728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 25 Mei 2017

    Kebangkitan Ahokisme

    Merebak  aksi simpatik Seribu Lilin untuk Ahok dan NKRI memunculkan fenomena baru. Ahok bukan saja milik warga DKI, ia adalah milik warga seluruh tanah air bahkan dunia. Tentu saja aksi ini tak terpisahkan dari perjalanan Ahok hingga vonis hukuman penjara 2 tahun.

    Agama dan Entnis: Isu Paling Seksi

    Pilkada, Pilgub, Pileg dan Pilpres adalah momentum bermunculan berbagai isu di tengah masyarakat. Heterogenitas masyarakat yang terpetakan menurut suku, agama, strata sosial dan sebagainya tak terhindarkan. Keberagaman masyarakan perbedaan pandangan kerap menjadi komoditas untuk saling memperebutkan konstituen.

    Agama menjadi komoditas empuk untuk menarik suara dan simpatik rakyat. Tidak saja terjadi di Jakarta, di Nusa Tenggara Timur pun, isu agama menjadi isu yang sering didaur ulang. Dikotomi calon gubernur Protestan versus Katolik kerap menjadi bahan gosip dari kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat yang homogen (seagama).

    Selain isu agama, etnis menjadi isu yang sexy untuk memperebutkan kepercayaan masyarakat.  Flores versus Timor sering menjadi gerakan politik. Begitupun dan seterusnya.

    Agama dan etnis dan sebagainya selalu masih menjadi isu strategis. Tidak saja di Jakarta, dimana saja, masyarakat yang heteregon.

    Ahok Menepis Sentimen Suku dan Etnis

    Kehadiran Ahok di DKI Jakarta baik di Belitung maupun di DKI Jakarta menepis semua isu yang berlandaskan persepsi sempit seperti agama dan  etnis. Pernyataannya di Pulau Seribu lebih pada sebuah perlawanan ketidakadilan sosial dalam berpolitik dalam masyarakat yang mempolitisasi ayat-ayat suci. Pernyataan itu pun lahir karena ia sering dihadapkan dengan situasi serupa. Jadi perlawanan Ahok bukan terhadap kelompok agama tertentu melainkan oknum politisi tertentu. Terutama saat keikutsertaannya pada Pilkada dan Pilgub di Bangka Belitung.

    Sebenarnya, perlawanan Ahok ini tidak ada hubungan atau ketertaikan dengan iman atau keyakinan yang dipegangnya, tetapi nilai-nilai hidup yang dipegang teguhnya selama. Sikapnya lebih pada sebuah ajak untuk bersaing secara sehat – minus komersialisasi ayat-ayat suci (agama. Kesadarannya penuh bahwa pemilihan bupati atau gubernur memiliki payung hukumnya. Terserah, di dalam bilik suara, agamalah yang menjadi pertimbangan pilihan tersebut.

    Ahok Menginspirasi

    Dan, Pilkada DKI Jakarta dan keikutsertaan Ahok dalam perhelatan demokrasi tersebut harus menjadi inspirasi bagi semua wilayah di NKRI ini. Bahwa politisasi etnis, agama dan golongan bukanlah jamannya lagi. Politik mengedepankan nilai-nilai yang universal, yang memayungi semua pihak. Persoalan bahwa nanti rakyat akan memiliki figur pemimpin yang seiman tidak masalah dalam berdemokrasi. Setiap pilihan masyarakat memiliki alasan. Tapi penyelenggara ataupun kontestan politik tidak mengkampanyekan yang menyesatkan publik. Karena negara menjamin setiap warga negara berhak untuk memilih dan dipilih baik sebagai anggota legislatif maupun kepala daerah bahkan presiden sekalipun.

    Ahok adalah Pengecualian

    Ahok yang lahir sebagai sosok pemimpin yang bersih, tegas, berani dan konsisten telah mendatangkan simpatik dan pujian serta kekaguman masyarakat. Tidak hanya masyarakat DKI Jakarta, juga masyarakat di seluruh pelosok negeri ini bahkan di negara-negara lain. Kepemimpinan Ahok terbukti berhasil mengadministrasi keadilan, memoles Jakarta menjadi kota yang bersih dan asri, mengamankan APBD dan masih banyak prestasi Ahok. Pendek kata, Ahok telah menciptakan standar pengelolaan Jakarta yang transparan dan akuntanbel sebagaimana sesuai dengan cita-cita reformasi birokrasi yakni menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

    Capaian Ahok dalam periode kepemimpinan yang singkat karena hanya melanjutkan kepemimpinan Jokowi, 2 tahun lamanya, menjadi tidak berarti sama sekali. Ahok justeru diperdayai dengan pelbagai rupa isu yang bertujuan untuk melorotkan prestisenya di mata publik. Lebih jauh, mereka menghendaki untuk menyingkirkan Ahok dari percaturan Pilkada DKI 2017. Namun upaya itu gagal, Ahok melenggang dan bertarung pada perhelatan demokrasi yang paling menyedot perhatian sejagad meskipun akhirnya kalah. Sebagaimana kita ketahui sebab musabab kekalahannya, salah satu kontribusinya tuduhan atas penistaan agama yang dilakukannya di Pulau Seribu.

    Kekalahannya pada Pilgub DKI menarik simpatik dari masyarakat yang luas. Ucapan, karangan bunga dan luapan kekecewaan memenuhi ruang publik di media massa hingga media sosial. Karangan bunga adalah wujud cinta dan perhatian sekaligus terimakasih atas kepemimpinan Ahok-Djarot.

    Dijatuhi hukuman 2 tahun penjara setelah divonis bersalah atas kasus penistaan agama, simpatik, empati dan dukungan mengalir secara masif – dalam dan luar negeri. Gerakan 1000 lilin merebak ke seluruh tanah air dan mancanegara. Dukungan dan doa untuk Ahok.

    Fenomena aksi ini dapat dipetik makna Ahok tidak lagi seorang pribadi. Ahok menjelma menjadi seorang pemimpin, ideologi, dan kepemimpinan itu sendiri. Sebagai pemimpin, Ahok memegang teguh pada prinsip dalam keseharian hidup dan kepemimpinannya.

    Seperti ada fenomena baru semakin mencuatnya paham baru, yakni ahokisme yang berlandasarkan pada prinsip pribadi Ahok. Ahokisme inilah yang melahirkan model kepemimpinan Ahok. Tidak mengejutkan Ahok menjadi daya tarik dan inspirasi kepemimpinan di negeri ini.

    Ahok tidak sekedar pemimpin. Sebagai gubernur, ia adalah pemimpin. Sebagai atasan yang membawa ribuan ASN dan jutaan masyarakat. Lebih dari itu, Ahok adalah pemimpin yang karismatik dan memiliki ideologi kepemimpinan yang kokoh.

    Pembelaan dunia kepada Ahok bukan karena ia seorang Kristiani, sebagai kelompok minoritas di negeri. Lebih dari itu, Ahok adalah inspiring people yang mengedepankan keutamaan-keutamaan kepimpinan yang universal.

    Ahok telah lahir menjadi tokoh besar yang memiliki karakter, model dan filosofi kepemimpinan. Pikiran dan pandangannya menjadi kutipan dimana-mana. Nilai-nilai kepemimpinannya menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

    Di sinilah, Ahok adalah pengecualian. Ia adalah pemimpin yang ‘kebetulan’ beragama Kristen Protestan, tetapi memiliki keutamaan-keutamaan yang universal yang melekat pula pada ajaran-ajaran agama lain. Apabila gerakan dukungan Ahok yang masif di negeri ini bahkan di beberapa kota besar di belahan dunia lain, itulah fenomena bangkitnya Ahokisme – yang merangkumkan sosok Ahok sebagai pemimpin, kepemimpinan dan ideologi yang memiliki pengikut, pengaggum dan pencinta dari berbagai latar belakang suku, agama dan strata sosial.

    Seword, sewot gitu loh…


    Penulis :   Giorgio Babo Moggi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kebangkitan Ahokisme Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top