728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 24 Mei 2017

    Membedah Surat Ahok

    Hari ini, Selasa 23 Mei 2017, Veronica Tan, istri Ahok, didampingi tim penasihat hukum, membacakan surat yang ditulis oleh pak Ahok sendiri mengenai alasan pencabutan gugatan banding. Berikut analisa penulis atas surat tersebut.



    Ahok Telah Tenang dan Berpikir Jernih
        Rumah tahanan Depok, Minggu 21 Mei 2017

        Kepada para relawan dan pendukung Ahok yang saya cintai semua mereka yang telah menjalani proses demokrasi di mana pun berada. Saya telah banyak berpikir tentang yang sedang saya alami.
    Pertama, surat ditujukan kepada relawan, pendukung, dan semua yang telah menjalani proses demokrasi. Pada paragraf pertama ini, Ahok ingin menunjukkan bahwa selama di rumah tahanan, Ahok sehat dan dapat semakin mematangkan pikirannya. Dengan tidak diganggu oleh segala kesibukan dan rutinitasnya, juga tidak diganggu timses serta segala kompornya. Hari penulisan surat di hari Minggu pun seakan menunjukkan bahwa Ahok menuliskan ini setelah dia berkonsultasi kepada Tuhannya.

    Dari semua ketenangan yang beliau dapatkan, beliau akhirnya mendapatkan keberanian untuk sampai pada keputusan mencabut gugatan banding. Oleh karena itu, jika anda benar-benar peduli, maka anda harus tahu, bahwa keputusan ini diambil dengan telah mempertimbangkan banyak hal, dan beliau sendiri percaya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan untuk kita semua.

        Saya mau berterimakasih kepada saudara-saudara yang terus mendukung saya dalam doa. Kiriman doa, makanan, kartu ucapan, surat dan lain-lain, bahkan dengan berkumpul nyalakan lilin. Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima kenyataan seperti ini apalagi saya.

    Pada paragraf ini, Ahok ingin mengatakan bahwa pesan dan dukungan yang dilakukan oleh relawan di seluruh dunia, telah sampai kepadanya. Dan beliau mengapresiasi hal itu. Beliau juga merasakan kesedihan yang kita rasakan. Beliau merasakan keinginan pendukungnya untuk terus berjuang, dengan semangat yang sama dengan semangat yang akhirnya melahirkan Teman Ahok, “Pak Ahok tidak akan berjuang sendirian.”. Selama Pak Ahok masih berjuang, selama itu pula para pendukungnya akan menemani, sampai kapan pun.

    Kata “Apalagi saya.” pada bagian ini ingin menunjukkan bahwa yang berjuang paling berat adalah beliau, bukan pendukungnya. Masalahnya, semakin besar nyala semangat pendukung Ahok, semakin berat pula tanggung jawab yang harus dipikul oleh Ahok. Ahok adalah orang yang ketika disodorkan masalah, beliau tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan langsung melakukan tindakan solusi, contoh, waktu ada laporan penarikan KJP di toko yang nakal, laporan hanya mendapatkan ucapan terima kasih, bukan saran harus melakukan apa, namun selang berapa hari, muncul petugas yang menertibkan.

    Ahok sering berseloroh bahwa beliau terjun ke politik bukan atas keinginannya sendiri, melainkan karena ada yang mendorongnya nyemplung ke kolam buaya, jadi mau tidak mau, dia harus bertahan hidup di kolam berisi buaya-buaya politik. Saat ini dengan seluruh kobaran aksi simpatik, ditambah dengan posisinya yang tidak bisa berbuat banyak selain menulis dan berdoa, membuat beliau semakin sedih karena beliau tidak dapat berbuat apapun, apalagi dengan pengetahuannya mengenai sistem hukum tanah air, beliau tahu, bahwa aksi yang dilakukan relawan serta pendukungnya tidak akan menghasilkan buah yang diinginkan, yaitu kebebasan Ahok.
    Skenario untuk Kebaikan Berbangsa dan Bernegara


        Saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara.

    Kalimat inilah yang paling menarik dan sekaligus menjadi inti dari surat Ahok ini. “Telah belajar” menunjukkan bahwa beliau pada awalnya tidak menerima, tentu saja hal ini bisa dimaklumi, karena dengan segala semangat perjuangan oleh pengikut beliau yang selalu ada sekelilingnya, Pak Ahok pasti semakin berapi-api. Pada banyak kesempatan, Ahok terlihat mudah sekali terprovokasi, termotivasi atau bahkan latah, dalam arti positif maupun negatif, misal terprovokasi marah ketika dirongrong mengenai anggaran siluman, juga ketika dengan mudah Ahok mengeluarkan uang kepada orang yang datang meminta bantuan sambil menangis, sampai ketika beliau terprovokasi untuk stand-up komedi, joget bali, disco, joget arab, bahkan dalam suatu kesempatan Pak Ahok pernah bercerita kalau beliau sempat latah ikut berlari dan masuk ke barisan PNS guna menyambut kedatangan Pak Lurah saat beliau telah menjabat Gubernur. Kalimat “telah belajar” ini menunjukkan Ahok akhirnya mendapat suatu pengetahuan atau kebijakan disaat tenangnya serta masih dalam proses untuk menerima hal yang berat ini.

    Kemudian, penggunaan kata “Jika” membuat kalimat ini semakin menarik. Karena “jika” ini membuat kalimat ini seakan-akan ditujukan pada seseorang atau sekelompok orang. Kecurigaan ini dikuatkan dengan fakta kepada siapa surat ini ditujukan. kita ketahui pada awal surat bahwa surat ini juga ditujukan untuk semua yang telah menjalani proses demokrasi. Sekali lagi, semua. Kalimat sebelum kalimat ini jelas ditujukan untuk relawan dan pendukung Ahok, namun kalimat ini lain. Relawan dan pendukung hanya dapat menjalankan segala sesuatunya sesuai hukum dan konstitusi, dan kubu relawan serta pendukung sangat tidak mungkin menjadi pemicu pecahnya kerusuhan di negeri ini.

    Ahok kemungkinan mendapat info atau bisikan dari seseorang, atau mungkin juga sampai pada kesimpulannya sendiri, mengenai skenario-skenario terburuk yang mungkin akan terjadi apabila beliau terus berjuang. Kemungkinan lainnya adalah beliau disodorkan skenario baik yang bisa dijalankan hanya apabila Ahok menyerah.

    Terlihat Ahok sendiri tidak yakin bahwa si pembisik skenario “untuk kebaikan berbangsa dan bernegara” itu dapat menuntaskan janjinya. Ahok sadar bahwa skenario itu belum tentu bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan beliau, karena beliau sama sekali tidak akan memegang kendali apapun apabila mencabut gugatan bandingnya. Beliau hanya bisa pasrah.

    Pengunaan “jika” ini pun bisa terdengar seperti “wanti-wanti” kepada orang yang membisikkan skenario itu. Apabila janji “kebaikan berbangsa dan bernegara” itu dilanggar, maka beliau bisa jadi “gagal belajar” serta kembali menyikat habis semuanya.


    Ibarat kata pepatah “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, Ahok sadar dengan melanjutkan gugatan banding, apabila dikalahkan di Pengadilan Tinggi, hukuman yang harus dijalani adalah minimal sama, biasanya malah jadi lebih berat. Dan apabila menang, gelombang-gelombang demonstrasi nomor togel akan semakin banyak dan rutin. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Posisi Ahok sudah terpojok.


    Kerusuhan bisa Terulang Kembali

        Alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas.Tidak tepat untuk unjuk rasa dalam proses saat ini. Saya khawatir banyak pihak akan menunggangi jika para relawan unjuk rasa apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.

    Kalimat “Saya khawatir banyak pihak akan menunggangi” merupakan konfirmasi dugaan kalimat sebelumnya mengenai perpecahan yang dapat terjadi kapan pun, sekaligus merupakan konfirmasi atas skenario buruk yang mungkin terjadi apabila Ahok dimenangkan dalam gugatan bandingnya.

    Tidak bisa kita pungkiri bahwa keadaan saat ini Indonesia terpecah antara kubu pendukung NKRI berbhineka melawan kubu daster tanpa BH. Kubu NKRI adalah rakyat yang mulai bergerak dengan nurani, hati, serta semangat juang Ahok, melawan kubu militan yang diduga bergerak dengan dana masif dari sponsor elit politik.

    Jadi, pada kalimat ini, Ahok seakan ingin meredam semangat juang para pendukungnya. Karena, kubu NKRI, para silent majority, rakyat yang ingin berjuang ini dirasa belum cukup besar untuk melawan kelompok dibalik demo togel. Sehingga keadaan terlihat benar-benar berat sebelah. Keadaan ini dapat menjadi perpecahan kapan pun dan korbannya pastilah rakyat kecil pembela dan pendukung Ahok. Dengan matinya semangat purnama, Ahok berharap kubunya mengalah dulu, seperti kata pepatah jaman dulu, sing waras ngalah.

    Suka atau pun tidak suka, Ahok telah menjadi simbol perlawanan, seperti Munir, Ahok telah menjadi kekuatan batin bagi perlawanan kepada intoleransi di negeri ini.

    Paragraf ini juga menunjukkan sisi humor Ahok. Menunjukkan bahwa beliau sungguh sehat. Apalah arti kemacetan bagi warga Jakarta yang setiap hari memang melihat kemacetan. Istilah “kalau tidak mau macet, mending jangan ke Jakarta” telah mendarah daging di warga DKI. Apalagi demonstrasi, yang sejak jaman SBY jadi semacam rutinitas dan bagian dari kota Jakarta tercinta ini. Apalah arti itu semua dibandingkan dengan kebebasan simbol perjuangan kami?


    Ajakan Doa untuk Negeri


        Terima kasih telah melakukan unjuk rasa sesuai aturan dan menyalakan lilin perjuangan dan konstitusi ditegakkan di NKRI dan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Mari kita tunjukkan kalau kita percaya Tuhan tetap berdaulat dan pegang kendali setiap bangsa. Kita tunjukkan kita beriman pada Tuhan Yang Maha Esa pasti kasihi sesama manusia dan tegakkan kebenaran dan keadilan bagi sesama manusia.

        Gusti ora sare. ‘Put your hope in the lord now and always’. Mazmur 131 ayat 3. Kalau dalam iman saya, saya katakan ‘lord will work out his plan for my life’ Mazmur 138 ayat 8a.

        Ahok BTP

        Terima kasih.


    Pada paragraf terakhir ini, Ahok mengajak pendukungnya menyalurkan semangat juangnya dengan berdoa untuk negeri. Ya, berdoa untuk negeri. Kalimat “tidak tepat untuk unjuk rasa dalam proses saat ini.” menguatkan keinginan Ahok agar menyalurkan semangat unjuk rasa kepada Tuhan. Ahok tidak lagi memegang kendali atas apa yang terjadi. Ahok sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Beliau pun sadar, bahwa skenario buruk yang mungkin terjadi hanya dapat dicegah dengan campur tangan Tuhan, beliau sadar manusia tidak bisa berbuat banyak.

    Ahok adalah orang yang sangat taat pada konstitusi, sehingga beliau berterimakasih karena para pendukungnya telah menghormati konstitusi itu dengan tidak berbuat anarkis. Beliau tidak menyangkal telah mengucapkan kalimat kontroversial di Kepulauan Seribu, beliau pun menerima bahwa ada sebagian umat Muslim yang tersakiti oleh kalimat itu. Meskipun beliau tidak bermaksud menyakiti, tanpa dia sadari, dia telah menyakiti. Terkadang pun, tanpa kita sadari, kita bisa menyakiti orang yang sangat kita cintai, meskipun kita tidak bermaksud seperti itu. Ahok berkali-kali minta maaf dan menyesal, mari kita tambahkan doa agar setelah Ahok selesai menjalani hukumannya, hati kecilnya dapat memaafkan dirinya sendiri karena telah menyakiti orang-orang yang dia cintai.

    Jangan jadikan pengorbanan Ahok sia-sia. Jaga keutuhan NKRI. Hapus amarahmu, hapus kebencianmu, maafkanlah mereka karena mereka hanya diperalat. Mulailah merangkul sesama, mulailah dengan teman disebelah anda, bersalaman dan katakan padanya bahwa kita bersaudara dalam Indonesia. Mari bersama-sama kita wujudkan cita-cita Indonesia untuk Pak Basuki Tjahaya Purnama.


    Penulis : Koko.   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Membedah Surat Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top