728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 18 Mei 2017

    Kemanakah Sikap Ahok Yang Temperamental?

    Siapa yang tidak kenal dengan Ahok? Siapa yang tidak tahu bagaimana sikap temperamentalnya Ahok? Dari para PNS, para pejabat tinggi Pemprov sampai anggota DPRD DKI Jakarta pernah “disemprot” Ahok. Ahok bukan tanpa alasan dalam bersikap temperamental karena mereka semua patut diberikan shock therapy agar sadar dari kesalahan mereka.

    Sikap keras “ala Ahok” ini bukan tanpa alasan, para PNS yang membuat pelayanan bertele – tele (minta pungutan liar), para Walikota yang kerjanya tidak tepat sasaran dan anggota – anggota DPRD DKI Jakarta yang mempunyai “tujuan” terhadap APBD yang kita tahu nilainya sangatlah fantastis merupakan alasan kenapa Ahok kerap terlihat emosional dalam menghadapi mereka semua.

    Tentunya hal ini pun memicu pro dan kontra dikalangan masyarakat, ada yang setuju Ahok bersikap begitu demi memberikan pelayanan terbaik untuk warga Jakarta. Ada juga yang tidak setuju karena mereka menilai Ahok tidak mencerminkan budaya timur yang sopan.

    Apakah itu alasan utama kenapa Ahok dibenci? Saya rasa itu bukanlah alasan utamanya, saya dan para pembaca yang mempunyai nalar yang baik tentunya tahu alasan utama kenapa Ahok dibenci. Ini semua bukanlah masalah kesopanan tetapi Ahok yang anti korupsi adalah alasan utamanya.

    Saya berpendapat bahwa Jakarta membutuhkan pemimpin yang “BERANI”. Berani jujur tanpa korupsi, berani menata tata kota dari para PKL yang dibekingi oleh para preman – preman jalanan, berani mengubah birokrasi dilingkungan pemerintahan dan yang terakhir adalah berani berkorban nyawa dan jiwa. Semua telah dilakukan oleh seorang Ahok yang temperamental.

    Pertanyaan besar muncul ketika Ahok dituduh sebagai penista agama dan akhirnya menjadi terpidana 2 tahun penjara, kemanakah sikap temperamental Ahok? Ahok terlihat lebih tenang dan tidak langsung membuat pernyataan yang menyerang lawan – lawannya seperti dulu. Setidaknya ada tiga alasan kenapa Ahok mencoba menahan emosinya.

    Ahok tahu lawannya ingin dia selalu marah

    Para lawan – lawan Ahok baik itu barisan sakit hati ataupun para “garong” uang rakyat sangat ingin memanfaatkan sikap Ahok yang keras dan emosional. Mereka selalu mencoba memancing amarah seorang Ahok baik dalam membuat pernyataan ataupun dalam debat sekalipun.

    Nasihat dari ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri, didengar dan dilakukan oleh Ahok. Megawati sadar betul lawan ingin memainkan emosi seorang Ahok dan berharap Ahok mengeluarkan pernyataan menyerang entah itu para ulama maupun elite politik di negeri ini (sumber).

    Anda dan saya pun tentu tahu bagaimana “lihainya” mereka memainkan berbagai isu yang bisa menjatuhkan seorang Ahok. Ibarat mereka seperti seekor buaya yang membuka mulutnya lebar – lebar dan menunggu masuknya sang mangsa.

    Ahok ingin memancing keluar semua “musuh”

    Ahok dan bahkan Jokowi sadar bahwa “para musuh” mereka bukan hanya dari luar pemerintahan tetapi ada juga dari dalam. Seperti duri dalam daging, duri yang ini sangat beracun dan pandai memanfaatkan situasi.

    Ahok dan Jokowi tentunya tidak bisa serta merta langsung menyebutkan siapa “musuh” didalam pemerintahan karena rasanya tidaklah etis “menghajar” orang dalam sendiri secara langsung. Ahok dan Jokowi membiarkan para “musuh” ini muncul kepermukaan dengan sendirinya.

    Andai saja Ahok tetap bersikap temperamental dan marah – marah, para “musuh” ini tidak akan pernah muncul kepermukaan dengan sendirinya. Para “musuh” akan mengklaim kalau mereka menang karena rakyat Jakarta tidak suka dengan Gubernur yang emosional.

    Buktinya setelah Ahok kalah dalam Pilkada 2017, munculah “koar – koar” siapa yang mendorong Anies Baswedan untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Bahkan sekarang semua ditunjukan ke publik dengan terang benderang dalam “tim sinkronisasi” (seperti beli ponsel baru pakai “sinkronisasi” segala).

    Ahok ingin membangkitkan silent majority yang cinta NKRI

    Lihat apa yang terjadi setelah Ahok divonis dua tahun penjara dan ditahan langsung oleh Majelis Hakim. “Tjahaja – tjahaja” lilin mulai muncul dan menerangi seluruh pelosok negeri ini. Tidak ada istilah minoritas maupun mayoritas, semua memegang sebatang lilin ditangan mereka.

    Gerakan yang awalnya untuk Ahok berubah menjadi gerakan cinta tanah air, cinta Bhineka Tunggal Ika, cinta NKRI dan tolak paham radikal pemecah belah bangsa. Ahok pasti tersenyum dan terharu dengan semangat anak – anak bangsa yang mulai bangun dari tidurnya.

    Para anak bangsa yang awalnya tidak tertarik dengan politik atau yang memilih untuk diam mulai bangkit melawan. Saya pribadi yang hanya diam dan mengikuti pun mulai bangun dengan menulis artikel – artikel “perlawanan” terhadap para “oknum” yang ingin memecah belah bangsa ini.

    Ketika vonis dibacakan dan dijatuhkan, Ahok tidak pernah sedikit pun terlihat marah dengan pengadilan yang mengadilinya. Ahok malah memberikan senyum yang hangat kepada semua orang ketika dia turun dari mobil tahanan dilapas Cipinang.

    Ahok sadar kalau dia menunjukan sikap emosional terhadap Majelis Hakim yang mengadilinya, dia akan diserang habis – habisan oleh para lawan politiknya maupun orang yang membencinya. Dia ingin menghadapi semuanya dengan tetap taat kepada konstitusi dan negara ini. Tidak seperti yang “kabur” dan tidak kembali, Ahok menunjukan bagaimana menjadi seorang negarawan yang baik demi bangsa dan tanah air ini.

    Penulis : Hendro Soeteja    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kemanakah Sikap Ahok Yang Temperamental? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top