728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 28 Mei 2017

    Jonru Diusir Hingga Nyaris Diamuk Warga, Kita Bersukur atau Mengambil Pelajaran?

    Setiap muslim adalah saudara, karenanya tidak dibenarkan sesama muslim saling mencaci, mencela, menghina dan menuduh dengan tuduhan yang bukan-bukan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat : 10).

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS 49:11).

    Bulan suci ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Kami semua umat muslim menahan segala hawa nafsu dan mengendalikan segala hawa nafsu dibulan suci ramadhan. Kami belajar mengendalikan hwa nafsu dari makanan dan minuman, kami belajar menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terhormat, lebih menjaga lisan, menjaga hati, memperbaiki diri dari perbuatan-perbuatan tercela dan yang lainnya.

    Seandainya para pembaca berada dalam posisi saya apa yang akan kalian rasakan ketika mendengar Jonru sedang berada diluar kota, dia nyaris diamuk warga. Ada beberapa hal yang pastinya saya pikirkan
    1. Status Jonru
    2. Kedirian atau kepribadian Jonru

    Kalau melihat status maka saya akan melihat Jonru Ginting sebagai seorang muslim, seseorang yang secara sejatinya seiman dengan saya secara pribadi.Maka sebagai seorang muslim, sesuai kata Kyai Mustafa Bisri bahwa muslim yang taat adalah melaksanakan kewajiban Islam serta menjauhi larangannya secara penuh. Maka sudah semestinya saya harus mentaati perintah surat Al-Hujurat ayat 10, jadi tidak dibenarkan bagi saya untuk mencela Jonru, mencaci Jonru, menghina Jonru bahkan menuduh dengan tuduhan yang bukan-bukan kepada Jonru.
    Kalau melihat kepribadian maka saya harus obyektif bahwa Jonru ini sosok yang suka merasionalisasi sesuatu demi kepentingan pribadi atau golongannya, sering menebar hoaks demi kepentingan, bahkan ketika apa yang dia sebarkan ternyata hoaks dia enggan untuk mengakuinya apalagi sampai meminta maaf. Maka sesuai ucapan Kyai Mustafa Bisri, sebagai muslim taat saya juga harus menjalankan perintah surat Al-Hujurat ayat 11 dimana saya tidak dibolehkan untuk mengolok kaum yang lain, saya tidak boleh menamai mereka atau memanggil mereka dengan panggilan atau gelar yang buruk. Ini yang susah dilakukan oleh Jonru Ginting dan komplotannya. Sebagai muslim saya sangat menyesalkan mereka menggunakan status kemuslimannya untuk mencaci, memaki, merasionalisasi dasar-dasar kebenaran demi kepentingan pribadi dan golongan, keluar dari data obyektif nan logis serta memakan berita hoaks mentah-mentah demi membenarkan kepentingan pribadi dan golongannya. Mereka tidak segan menyebarkan kebencian, menebar olokkan untuk membenarkan kepentingannya secara pribadi serta golongannya sendiri.

    Bersukur atau mengambil pelajaran?
    Sebagai muslim, tentunya saya akan banyak mengambil pelajaran dari Jonru. Pelajaran bahwa sebuah perbedaan itu keniscayaan. Ujaran kebencian dan olokkan tidak akan menambah baik agama yang saya anut justru malah memperbesar gap kebencian diantari kami (muslim dan non muslim). Saya belajar dari Jonru, belajar bahwa saya tidak searogan dan tidak sefrontal dia dalam menyebarkan ujaran kebencian. Saya beruntung saya diberikan Allah pemahaman agama yang kaffah/menyeluruh sehingga saya tidak pernah sedikitpun membenci mereka yang berbeda agama, berbeda pandangan serta pilihan politik dengan saya. Saya mengambil pelajaran dari situasi ini, dimana setiap manusia memiliki hak yang sama untuk hidup, setiap manusia memiliki kehendak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Jika Jonru dengan seenaknya sendiri bisa menularkan ujaran kebencian maka orang lain pun akan memperlakukan yang sama kepadanya yakni menebar ancaman dan kebencian kepadanya.
    Sebagai warga negara Indonesia saya bersukur bahwa saya memiliki kesadaran penuh bahwa saya tidak hanya menghamba kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa sebagai muslim taat, tetapi juga harus taat sebagai warga negara yang baik. Warga negara yang baik secara penuh memiliki kesadaran total untuk berperan serta dalam menjaga stabilitas ekonomi, politik skala nasional. Warga negara yang baik akan taat dengan hukum, warga negara yang baik akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang warga. Ini yang tidak dimiliki Jonru Ginting, dia lupa bahwa sebuah aturan itu keniscayaan yang tidak bisa dibendung. Jika dia hidup di negara ini maka dia memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga kedamaian, ketentraman dan kenyamanan di negara ini. Dan tentunya hal tersebut tidak akan pernah bisa terlaksana jika yang dia lakukan hanyalah menyebarkan olokkan dan sebuah ujaran kebencian.

    Kesimpulan
    Muslim yang waras, yang belajar Islam secara menyeluruh akan bersukur bahwa perilaku mereka tidak seperti Jonru yang suka menebar kebencian. Sehingga wajar dia pun mendapatkan ancaman dan ujaran kebencian sebagaimana yang sering dia lakukan beserta komplotannya.
    Muslim yang waras, akan terus belajar dari segala peristiwa dan berusaha mengambil hikmah untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya. Salah satunya adalah peristiwa yang sedang dialami oleh Jonru Ginting.
    Mari sama-sama mencoba mengendalikan hawa nafsu dibulan suci ramadhan ini, mari sama-sama belajar memahami untuk tidak mengolok sesama, mari menjadikan sebuah perbedaan itu keniscayaan yang hanya bisa dibendung oleh Allah SWT sendiri bukan oleh kita dengan cara menebar kebencian. Mari kita jaga bulan yang suci ini dan jangan kita kotori oleh lisan kita dengan menebarkan ujaran-ujaran buruk kepada orang lain. Itu sama sekali bukan ajaran Islam.

    Begitulah #Artiramadhan.
    Semoga bermanfaat.
    Terima kasih.


    Penulis : Mukhlas Prima Wardani   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jonru Diusir Hingga Nyaris Diamuk Warga, Kita Bersukur atau Mengambil Pelajaran? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top