728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 16 Mei 2017

    Ketika Jokowi Bicara Kualitas Ibadah Di Tengah Isu Pelengserannya

    Presiden Joko Widodo tidak berhenti mengalami serangan dan kritik dari para lawan politiknya. Meski dalam setiap kesempatan bertemu lawan politiknya selalu ada pernyataan tidak akan melengserkan Jokowi, usaha untuk terus mendongkel Jokowi tetap dilakukan. Bukan oleh yang bersangkutan tentu saja, melainkan oleh para bawahannya. Tetapi yang bersangkutan hanya diam saja tidak ada pelarangan.

    Baru-baru ini dengan sangat lantang seorang politisi dari partai oposisi menyatakan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mendesak MPS/DPR mengadakan Sidang Istimewa guna mencabut mandat Presiden Joko Widodo. Belum lagi adanya isu Gerakan massa tanggal 20 Mei menunggangi pendukung Ahok yang tidak puas atas penegakkan hukum yang adil atas Ahok untuk juga melengserkan Jokowi. Sebuah tekanan besar yang harus dihadapinya.

    Jokowi memang selalu mendapatkan tekanan politik karena apa yang sedang dikerjakannya saat ini memberikan tingkat kepuasan rakyat yang tinggi. Lembaga survei Indo Barometer merilis hasil survei ‘Evaluasi Publik Dua Setengah Tahun Pemerintahan Jokowi-JK’. Hasilnya, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla lebih dari 50 persen.

        Dari hasil survei diketahui, mayoritas publik (82%) menyatakan negara sedang bergerak ke arah yang benar, sebesar 5,2% publik masih berpendapat bergerak ke arah yang salah, dan sekitar 12,8% menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

        “Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo saat ini sebesar 66,4%, yang tidak puas 32%, dan yang tidak tahu/tidak jawab sebesar 1,6%,” tutur Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari dalam rilis hasil survei di Hotel Sahid, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (22/3/2017).

    Sebuah hasil survei yang tentu saja membuat lawan politik Jokowi kejang-kejang. Apalagi saat ini sudah dekat dengan masa Pemilu Serentak 2019. Semakin tinggi tingkat kepuasan publik kepada Jokowi (tanpa JK) maka akan semakin sulit menyaingi elektabilitas Jokowi. Itulah mengapa saat ini usaha untuk menyeret Jokowi dalam pusaran kasus Ahok terus dilakukan.

    JOKOWI BICARA KUALITAS IBADAH

    Dalam menghadapi semua tekanan politik tersebut ada sebuah pesan menarik yang disampaikan Jokowi melalui akun resmi Facebooknya. Jokowi seperti sedang menyampaikan sebuah pesan penting yang terus dilakukannya dalam menghadapi setiap tekanan tersebut. Jokowi menyebutnya sebagai kualitas ibadah.

    Seorang yang beribadah dengan berkualitas akan menghasilkan setidaknya dua sikap yang akan mampu menghadapi semua tekanan dan serangan dengan arif dan bijaksana. Dua sikap itu adalah Rendah Hati dan Tidak Emosional. Dua sikap ini bukan hanya akan membuat diri sendiri tidak gegabah dan ceroboh dalam berkata-kata dan bertindak, hal ini juga akan menjadi bara panas yang membuat lawan kejang-kejang.

    Seorang yang rendah hati dan tidak emosional akan sangat sulit dijatuhkan dan akan sangat sulit dipancing keburukan-keburukannya dan malah membuat lawan habis energi untuk terus menyerang. Ketenangan diri seseorang akan membuat lawan bingung dan serba salah serta pada akhirnya akan saling menyalahkan. Belum lagi, sikap tenang seseorang itu akan menarik simpatik banyak orang yang melihat bahwa dia dizholimi dan diperlakukan tidak adil.

    Hal inilah yang dalam pengamatan saya sedang dilakukan oleh Jokowi. Menunjukkan bahwa sebagai seorang yang beribadah, kualitas harus ditunjukkan dalam sikap rendah hati dan tidak emosional.

    SIKAP JOKOWI TERHADAP KASUS AHOK

    Hal ini juga seperti sedang mengkonfirmasi mengenai sikap Jokowi terhadap kasus Ahok, sahabat terbaiknya. Ya, Jokowi seperti sedang menyampaikan kepada kita semua bahwa dia meresponi kasus Ahok ini dengan sikap rendah hati dan tidak emosional. Bukan karena dia adalah seorang Presiden, melainkan demi menjaga agar supaya konflik ini tidak menjadikannya sasaran tembak.

    Jokowi bisa saja menggunakan elemen yang ada padanya untuk melakukan penyelamatan kasus Ahok, tetapi itu hanya akan semakin memperkeruh suasana dan bisa berdampak buruk bagi usahanya (yang juga didukung Ahok) untuk membangun Indonesia. Indonesia tidak bisa dibangun jika terus menerus terjadi konflik horizontal.

    Tetapi Jokowi tahu, dia tidak perlu arogan dan emosional menghadapi kasus Ahok dan diseret-seretnya namanya dalam kasus Ahok. Karena dia sendiri sudah melakukan langkah-langkah perlawanan dengan cara yang lebih elegan. Pertama dengan pembubaran HTI dan yang kedua adalah kasus hukum yang menjerat Rizieq Shihab.

    Melalui dua kasus ini saja, kekuatan pion lawan akan jauh sangat berkurang. Karena yang sering membuat keributan adalah dua pion ini. HTI keributan dalam hal mengganti ideologi Pancasila, FPI dan kroninya dalam hal ‘Aksi Bela Islam’ yang meresahkan. Tanpa dua pion ini, maka Jokowi bisa terus melancarkan serangan berikutnya.

    Apa itu?? Kerja.. Kerja.. Kerja..

    Ya, itulah serangan Jokowi yang paling massif dan yang paling dikuasainya. Serangan yang akan menyentuh hati rakyat di setiap daerah, khususnya yang dulu mengalami luka atas perlakuan tidak adil pemerintah. Itulah mengapa Jokowi terus mengunjungi Papua bukan sekedar membangun Papua, tetapi menunjukkan bahwa pemerintah hadir dalam setiap kunjungannya.

    Karena itu, mari kita terus kawal dan doakan beliau. Jangan ikut-ikutan dan terprovokasi untuk menyerang Jokowi atas kasus Ahok. Yakinlah, Jokowi adalah Ahok, dan Ahok adalah Jokowi. Dan seperti pesan Jokowi tadi, marilah kita juga tunjukkan kualitas ibadah kita dalam perilaku Rendah Hati dan Tidak Emosional.

    Salam Rendah Hati dan Tidak Emosional.


    Penulis :  Palti Hutabarat  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ketika Jokowi Bicara Kualitas Ibadah Di Tengah Isu Pelengserannya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top