728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Kepada Calon “Pengantin” Berikutnya

    Kepada calon pengantin berikutnya.

    Engkau yang merasa kekasih Allah, mungkin saat ini engkau tengah tersenyum lebar melihat kerumunan orang berkumpul di puing-puing bangunan dan serpihan daging manusia hasil kerja pengantin lainnya. Tangis duka keluarga yang melepas kepergian orang yang mereka kasihi dengan tragis tidak membuat miris hatimu, sebaliknya mungkin ada rasa bangga engkau mensyukuri tragedi ini dan mulutmu sedang mengumandangkan takbir memuji Tuhan.

    Tuan calon pengantin, siapakah yang menjadi mempelaimu? Siapa sebenarnya  yang akan engkau nikahi? Betapa bodohnya aku bertanya seperti ini. Tentu saja Tuhan-lah mempelaimu, karena engkau adalah kekasih-Nya. Tapi dalam kebodohanku, ijinkan aku bertanya, mengapa kekasihmu menghendaki engkau membunuh orang lain untuk hadiah pernikahanmu? Kekasihmu yang setiap hari engkau muliakan namaNya sebagai yang pengasih dan penyayang, mengapa Dia sampai hati menuntut nyawa manusia lain ciptaanNya sendiri dengan cara biadab dan membangkitkan kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Tidak berhakkah mereka, korban-korban itu mati dengan wajar dalam kemuliaan ? Bukan dengan baju yang terbakar, bukan dengan tubuh yang tidak lagi utuh.

    Tuan calon pengantin, tentu engkau tahu betapa ibumu susah payah melahirkanmu, betapa ayahmu bangga membesarkanmu dengan sejuta harapan ada di pundakmu. Mereka melahirkanmu dengan tubuh yang sempurna, sama sempurnanya dengan harapan mereka yang dibebankan kepadamu. Menjadi anak yang berbakti, teladan bagi keluarga.  Sekarang kebanggaan apa yang akan engkau persembahkan untuk ayah dan Ibumu jika mereka melihatmu mati dengan cara jihad yang salah? Engkau tidak meninggalkan apa-apa selain nista bagi keluargamu. Jasadmu akan ditolak dimana-mana, dan batu nisanmu mungkin tidak akan bernama.

    Tuan calon pengantin, siapa yang menunggumu di surga yang dijanjikan padamu?  Jika benar 72 bidadari yang menantimu, bukankah mereka berharap mendapat lelaki yang berperawakan sempurna dan elok dan membawa hadiah perhiasan untuk mereka? Tapi engkau datang dengan tubuh yang tidak lengkap. Jantungmu tercabut dan terhempas di aspal, kepalamu terlepas dan jatuh entah dimana. Tidak perlu kusebut cabikan organ yang lain. Dengan tubuh cacat seperti ini , dengan tubuh yang tidak lengkap engkau datang ke mereka dengan hanya membawa panci sebagai persembahan , kau mengira bidadari-bidadari itu masih berminat padamu?

    Tuan calon pengantin, siapa mengajarimu bahwa jalanmu adalah jalan syahid dan tidak ada upah yang lebih layak selain surga dan bidadari ? Tunjukkan padaku tuan, dan coba lihat orang-orang ini, yang mengajarkan demikian padamu. Sampai saat ini mereka masih berbicara seperti itu dan sudah ratusan pengantin mereka kirim ke surga. Tidakkah engkau terpikir, mengapa orang-orang ini , tempat kau berguru, tidak pergi lebih dulu ke surga mengambil sendiri hadiah kenikmatan itu? Mengapa mereka membujuk orang lain melakukannya? Ah, mungkin mereka sudah memiliki wanita secantik bidadari di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang sudah puas dengan kenikmatan dunia ini sehingga kenikmatan surga mereka relakan untuk dinikmati orang lain.

    Jadi , tuan calon pengantin, sesaat sebelum engkau menekan tombol pemicu, pikirkanlah sekali lagi orang-orang terdekat yang mencintaimu, pikirkan juga mereka yang tidak tahu apa-apa yang ada di dekatmu, pikirkan tentang orang-orang yang harus kehilangan mereka yang dikasihinya dengan cara menyedihkan seperti ini. Dan di atas semuanya pikirkan tentang Tuhanmu yang tidak berkenan tuan mati dengan sia-sia. Mungkin dengan perbuatanmu engkau bisa mengubah sejarah, mengubah peradaban. Tapi itu semua tidak bisa mengubah nasibmu, tidak bisa mengubah takdir bahwa tidak ada satupun hal baik yang patut dikenang dari dirimu. Karena engkau akan dikenang dengan satu kata saja: pecundang.  Kematianmu tidak akan menyisakan tangis selain kutuk dari kami.

    Aku tahu, engkau tidak akan peduli dengan tulisan ini. Aku cuma ingin kau ingat sesuatu kelak jika engkau sudah mencapai pintu surga. Lihatlah kedalamnya, jika kosong dan tidak ada yang menyambutmu seperti yang dijanjikan, engkau mungkin telah masuk surga yang salah. Saat kau menyadari itu, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan, selain dada yang sesak dengan penyesalan abadi.

        Untuk Bripda Topan, Bripda Ridho, Bripda Gilang.

        Selamat jalan pahlawan-pahlawan muda. Terimakasih untuk kalian yang selalu berjaga agar kami bisa tidur lelap. Tugas kalian usai sudah, beristirahatlah dalam kedamaian. Kini biarkan kami yang menjaga negara ini.


    Penulis :  Allen   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kepada Calon “Pengantin” Berikutnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top