728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 31 Mei 2017

    Kapitra Ampera Menohok Rizieq, Rizieq Ditampar dan Ditelanjangi!

    Pengacara Habib Rizieq Syihab, Kapitra Ampera mempersoalkan penetapan tersangka atas kasus dugaan pornografi di situs baladacintarizieq. Dua poin yang dipermasalahkan adalah:

        Menurut penyidik, penetapan tersangka dilakukan setelah diperoleh alat bukti yang cukup. Adapun bukti yang dapat digunakan untuk penetapan tersangka, harus diperoleh dalam hal dan menurut cara yang ditentukan Undang-Undang. Pasca Putusan MK No. 21/PUU-XII/2014, frasa “bukti”, “bukti permulaan”, “alat bukti” dianggap sama dan dimaknai dengan minimal 2 alat bukti. Dalam hal ini yang menjadi minimal 2 alat bukti untuk dapat digunakan dalam penetapan tersangka, haruslah diperoleh dalam hal dan menurut cara yang ditentukan dalam Undang-Undang.

        

        Dalam penyidikan kasus ini, keterangan saksi yang diperiksa yaitu Firza Husein (yang juga menjadi tersangka), Muchsin Alatas, dan Fatimah (Kak Emma) telah membantah pengetahuannya tentang tuduhan tersebut. Bahkan, Fatimah menyatakan bahwa ia ditekan secara psikologis dan digiring oleh penyidik untuk mengakui apa yang dituduhkan terhadap Habib Rizieq. Lantas keterangan saksi mana yang dijadikan dasar alat bukti bagi penyidik dalam menetapkan Habib Rizieq sebagai tersangka?

        Bahwa dari segi materil perkara, penetapan tersangka atas Habib Rizieq juga tidak didasarkan pada aturan hukum yang sesuai sehingga tampak terlalu dipaksakan. Ia disangka atas dugaan melanggar Pasal 4 ayat 1 dan/atau Pasal 6 dan/atau Pasal 8 UU No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi (Pasal 29, Pasal 32, dan Pasal 34 tentang ketentuan pidana-nya). Bahwa pasal-pasal yang disangkakan kepada Habib Rizieq adalah ketentuan larangan atas perbuatan yang menyebarkan pornografi, yang sepatutnya disangkakan kepada penyebar isu dan rekayasa percakapan pornografi tersebut. Sehingga sangat tidak relevan mengapa Habib Rizieq ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran Undang-Undang Pornografi.

    Kaget bukan main saya  ketika membaca pernyataan Kapitra Ampera di atas. Sungguh tidak habis dipikir dan betul-betul memalukan jika Kapitra Ampera menyatakan bahwa pasal-pasal yang disangkakan kepada Rizieq Shihab tidak relevan karena pasal-pasal itu berkaitan dengan larangan menyebar pornografi. Karena jika Kapitra Ampera menyatakan demikian, itu sama saja menujukan bahwa kuasa hukum Rizieq yang satu ini tidak paham hukum pornografi khususnya UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.

    Karena begini,  Pasal 4 ayat 1 yang disangkakan kepada Rizieq, tidak ada kaitannya sama sekali dengan menyebar pornografi, yang berkaitan dengan menyebar ada dalam Pasal 27 ayat 1 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal 4 ayat 1 UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi yang dianggap tak relevan dengan Rizieq justru sudah sangat relevan pada Rizieq , karena Rizieq membuat konten yang bermuatan pornografi, hal itu merujuk pada alat bukti berupa percakapan Rizieq, yang salah satu isi percakapannya adalah merayu dan membujuk Firza sehingga Firza mengirim foto telanjang dirinya dan alat bukti percakapan itu bisa pastikan sudah di print-out oleh penyidik Polda Metro Jaya hingga kemudian bukti percakapan itu menjadi satu alat bukti sesuai dengan Pasal 5 ayat 1 dan 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.  Dan ahli dari Inafis Polri dan ahli Teknologi dan Informasi sudah memastikan bahwa chatting itu adalah asli bukan rekayasa, itu artinya alat bukti bertambah satu lagi yakni keterangan ahli sebagaimana dalam Pasal 184 KUHAP.  Sehingga sudah ada dua alat bukti yang dimiliki Polda Metro Jaya dalam menetapkan Rizieq sebagai tersangka.

    Dan Kapitra Ampera yang menyangkal bahwa itu foto dan percakapan adalah hasil rekayasa dan balas dendam politik adalah pembelaan yang memalukan, karena Kapitra Ampera sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk menyatakan foto dan percakapan itu hasil rekayasa, karena Kapitra Ampera bukanlah ahli Digital Forensik atau ahli IT. Jadi, mari kita buktikan di pengadilan!

    Dan yang lebih menggelikan lagi , Kapitra Ampera dalam poin keberatannya di atas menyatakan Rizieq dijerat dengan Pasal 8 UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Padahal penyidik tidak menjerat Rizieq dengan pasal 8 tetapi Rizieq dijerat dengan pasal 9, Firza yang dijerat dengan pasal 8, karena Firza berfoto telanjang. Pasal 8 itu untuk yang telanjang. Dengan Kapitra Ampera menyatakan Rizieq dijerat dengan pasal 8, sama saja menganggap Rizieq yang telanjang, benar-benar memalukan. Jadi sungguh memalukan dan bisa dibayangkan Kapitra Ampera tidak dapat membedahkan perbedaan antara pasal 8 dan 9.

    Dan, harusnya secara gentleman, Rizieq akui sajalah jika Rizieq yang meminta Firza berfoto telanjang karena tidak logis bagi saya jika Firza ujug-ujug mengirim foto itu tanpa diminta Rizieq dan ketidaklogisan itu bisa saya buktikan dari percakapan yang dikirim  Rizieq kepada Firza: ‘’Firza sayaaaang … klimakskan saya … tadi Firza janji mau kirim foto yg saya minta kalau saya janji temu … Ayo donk …kota tdk boleh khianat janji’’.

    Bukti satu rangkaian kalimat dalam percakapan melalui WhasApp di atas adalah bukti yang tak terbantahkan bahwa Rizieq yang meminta Firza berfoto telanjang agar Rizieq klimaks dengan cara membujuk Firza yang bisa dilihat dari petunjuk hukum yakni diawali dengan kalimat rayuan: Firza sayaaang…. yang kemudian berlanjut dengan kalimat membujuk yakni merujuk pada kalimat: ‘’ayo donk’’. Adanya kalimat rayuan dan bujukan itu telah menjadi bukti bahwa Rizieq yang meminta Firza mengirim foto telanjang. Dan Firza tidak dipidana jika mengirim foto telanjang karena bujukan Rizieq berdasarkan penjelasan Pasal 8 UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Hanya Rizieq saja yang dapat dipidana karena menjadikan Firza sebagai model pornografi (pasal 9 UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi). Jadi jika Kapitra Ampera mengatakan bahwa pasal-pasal yang disangkakan kepada Rizieq tidak relevan karena pasal-pasal itu berkaitan dengan yang menyebar, satu kata untuk Kapitra , ini memalukan!

    Dan Kapitra Ampera yang menyatakan bahwa keterangan saksi mana yang dijadikan sebagai dasar menetapkan Rizieq sebagai tersangka adalah pertanyaan konyol karena penyidik tidak harus bergantung pada keterangan saksi ketika menetapkan Rizieq sebagai tersangka, tetapi masih ada alat bukti lain dalam Pasal 184 KUHAP dan dalam pasal 5 ayat 1 dan 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yakni berupa hasil cetak informasi atau dokumen elektronik.  Alat bukti itulah yang bisa membuat penyidik menetapkan Rizieq sebagai tersangka.

    Jadi sudah ada 3 alat bukti. Terakhir adalah bukti petunjuk (vide:184 KUHAP)  dalam kasus “baladacintarizieq”,  diperoleh dari rangkaian percakapan bermuatan pornografi yang dapat dilihat dari print-out yang sudah di print  oleh penyidik). Jadi jangan dipikir Kapitra Ampera,  penetapan tersangka hanya bergantung pada keterangan saksi saja,  ngawur itu namanya.


    Penulis :   Ricky Vinando   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kapitra Ampera Menohok Rizieq, Rizieq Ditampar dan Ditelanjangi! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top