728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 30 Mei 2017

    Kulihat Bacang di Piringku, Kukenang Tokoh Luar Biasa Ini, dan Kuingat Ahok (Part 1)

    Bulan 5 hari ke 5 dalam kalender pertanian (tradisional Tionghoa) adalah hari perayaan Duan Wu. Tanggal ini adalah hari libur nasional yang besar di Tiongkok dan Taiwan, dan juga dikenal sebagai Dragon Boat Festival dalam bahasa inggris. Pada tahun 2017 ini, perayaan ini jatuh pada tanggal 30 Mei 2017 (Selasa). Hari besar ini merayakan seseorang yang sangat sangat luar biasa di tengah-tengah dunia ini dalam sejarah Tiongkok, yang bernama Qu Yuan. Mungkin banyak dari pembaca yang tidak mengetahui sejarahnya, maka izinkanlah saya untuk memberi sedikit ringkasan dari apa yang saya tahu (maaf bila tidak tepat 100%) dan saya baca.

    Qu Yuan bukanlah seorang panglima perang, bukan seseorang yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan kuat, melainkan adalah seorang sipil. Qu Yuan tidak memegang pedang, tapi ia adalah seorang negarawan dan penyair yang mempunyai jiwa pahlawan, yang hidup di sekitar tahun 340-287 Sebelum Masehi (Sumber).

    Pada waktu itu, ada 3 kerajaan di negeri Tiongkok yaitu: Qi, Chu, Qin. Qin adalah negara yang paling kuat, dan Qu Yuan adalah seorang pejabat (sejenis Menteri kalau sekarang) di negara Chu. Dia sangat mengerti politik, dan ia tahu bahwa negara Chu harus berhasil mendapat kerjasama dengan negara Qi, sehingga negara Qin tidak berani menyerang keduanya. Sayangnya, menteri-menteri yang lain cemburu dan iri melihat Qu Yuan yang mendapat kepercayaan Raja Huai (raja negara Chu), sehingga mereka memfitnah bahwa Qu Yuan sering membocorkan rahasia negara (atau sejenisnya), dan dipercaya saja oleh sang raja yang bodoh yang lalu mengusir Qu Yuan dari istana.

    Setelah banyak kehilangan wilayah kekuasaan karena memutuskan hubungan dengan negara Qi dan lalu diserang negara Qin, Raja Huai pun menyesal. Dia lalu memanggil Qu Yuan kembali ke istana. Qu Yuan dengan senang hati, tidak mengingat yang lalu-lalu dan tidak dendam. Dengan kemampuan dan kebijaksanaannya, ia lalu mampu menjalin lagi hubungan dengan kerajaan Qi dan mendatangkan kedamaian kepada negaranya.

    Tapi, sekali lagi Qu Yuan difitnah oleh menteri-menteri jahat itu, sehingga raja Huai tidak percaya lagi padanya. Meskipun telah dilarang oleh Qu Yuan, Raja Huai pergi ke negara Qin atas undangan perundingan pengembalian wilayah kekuasaan yang telah direbut. Hasilnya? Raja Huai ditangkap, disandera beberapa tahun, dan akhirnya dibunuh disana. Penerus tahtanya adalah putranya. Atas hasutan dari orang di sekitarnya, Qu Yuan pun diusir lagi oleh sang raja yang baru, dan akhirnya ia pulang ke kampungnya.

    Di kampungnya, Qu Yuan dihina, dicemooh, karena beliau dianggap sebagai menteri yang jahat yang baru dipecat. Ia membawa kesedihannya hanya pada suatu tempat yaitu di tepi sungai yang bernama Mi Luo. Di tepi Mi Luo Jiang itulah beliau meninggalkan berjuta-juta jejak kakinya, merenung dan bersedih hati. Setiap hari ia menulis surat untuk menyadarkan sang raja muda, tapi surat-surat itu tidak pernah dihargai. Sehari demi sehari, setahun demi setahun, sampai 20 tahun Qu Yuan menulis surat! Dengan rasa hormat yang tidak kurang sedikit pun juga! LUAR BIASA!

    Mulai bosan karena membaca sejarah? Okay, singkat kata, dua puluh dua tahun kemudian, akhirnya tiba saatnya kerajaan Qin menghancurkan kerajaan Chu. Saat itu Qu Yuan sudah berumur 78 tahun. Dengan kepala yang penuh dengan rambut putih, dia berjalan di tepi sungai Mi Luo Jiang. Dia mendengar bahwa kerajaan Chu sudah musnah. Raja sudah mati dibunuh. Ia pun lalu mengambil batu yang besar dari bukit ke tepi sungai Mi Luo, lalu Ia melompat ke dalam sungai tersebut, sampai akhir hidupnya beliau tidak melepaskan batu itu! Lalu batu itu membuat mayatnya turun sampai ke dasar yang terdalam.

    Hanya setelah inilah rakyat di kampungnya menyadari bahwa Qu Yuan adalah seorang suci yang begitu luhur jiwanya. Ternyata Ia begitu jujur dan cintanya kepada bangsa begitu besar. Akhirnya orang kampung banyak yang terjun ke dalam sungai Mi Luo, untuk mencari mayat Qu Yuan. Tetapi tidak pernah bisa ditemukan mayatnya yang tidak timbul. Ibu-ibu dan anak-anak selalu menunggu di tepi sungai, namun SAMPAI HARI INI PUN mayat nya tidak pernah timbul.

    Berhari-hari hingga berminggu-minggu orang kampung berenang kesana kemari, dan juga menggunakan perahu sambil menabuh genderang untuk mengusir ikan dan roh-roh jahat dari tubuh Qu Yuan. Berbulan-bulan rakyat menunggu, tapi mayatnya tidak pernah timbul. Dengan bersedih hati, dengan merasa berhutang budi, dengan rasa berdosa karena pernah menghina Qu Yuan, mereka berpikir bahwa supaya mayat itu tidak dimakan ikan, tidak dilukai oleh buaya, ada satu cara yaitu ikan-ikan di sungai Mi Luo itu harus dipelihara dan dibuat kenyang. Caranya? dengan memberikan ikan-ikan itu makan bacang (dulu yang ada hanya ‘kicang’ yang tidak ada isinya).

    Pikiran yang jujur dan lugu. Semoga ikan-ikan itu makan bacang itu, dan kalau sudah kenyang sehingga tidak makan mayat Qu Yuan di dasar sungai itu. Sedangkan yang pria, dengan perahu setiap hari mendayung dari hilir ke hulu, hulu ke hilir, tidak pernah menemukan mayat Qu Yuan. Lalu lama-lama jadilah itu kebiasaan, kebiasaan berlomba cepat, dan karena kepala perahunya berbentuk naga, diberi lah nama festival perahu naga atau Dragon Boat Festival, dan pada hari yang sama juga orang makan bacang.

    Foto: kutaikartanegara.com

    Dan Apa Hubungannya dengan Indonesia dan Ahok?

    Kasus Ahok memang tidak sama persis dengan kisah Qu Yuan, dan ditambah lagi Ahok masih hidup dan kita tidak tahu apakah masih akan ada lagi cerita-cerita yang akan kita dengar dan lihat dari pria yang telah berumur setengah abad dan bernama Basuki Tjahaja Purnama itu.

    Namun, tidak tahu mengapa, ini hanyalah respon yang alami dari hati nurani saya, makan bacang jadi ingat dengan Qu Yuan, dan ingat Qu Yuan lalu membuat saya mengingat Ahok. Mungkin juga karena kasus Ahok ini memang lagi hot dibicarakan ya.

    Sebelumnya, saya tidak bermaksud jelek atau menyebarkan sentimen negatif ketika membandingkan Ahok dengan seorang tokoh sejarah yang berasal dari Tiongkok ya. Tolong jangan mengada-ada dan membelokkan buah pikiran saya! Kebetulan perayaannya, dan kebetulan Ahok lagi hot, dan maka muncullah ilham untuk tulisan ini.

    Qu Yuan dan Ahok adalah sama-sama seorang sipil, seorang pejabat negara, yang sangat setia dan mencintai negerinya. Mereka berbakti pada bangsa dan negaranya dan mengabdikan segenap hidupnya untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup nusa dan bangsanya.

    Integritas mereka, wawasan mereka, kebijaksanaan mereka, dan kemampuan mereka untuk memikirkan solusi untuk permasalahan yang dihadapi segenap bangsa, negara, dan warganya adalah sama. Kesetiaan mereka kepada negara adalah sama. Kecintaan mereka kepada negara mungkin juga setara.

    Qu Yuan dengan tulus dan tidak dendam menerima perlakukan tidak adil dari rajanya, para menteri jahat dan negaranya yang membuangnya. Ahok kini telah dengan jelas dalam suratnya dari penjara mengungkapkan bahwa ia dengan tulus dan tidak dendam menerima apa yang ia alami sekarang.

    Demi bangsa dan negaranya, ketika dipanggil lagi oleh rajanya, Qu Yuan bersedia kembali masuk ke istana untuk mengabdikan hidupnya. Demi bangsa dan negara ini, saya yakin Ahok bisa saja bersedia kembali masuk politik dan memperjuangkan nasib negara dan rakyat Indonesia, meskipun saya ragu apakah ia masih mungkin untuk terpilih, setelah dicap sebagai seorang penista agama Islam.

    Qu Yuan tidak menginginkan negaranya hancur dan dengan cerdas memikirkan berbagai jalan keluar. Ahok pun demikian, ia juga cerdas dan mengetahui apa resiko yang bisa terjadi ketika kasusnya tidak selesai-selesai. Maka ia rela mengorbankan dirinya, asalkan negara Pancasila ini tetap berdiri, asalkan Presiden Jokowi jadi bisa lebih enak posisinya untuk menggebuk para pihak-pihak yang kini sedang mencoba meruntuhkan negara ini untuk mengubahnya menjadi negara dengan dasar negara yang lain.

    Qu Yuan dihina, dicemooh, dan difitnah macam-macam selama ia masih hidup. Ahok juga dihina, dicemooh, dimaki, difitnah dan mau dibunuh. Tapi hasil akhirnya? Qu Yuan dikenang hingga hari ini, meskipun telah lebih dari 2000 tahun.

    Kita memang tidak tahu berapa lama Ahok akan diingat oleh negeri ini dan dunia, dan lagi Ahok masih hidup dan apa pun bisa terjadi atau berubah nantinya. Tetapi jika Ahok tetap teguh dan tidak berubah hingga akhir hayatnya, saya rasa ia bisa jadi juga akan diingat dan dikenang oleh dunia, bukan karena kasus penistaan agama yang dipaksakan oleh sebagian pihak, tetapi karena jasa-jasa dan keluhuran pribadi seorang pejabat yang dimilikinya.

    (Berlanjut ke part 2)


    Penulis :  Power Aryanto Famili   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kulihat Bacang di Piringku, Kukenang Tokoh Luar Biasa Ini, dan Kuingat Ahok (Part 1) Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top