728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 31 Mei 2017

    Kelompok Mafia Dibalik Tim Sinkronisasi, Ketua DPRD DKI Jakarta Kecut

    Mungkin banyak orang sudah lupa bagaimana proses transisi  Jokowi-Ahok ke  Petahana Gubernur DKI Jakarta, Fauzy Bowo saat itu.  Jelasnya tidak ada berita – berita miring soal nafsunya timses Jokowi –Ahok untuk ikut serta mengobok – obok APBD DKI Jakarta dan RPJMD.

    Meski begitu, duet Gubernur dan Wagub ini cukup sukses membawa perubahan terhadap DKI Jakarta dalam pelayanan publik dan pembangunan infrakstruktur. Tak banyak janji muluk Jokowi meletakkan pondasi pembangunan DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia. Woooow.…….terbukti tingkat kepuasan publik kepada penerus Jokowi, Ahok sebesar 70 persen.

        Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa mengatakan salah satu isu yang menguntungkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat adalah soal tingkat kepuasan.

        “Masyarakat Jakarta masih puas dengan kinerja Ahok karena survei menunjukan tingkat kepuasan publik masih di atas 70 persen, tepatnya 73 persen,” ujar Ardian di Graha Dua Rajawali, Jalan Pemuda, Rawamangun, Kamis (13/4/2017).

        (sumber : Kompas.com)

    Lalu ada apa dengan timses Anies – Sandy yang dikenal dengan Tim Sinkronisasi Anies – Sandy ? Publik mudah menebak kemana agenda tim ini, jelasnya ada kekuatiran dari Anies – Sandy tidak bisa ikut secepat menangguk dana melimpah dari APBD. Bernarkah demikian ?

    Bila melongok lagi janji – janji manis semasa kampanye seperti kepemilikan rumah dengan DP 0 Rupiah, KJP Plus, dana RW milyaran rupiah, dll sudah pasti akan menyedot dana tidak sedikit. Tentunya program – program tersebut tidak steril dari penyelewengan. Bila janji tersebut tidak segera terealisasikan dalam 100 hari menjabat, niscaya  tingkat kepercayaan dan kepuasan publik akan drop.

    Seperti KJP Plus, siapa yang akan menikmati ? Apakah loyalis Anies – Sandy didahulukan atau untuk mereka yang benar – benar membutuhkan. Lalu dana tunai milyaran rupiah RW, apakah tidak rawan diselewengkan juga. Belum lagi kepemilikan rumah murah di wilayah DKI Jakarta dengan cara mudah dengan down payment 0 rupiah.

    Ahh, sudahlah, nanti dikira nyinyir, tidak move one,  tapi menjadi tanda tanya besar dari publik kenapa Tim Sinkronisasi Anies – Sandy dipimpin Sudirman Said  getol sekali merangsek ke Balaikota.  Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi memberikan sebuah elaborasi  di media massa soal ini.

        “Saya tidak mengenal tim sinkronisasi. Yang penting, saat Pak Jokowi menggantikan Pak Foke, Pak Jokowi-Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) enggak pernah mengutik-utik masalah APBD Perubahan, begitu juga RPJMD,” kata Prasetio di Kantor DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (30/5/2017).

        (sumber : Kompas.com)

    Omongan Prasetio tentu tidak asal-asalan, politisi  dari PDIP adalah  Timses Jokowi – Ahok ketika sukses mengantar pasangan fenomenal itu menggantikan Fauzy Bowo.

    Pada 2012, politisi PDI-P itu menjadi tim Jokowi-Ahok selama masa transisi. Dia menegaskan, saat itu mereka tidak mengutak-atik anggaran yang masih berada di bawah kewenangan Foke.

        “Kebetulan saya mendampingi beliau (Jokowi-Ahok) sebagai tim, saya enggak utak-atik. Setelah Pak Jokowi terlantik Oktober 2012, baru mengubah yaitu namanya KJS dan KJP,” kata dia.

        (sumber : Kompas.com)

    Nah lho…. ! Ternyata Jokowi-Ahok tidak mentang – mentang dan pongah saat menggeser posisi Petahana lalu berusaha mengobrak – abrik APBD susunan Fauzy. Sebuah sikap kerendahan hati dari Jokowi – Ahok meski mampu memenangkan  Pilkada yang didukung mayoritas partai politik.

    Sebagai politisi, Anies tentu mengetahui sepak terjang Jokowi – Ahok saat itu, entah bisikan darimana kok tiba-tiba Anies menjadi gahar.

    Barangkali Anies telah salah bergaul dengan kelompok mafia yang pernah dikritiknya pada Pilpres 2014, kini harus menghadapi fakta pahit rongrongan rombongan sirkusnya.   Anies terbebani desakan waktu pembayaran yang singkat  untuk posisi Gubernur DKI Jakarta dengan  proyek – proyek APBD DKI Jakarta. Siapa kelompok mafia itu ?

        Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, Anies saat itu menyebut Prabowo-Hatta didukung oleh kelompok mafia seperti dugaan kasus korupsi migas, haji, impor daging, Alquran, dan lumpur Lapindo. Pernyataan tersebut disampaikan Anies saat konfrensi pers penyampaian program Jokowi-JK, di Hotel Holiday Inn, Bandung, Kamis 3 Juli 2014. Kata dia, kalau ingin menyelesaikan masalah tersebut, Jokowi-JK adalah jawabannya

        (sumber: tribunnews)

    Namanya juga mafia, lihat saja perilaku mereka di  film serial mafia klasik Godfather produksi Hollywood. Siapapun yang berhutang kepadanya dan tidak tepat janji menerima resiko secara fisik, mungkin tidak persis seperti itu cara kerja mafia pendukung Anies-Sandy. Modus cara kerja Kelompok Mafia tidak jauh berbeda dimana pun mereka berada, hanya eksekusi hukuman berlainan satu sama lain.

    Sebenarnya Anies sudah on-track  bila dengan baik melaksanakan amanah dari Presiden Jokowi, sayang dia sendiri bermain – main dengan program Presiden. Buktinya Presiden mencopotnya dari kursi Menteri Pendidikan.  Lalu mencuat kabar soal ketidakberesan soal distribusi Kartu Indonesia Pintar yang melibatkan bandar dari Perindo. Tentunya tak ada asap bila tak ada api, bukan begitu Mas Bro ?


    Penulis :   Sigit Budi       Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kelompok Mafia Dibalik Tim Sinkronisasi, Ketua DPRD DKI Jakarta Kecut Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top