728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 31 Mei 2017

    Menanti Janji Revolusi Pornografi Usai Idul Fitri

    Polisi telah menetapkan pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Syihab, sebagai tersangka dalam kasus pornografi. Pengacara Rizieq, Kapitra Ampera, menyatakan kliennya akan pulang setelah Ramadan. Kepulangan Rizieq itu disebutnya akan menandai adanya revolusi putih. “Kami mulai perang dengan hukum. Kami menggunakan instrumen hukum secara konstitusional,” kata Kapitra.

    Sementara itu, kuasa hukum Rizieq Shihab yang lain, Sugito Atmo Pawiro, menyebut akan ada pengerahan massa Front Pembela Islam (FPI) saat kliennya pulang dari Arab Saudi. Ia berharap massa yang menjemput Rizieq bisa datang sebanyak-banyaknya sehingga bisa melumpuhkan bandara. Sugito mengatakan kliennya itu masih ada di luar negeri meski sudah jadi tersangka kasus pornografi. Rizieq baru akan pulang ke Indonesia setelah massa FPI benar-benar siap menjemputnya.

    Memang, seruan untuk melumpuhkan jalan sudah diumumkan oleh FPI dalam sebuah akun Twitter. Pengumuman itu ditujukan kepada semua yang sedang menganggu kedatangan Rizieq Syihab.  Dalam postingan itu ditulis, “Ayo sambut kedatangan Imam besar umat muslim Indonesia, Habib Rizieq Shihab bersama keluarga di Bandara Soerkarno-Hatta. Tutup semua jalan menuju terminal. Jangan beri kesempatan bagi semua yang menganggu kedatangannya. Tunggu tanggal mainnya”.

    Dari pernyataan kedua pengacara Rizieq Syihab di atas, tampaknya pihak Rizieq Syihab mencoba memberi ancaman kepada kepolisian dengan rencana turunnya massa FPI, yakni ancaman untuk melumpuhkan bandara dengan cara membanjiri jalanan sekitar bandara dengan massa FPI maupun ancaman melakukan revolusi putih di jalanan ibukota, tampaknya semacam yang pernah mereka lakukan beberapa kali saat menuntut penuntasan kasus Ahok tempo hari.

    Mudah ditebak, isu yang akan diangkat kelak untuk membangkitkan histeria massa demonstrasi adalah tuduhan “kriminalisasi ulama”. Memperhatikan karakteristik massa FPI serta aksi-aksi yang selama ini mereka lakukan, besar kemungkinan isu itu akan ditelan tanpa banyak pertanyaan. Lihat saja, bagaimana test the water yang telah dilakukan melalui kampanye “Saya Percaya Ulama” atau “Saya Percaya Rizieq Syihab” memperoleh sambutan cukup luas di media sosial, meskipun tampaknya masih jauh dari target 7 juta status.

    Tampaknya, Rizieq Syihab dan para pendukungnya saat ini tengah menghitung dengan cermat, menganalisis situasi dan kondisi untuk menentukan langkah yang terbaik menanggapi beragam kasus hukum yang menjerat imam besar FPI itu. Karena, memang isu “kriminalisasi ulama” ini disadari tidak terlalu atraktif dibandingkan isu “penistaan agama” yang sangat mudah digoreng untuk membangkitkan emosi dan mendatangkan massa dalam jumlah besar ke ibu kota.

    Para ahli taktik di belakang Rizieq Syihab tentu telah menghitung bahwa beberapa test yang telah dilakukan menunjukkan bahwa antusiasme massa untuk turun ke jalan membela Rizieq Syihab tidak akan mungkin sebanyak saat isu dugaan penistaan agama oleh Ahok dulu. Mereka yang akan tetap turun ke jalan membela Rizieq Syihab kemungkinan adalah massa inti FPI serta beberapa ormas radikal lainnya.

    Sementara itu, massa yang dahulu ikut turun ke jalan karena hadirnya persamaan kepentingan untuk mendukung Anies Baswedan dan sekaligus menggerus elektabilitas pesaingnya, mungkin sekarang tak akan lagi berminat untuk ikut serta membela Rizieq Syihab dengan cara turun ke jalan. Selain karena ketiadaan kepentingan yang kuat untuk membela, mereka juga diliputi keraguan tentang alasan untuk ikut serta turun ke jalan.

    Apalagi, jika saat menyikapi isu penistaan agama dahulu ormas-ormas keagamaan yang moderat sekalipun mendorong penyelesaian hukum segera, saat ini hampir semua kompak menganjurkan Rizieq Syihab segera pulang untuk menghadapi kasus hukum yang menjeratnya. Bahkan, Ketua Umum MUI, K.H.Ma’ruf Amin pun juga menyuruh Rizieq Syihab segera kembali ke Tanah Air untuk menyelesaikan kasus pornografi yang dihadapinya.

    Untuk menggerus minat masyarakat mengikuti aksi-aksi jalanan membela Rizieq Syihab, kepolisian perlu lebih rajin dan jelas menyampaikan kepada masyarakat bukti-bukti apa saja yang telah dimiliki untuk menetapkan Rizieq Syihab sebagai tersangka pornografi. Misalnya, perlu ditegaskan telah adanya pernyataan saksi ahli yang memastikan bahwa gambar porno yang ada di telepon genggam itu asli adanya, bukan rekayasa.

    Selain itu, polisi juga perlu menekankan telah adanya bukti dari Telkom, yakni catatan transmisi yang cocok antara telepon genggam Rizieq dengan telepon genggam Firza. Dengan komunikasi yang rajin, baik dan jelas, kepolisian dapat mencegah masyarakat tertipu bujuk rayu dan isu-isu palsu.



    Penulis :   Ali Mutasowifin    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menanti Janji Revolusi Pornografi Usai Idul Fitri Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top