yaitu “mengampuni” dan “menerima”. Inilah dua kata kerja aktif yang membesarkan Ahok sebagai tokoh hebat.

    Mengampuni adalah salah satu inti ajaran Kristus. Karena Yesus sendiri pun melakukannya sebagaimana dalam Kisah Sengsara-Nya.

        “Ya, Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa mereka yang diperbuat.”

    Mengampuni adalah sebuah ajakan sekaligus ajaran dari Kristus sendiri. Terdengar, mengampuni sebuah perkara mudah, yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Persoalannya, hal ini tidak mudah ketika kita mengalaminya. Apalagi sikap mengampuni yang harus kita ambil atau berikan kepada orang yang bersalah kepada kita. Pengajaran Kristus ini termuat dalam Doa Bapa Kami, doa yang diajarkannya sendiri.

    Salah atau benar, vonis yang dijatuhkan kepada Ahok, hanya Ahok dan Tuhan yang tahu kebenaran itu secara mutlak. Karena itu Ahok meyakini bahwa ia sama sekalipun memiliki niat apapun untuk menista agama Islam. Keyakinan Ahok ini dapat kita baca dalam suratnya baik secara tersurat maupun secara tersirat sebagaimana pada paragraf yang penulis kutip di atas – juga pledoinya dalam persidangannya.

    Mengampuni dan menerima menjadi kunci kemenangan Ahok. Paling tidak ia memenangkan dirinya dari situasi di luar dirinya. Sehingga memupuk keberanian untuk menerima segala keputusan. Sepahit apapun keputusan tersebut.

    Sikap ini hanya dimiliki oleh orang yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi. Siapapun dia baik awam maupun kaum ulama. Rohaniwan-rohaniwati memiliki rutinitas kehidupan spiritual.Doa dan sebagainya. Mereka menjalani rutinitas keagamaan secara teratur. Namun, itu semua tidak menjamin mereka memiliki kualitas spiritualitas itu dalam kehidupan nyata. Secara kasat mata kita melihat kuantitas kehidupan rohaninya, tapi apakah hal tersebut sejalan dengan kualitas kehidupan rohani itu sendiri.

    Ahok adalah sosok yang bukan seorang rohaniwan (tokoh agama atau orang yang berkecimpung di dunia kerohanian). Ia hanyalah orang awam yang memiliki spiritualitas yang tak diragukan. Dasar keimanannya kokoh. Ketaatannya pada ajaran Kristus adalah bukti iman yang kokoh tersebut. Ia pun tak gentar menghadapi situasi apapun. Ini terpancar dari aura wajahnya.Perilaku hidup ini merupakan manisfestasi iman yang hidupo yang tertanam dan tumbuh di dalam dirinya. Ia jalankan dalam pelayanan sebagai seorang ayah dan pemimpin masyarakat.

    Daya mengampuni hanya dimiliki orang yang menyerahkan segala perkara hidupnya secara total kepada Tuhan. Keyakinannya ini tersurat dalam surat yang dibacakan oleh ibu Vero usai kunjungan dari Makob Brimob.

        Gusti Ora Sare, put your hope in the lord, now and always (Tuhan tidak tidur, letakan segala pengharapanmu pada Tuhan, sekarang dan selamanya).

        Kalau dalam iman saya, saya katakan: the Lord will work out his plans for my life (Tuhan akan bekerja sesuai rencananya atas hidup saya).

    Sikap mengampuni Yesus menjadi sumber keteladanan dan inspirasi tokoh di dunia. Paus Johannes Paulus II mengampuni Ali Alcqa, teroris, yang menembaknya di lapangan Santo Petrus. Nelson Mandela mengampuni sang sipir yang berlaku kasar dengan meludahinya di penjara. Dan, masih banyak tokoh lain yang mampu memberikan pengampunan secara total. Tidak setengah-setengah.

    Yesus dapat mengampuni serdadu yang bertindak kasar kepadanya karena ia memiliki daya pengampunan yang besar. Mendiang Paus Johannes Paulus II memaafkan penembaknya merupakan hal lumrah karena kehidupan spiritualitasnya. Tapi, bagi Mandela dan Ahok, merupakan sosok yang langka. Kehidupan spiritual mereka nyaris tak tersentuh. Aktivitas mereka di dunia politik praktis menutup rutinitas kehidupan religius mereka.

    Kita sering beranggapan bahwa ulama agama apapun lebih “dekat” dengan Tuhan. Karena praktis hidup mereka baik pekerjaan maupun topik pembicaraan mereka seputar Tuhan. Ayat-ayat suci mereka hafal diluar kepala. Belum lagi pakaian gamis seperti jubah yang mereka kenakan. Mereka menenteng tasbih, rosario atau menggantung salib besar di leher. Hal-hal yang tampak ini bukan jaminan. Mereka memiliki status tersebut, tetapi jiwa mereka kecut. Bahkan mereka kerap berlindung di balik ayat-ayat untuk kepentingan sesaat (duniawi). Ini terjadi di lingkungan agama manapun.

    Ahok membuktikan diri sebagai pribadi awam yang tangguh dalam iman. Bukan sosok ulama, pastor atau pendeta yang sehari-hari berbicara ayat-ayat suci. Ahok sungguh menghayati sesuatu yang diimaninya, melampaui mereka yang sering berbicara mengatasnamakan Tuhan dan menjaminkan adanya surga bagi siapa saja – sekalipun sikap dan perilaku bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.

    Mengampuni orang yang telah memenjarakan (tersirat dalam suratnya) merupakan spiritulitas nyata Ahok. Hanya orang-orang yang memiliki derajat spiritualitas tinggi mampu mengampuni orang lain serta dapat berdamai dengan suasana di sekitarnya (baca: menerima keadaan). Mereka tidak akan frustasi apalagi melarikan diri. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi berjiwa besar. Menghadapi segala ujian dan cobaan hidup dengan keyakinan yang teguh pada Tuhan, andalannya.

    Spiritualitas itu nyata dalam kehidupan religinya. Kehidupan doa dan laku tapa serta penghayatannya akan Firman Tuhan yang tak tampak oleh mata kita. Karena Ahok melakukan semua itu bukan untuk menarik simpatik masyarakat. Di dalam kesepian dan ruang tak terjangkau oleh mata ia memilih untuk menarik simpatik Tuhan daripada simpatik dan empati manusia.

    Terhadap kehidupan harian Ahok yang tak terlihat ini mengingatkan saya akan kata-kata seorang bidan di salah satu rumah sakit negeri.

        “Semakin kita berdoa, semakin kita mengampuni orang lain.”

    Pertanyaan bagi kita: apakah mereka yang sering menjustifikasi dirinya dekat dengan Tuhan, berteriak nama Tuhan,  dan menjamin surga bagi pengikutnya memiliki daya pengampunan? Belum tentu!

    Maka, kehidupan spiritual atau kerohanian harus berjalan linear dengan kehidupan nyata seseorang serta praktek hidup nyata. Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Inilah sumber daya pengampunan – mengampuni orang lain dan memberi diri (baca: berkorban) untuk orang lain.

    Salam Seword, sewot gitu loh


    Penulis :  Giorgio Babo Moggi  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengampuni dan Memberi, Daya Spiritualitas Ahok yang Menginspirasi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top