728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 30 Mei 2017

    Kulihat Bacang di Piringku, Kukenang Tokoh Luar Biasa Ini, dan Kuingat Ahok (Part 2)

    Tulisan ini adalah kelanjutan dari bagian pertama yang dapat dibaca di: Kulihat Bacang di Piringku, Kukenang Tokoh Luar Biasa Ini, dan Kuingat Ahok (Part 1)

    Apa Yang Dapat Kita Pelajari

    Kemuliaan Qu Yuan bukan terletak pada bunuh dirinya. Jangan sembarangan ikut bunuh dirinya ya bro and sis! Bahaya sekali!

    Jangan hanya ikut lapisan luar saja dong. Menurut penafsiran sebagian pihak, Qu Yuan mengorbankan dirinya, karena mungkin di dalam jiwanya, dia tidak bisa memaafkan dirinya. Beliau mungkin merasa tidak berhasil menyadarkan sang raja, yang berdampak pada keruntuhan negaranya. Keberadaannya di alam semesta ini sudah tidak memiliki arti lagi karena negaranya sudah tidak ada lagi.

    Sebegitu cintanya seorang Qu Yuan kepada negaranya, dan begitu mendalamnya rasa berbaktinya kepada nusa dan bangsanya, sampai-sampai ia merasakan bahwa hidupnya sudah tidak memiliki tujuan lagi ketika negaranya sudah tidak ada. Jiwa seperti ini, kesetiaan seperti ini, dan keluhuran hati seperti ini, tidak bisa dimiliki oleh sembarangan orang ya.

    Mungkin kalau kita ya…… raja kita sudah mati, kesempatan untuk kita pulang kampung, menikmati hidup, pension, berkumpul bersama anak istri, ya bukan? Apalagi kalau pejabat korup, mungkin ya tinggal menikmati saja hasil korupsinya selama menjabat, tinggal kipas-kipas saja, hahaha.

    Tetapi tidak untuk seorang Qu Yuan. Bercinta dengan anak istri itu bukan cita-cita hidupnya (cita-cita setiap orang berbeda). Mencari kesenangan, kemuliaan, makan enak, itu bukan harapan hidupnya! Hidup Qu Yuan adalah hanya untuk bekerja untuk bangsa dan rakyatnya!

    Dan ketika bangsa nya telah dihancurkan, Ia merasa keberadaannya tidak ada arti lagi, sehingga mayat pun dia malu untuk disisakan di dunia, sehingga sampai mati pun Ia tidak melepaskan batu yang dipeluk itu. Sungguh mengharukan sekali ya!

    Lalu kalau kita menarik kisah Qu Yuan kepada apa yang terjadi terhadap seorang Ahok, ada beberapa hal yang dapat kita insafi. Mungkin kalau kita jadi Ahok, ya sudahlah, toh saya selama ini bekerja mati-matian untuk bangsa dan warga negara ini (dari Belitung, DPR RI, Wakil Gubernur hingga Gubernur), saya malah dapat perlakuan seperti ini (masuk penjara karena difitnah).

    Kalau kita menjalani apa yang dijalani Ahok, mungkin kita akan berpikir seperti ini. Untuk apa lagi mencintai bangsa ini, toh bangsa ini telah gagal melindungi seorang pejabat yang bersih dan setia seperti saya. Untuk apa lagi memikirkan nasib rakyat, toh rakyat tidak mau memilih saya. Jalan mau macet, negara mau kacau, peduli amat? Yang penting saya menggunakan hak saya untuk mencari keadilan!

    Tetapi Ahok tidak begitu! Camkan itu, Ahok tidak berpikir demikian! Apa buktinya? Baca saja isi suratnya dari penjara, ia memikirkan kesusahan yang akan dijalani oleh rakyat Jakarta jika ada demonstrasi-demonstrasi terus-terusan.

    Ia juga tahu bahwa bisa saja ada pihak yang menunggangi aksi unjuk rasa relawannya, dan bisa saja berdampak kepada hal-hal yang tidak kita inginkan, yang diinginkan oleh mereka yang ingin mengganti undang-undang dan dasar negara ini-kehancuran negara Indonesia. Ahok pun memilih untuk melepaskan haknya untuk mengajukan banding. Ia mengorbankan dirinya, dengan jiwa besar, dengan arif dan bijaksana.

    Untuk kita semua, para warga negara Indonesia. PERTAHANKANLAH NEGERI INI! Jangan nanti jika negeri kita telah hancur, rumah Pancasila telah runtuh, dan burung garuda di Bhinneka Tunggal Ika telah mati, barulah kita menyesal karena tidak mempertahankannya sekuat tenaga.

    Nilai-nilai mencintai nusa dan bangsa, semangat rela mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan negara dan rakyat, dan tetap setia kepada negara meskipun sudah diperlakukan tidak adil serta difitnah. Ketiga hal ini lah yang layak untuk kita belajar dari tokoh Qu Yuan dan seorang Ahok.

    Kulihat Bacang di piringku, dan Kuingat Ahok

    Ada baiknya, kita sebagai pemuda pemudi yang mempunyai budaya untuk makan bacang di hari perayaan ini untuk mengerti sedikit apa maknanya. Pada saat makan bacang, janganlah yang ada di pikiran kita hanya mengapa ukuran bacang saya kecil? Kenapa tidak enak? Kenapa mahal? Kenapa cuma 1? Jangan itu yang kita pikirkan ya! Bukan juga lalu kita memikirkan mengapa saya tidak sempat menonton perayaan Festival Perahu Naga!

    Bacang tidak penting, Perahu naga tidak penting. Yang terpenting adalah mengenang dan mengingat tokoh-tokoh negarawan yang begitu berbakti kepada nusa dan bangsanya, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh seorang Qu Yuan dari Tiongkok.

    Bacang tidak penting, Perahu naga tidak penting. Yang terpenting adalah kita menyempatkan diri bahwa kini sedang ada seorang pejabat yang begitu mencintai negara dan warganya, namun sekarang sedang menjalani hukuman penjara karena difitnah. Doakanlah agar ia kuat dan keluarganya agar tabah menjalani semua ini.

    Mari kita ukir dalam hati kita. Mari kita jadikan beliau-beliau ini inspirasi kita, untuk membuat kita yang lemah menjadi kuat, lebih kuat dalam berhadap-hadapan dengan masalah-masalah di dalam hidup kita!

    Penutup

    Selamat merayakan Hari Makan Bacang dan Festival Perahu Naga untuk kalian yang merayakan ya! Untuk yang berpuasa, maaf kalau baca tulisan saya ada senggol-senggol makanan lalu menjadi lapar, hehehe.

    Budaya makan bakcang dan perahu naga ini sudah berlangsung selama 2000 tahun lebih. Kalaulah festival ini tidak baik, pasti telah akan dieliminasi oleh zaman dan tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang ya.

    Manusia sekarang begitu pintar, teknologi begitu maju, dan peradaban telah berubah begitu drastis. Namun manusia kan punya hati nurani, dan itulah penyebabnya mengapa sebuah perayaan tentang seorang tokoh yang ceritanya sudah berapa ribu tahun lalu ini masih terus bertahan.

    Sejarah tidak akan bisa berbohong. Bertahannya budaya dan perayaan ini sampai sekarang membuktikan bahwa sungguh mulia tokoh di balik Festival Perahu Naga ini! Sungguh patut kita mengingat, mengenang, dan paling tidak mengetahui asal usulnya.

    Qu Yuan dikenang ribuan tahun oleh umat manusia. Ahok bagaimana? Ahok masih hidup, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Namun jika Ahok tidak berubah, tetap menjadi dirinya, dan tetap mencintai Indonesia ini, saya takut dan khawatir sekali.

    Saya takut dan khawatir bahwa kelak ketika ia pergi meninggalkan dunia ini, rakyat Indonesia dan dunia akan mengingat, mengenang dan mendambakannya, untuk waktu yang entah berapa tahun lamanya….

    Penulis :  Power Aryanto Famili   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kulihat Bacang di Piringku, Kukenang Tokoh Luar Biasa Ini, dan Kuingat Ahok (Part 2) Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top