728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 29 Mei 2017

    Jokowi Gebuk Ormas Anti Pancasila, Akbar Tanjung Dukung, Amien Rais Syok

    Jumat, 19 Mei 2017, adalah hari yang dipilih Presiden Jokowi menembakan peluru tajamnya. Dihadapan 1.500 prajurit TNI di Tanjung Datuk  Kepulauan Natuna-Riau, ia menembakan pelurunya secara jitu dan mengenai sasarannya. Peluru itu adalah ucapan Jokowi: Gebuk...! Sasaran tembaknya adalah ormas anti Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika  dan ormas berpaham PKI.

    Gebuk ditembakkan pada momen yang tepat. Kekuatannya lebih hebat daripada senjata modern, dan menggema di seluruh Indonesia bahkan dunia. Ormas-ormas yang mendorong publik terbingkai dalam perpecahan, dan mengotak-atik pilar bangsa, yang  merencanakan makar gemetar.

    Silakan demo sesuai aturan, kata Jokowi, tapi kalau keluar dari hukum digebuk saja. “Kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul dijamin oleh undang-undang, tapi kalau keluar dari undang-undang harus digebuk,” tegasnya dengan mimik serius.

    Jokowi tidak menggunakan kata dijewer, nanti disebut Presiden yang tidak tegas. Menurutnya Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, adalah fundamental dan final, dan tak boleh dibicarakan lagi. Kalau ada yang mengaduk-aduk, tidak ada kata lain, ya harus digebuk! “Alat gebuknya kan ada, yaitu aturan-aturan. Untuk hal-hal yang fundamental dan prinsip, kita harus tegas,” ujar Presiden yang merakyat ini, dan selalu blusukan di daerah di mana program dan proyek dikerjakan.

    Senang blusukan, bertutur kata lemah lembut menyapa rakyat, adalah ciri khas Presiden Jokowi. Dalam kepemimpinannya, ia baru pertama kali menggunakan kata gebuk. Kata gebuk bukan ungkapan anti demonstrasi dan demokrasi, tapi demi menegakkan demokrasi Pancasila.

    Kata gebuk, adalah gambaran sikap yang tidak ragu-ragu, dan merupakan tindakan tegas pemerintah terhadap ormas yang membawa pemikiran-pemikiran impor, yang tidak sejalan dengan konstitusi dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

    Segala macam cara digunakan oleh ormas anti Pancasila, antara lain mereka menggertak Jokowi dengan makar dan menyematkan stigma bahwa Jokowi PKI untuk memperbesar dukungan. Tapi kemudian mereka terdiam dan gemetar, serta melakukan pembelaan dan klarifikasi sana sini ketika Jokowi membalas ancaman mereka dengan jurus pamungkas: gebuk ormas anti Pancasila dan yang membawa paham PKI.

    Benarkah PKI bangkit lagi dalam pemerintahan Jokowi? Secara kasat mata bukan PKI yang bangkit, tetapi Islamisme, maksudnya yang bangkit adalah ormas-ormas radikal yang membungkus dirinya dengan kesucian agama. Mereka tidak menjalankan ajaran agama dengan baik, tetapi membuat onar dan keributan di tengah masyarakat. FPI dan HTI adalah dua organisasi keagamaan yang mengkalim diri pemilik kebenaran dan menolak orang yang berbeda. SARA dan rasis, yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila sebebas-bebasnya mereka sebarkan dan pertentangkan.

    Keberadaan mereka tidak hanya di tengah masyarakat awam, tapi juga telah menyusup ke dalam lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Salah satu hakim Ahok terindikasi kuat adalah simpatisan HTI, yang diduga mempengaruhi empat hakim lainnya menjatuhkan vonis dengan pasal berbeda dengan JPU. Hal inilah yang membuat masyarakat bahkan dunia bereaksi atas vonis yang tidak adil itu.

    Aksi-aksi jalanan ormas intoleran seperti FPI dan HTI sesungguhnya lebih berbahaya dari PKI. Tindakan mereka yang mengaduk-aduk dan mempersoalkan keberagaman dan NKRI memicu sejumlah daerah memerdekakan diri. Keinginan Minahasa Raya untuk merdeka, adalah letupan yang diakibatkan perilaku FPI dan HTI yang terus memaksakan kehendak. Dalam kasus Ahok misalnya, secara nyata dan telanjang keinginan FPI dan organisasi intoleran lainnya untuk menghukum Ahok dipenuhi oleh majelis hakim.

    Presiden Jokowi sudah bekerja keras menjaga keutuhan NKRI. Namun para pembantunya tak bisa membaca bahasa isyaratnya. FPI sudah lama berbuat onar, tapi Mendagri belum mampu membubarkannya. Demikian pula dengan HTI sudah menyusup sampai ke bangku pendidikan, dari level pendidikan rendah hingga perguruan tinggi bahkan sampai ke dosen, tapi yang dilakukan masih sebatas statement-statement NATO, No Action Talk Only.

    “Ada tokoh nasional, komisaris BUMN besar berteriak-teriak ingin mengganti Pancasila dengan syariat Islam,” kata Mendagri, Tjahjo Kumolo. Kumolo memang tidak menyebutkan namannya, tapi nama tokoh yang dimaksud telah beredar luas di publik. Tokoh tersebut adalah Adhyaksa Dault, mantan Meteri Pemuda dan Olah Raga era SBY, sekarang sebagai Komisaris BRI yang berhubungan dengan BUMN.

    Jokowi tak lagi memberi bahasa isyarat kepada para pembantunya. Ia dengan tegas mengatakan bahwa negara Pancasila sudah final. Kalau ada ormas apa saja yang mengganti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika gebuk saja.

    Akbar Tanjung mendukung pernyatan Jokowi. Menurutnya, pemerintah tak salah menggebuk ormas anti Pancasila dan gerakan berhaluan komunis di Indonesia. “Itu artinya Jokowi serius. Publik seharusnya memberi apresiasi tinggi kepada pemerintah,” ujarnya.

    Kata gebuk ternyata tidak hanya menyiutkan nyali kelompok radikal, tapi juga mengendurkan nyali Amien Rais. Saking syoknya, Amien memelas agar Jokowi tidak lagi mengeluarkan kata gebuk. Amien lupa bahwa tidak ada undang-undang yang melarang Jokowi mengucapkan kata gebuk. Mungkin karena sudah tua, Amien juga lupa nazarnya pada tahun 2014, bahwa ia akan jalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta bila Jokowi menang lawan Prabowo. Nyatanya Prabowo kalah, namun Amien ingkar janji terhadap nazarnya itu.

    Amien masih bernostalgia dan membanggakan diri  atas sejumlah peran masa lalunya. Ia, adalah salah satu tokoh reformasi, tokoh Poros Tengah, mantan ketua MPR yang “mengobok-obok” UUD 1945 sebanyak 4 kali, dan kadang tampil sebagai sosok kontroversial demi memenuhi ambisinya yang sampai kini tak terpuaskan.

    Dulu, sebelum reformasi, ia berada dikerumunan massa mengoreksi penguasa yang tak pro rakyat. Sekarang justru berbalik, ia menantang rakyat yang memilih Jokowi. Dulu ia menentang KKN, sekarang justru ia bersama-sama dengan kelompok KKN yang pernah ditentangnya itu.

    Amien Rais, adalah mantan pejabat terhormat di pemerintahan dan tokoh panutan dalam masyarakat, namun cara pandangnya masih sama dengan orang awam. Ia masih senang demo, duduk di atas kap truk pick-up dan meriakkan kekonyolannya di tengah jalan.



    Penulis    :  Solemanmontori Soleman   Sumber :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Gebuk Ormas Anti Pancasila, Akbar Tanjung Dukung, Amien Rais Syok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top