728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 20 Mei 2017

    Jokowi-Ahok-Djarot VS Prabowo-Anies-Sandi hingga JK, Susi dan Sri Mulyani. Bagaimana Peta Pertarungannya tahun 2019? (Analisis)


    Beberapa hari ini saya gede rasa hehehe, Geer maksudnya. Ada salah seorang teman mengirim pesan via email yang isinya begini: Mas, beberapa kali saya membaca tulisan anda. Saya suka tulisan anda, penuh dengan pengatahuan lampau kemudian dihubungkan dengan analisis kekinian. Sebagian besar adalah analisis pribadi tanpa copas (copy paste) dari link berita. Rata-rata menyajikan analisa pribadi dari sudut pandang agama, politik secara pribadi. Kemudian saya katakan pada beliau, saya mah penulis baru belajar Pak. Sama admin saja saya sering ditegur karena saya memang benar-benar baru sebagai penulis, bahkan EYD saja masih banyak belajar hahaha. Masih banyak penulis lain di sini yang menurut saya tulisannya banyak yang jauh lebih bagus seperti Mas Alifurrahman, Mas Asaaro Lagu, Mas Losa Terjal, Mas Palti karena saya pribadi banyak membaca dan belajar dari tulisan mereka dan masih banyak lagi penulis yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu (tanpa ada niatan mengecilkan teman-teman penulis lain)

    Saya sebenarnya hanya petani di desa, pekerjaan sehari-hari juga di sawah dan memberi makan ikan di beberapa kolam jadi menulis hanya sebatas mengisi waktu luang. Namun saya berterima kasih atas apresiasi yang diberikan, saran dan kritik selalu membangun untuk semuanya agar bisa lebih baik, lebih maju dan berkembang bersama-sama. Namun saya ingin sedikit menjelaskan masalah tulisan, sebenarnya baik itu tulisan, ucapan, perilaku maupun kepribadian sebenarnya pangkalnya ada 3 yakni: Pengetahuan, Pengalaman dan Trauma masa lalu. Pola tulisan ( penyajian data, analisis, analogic, deskripsi) setiap orang itu berbeda-beda tergantung bagaimana pengetahuan, pengalaman dan trauma yang membentuk kehidupannya masing-masing. Saya pribadi orang desa, yang jauh dari hiruk-pikuk pertempuran politik, ekonomi, hukum dan beberapa hal lain yang terjadi di kota yang sering kami saksikan via layar televisi. Jadi posisinya saya ini seperti penonton yang tidak terjebur dalam permainan politik yang ada di perkotaan jadi tinggal menulis saja pengamatan pribadi tanpa ada motiv-motiv tertentu hehehe. Apa yang saya lihat, saya rasakan, saya analisa maka hal itu yang akan saya tuliskan. Mengalir begitu saja

    Ok teman-teman kita kembali ke pembahasan. Kali ini saya ingin membahas tentang peta pertarungan Pilpres tahun 2019. Kenapa saya ingin menuliskannya?

    1. Beberapa hari ini begitu banyak penulis yang membahas tentang sosok Wapres Jusuf Kalla, mohon maaf kepada teman-teman. Menurut saya itu tidak etis karena bagaimanapun beliau adalah Wapres yang sah dan terpilih secara sah oleh UU. Namun inilah Negara demokrasi, sebuah saran dan kritik yang membangun asal memenuhi etika menyampaikan informasi maka dianggap wajar saja. Banyak yang beranggapan bahwa Jusuf Kalla ini musuh dalam selimut, segitu edan kah moral politikus di negeri ini?
    2. Meskipun sudah usai, namun gejolak yang ditimbulkan dari PIlkada DKI tahun 2017 masih begitu terasa. Karena sampai detik ini pun upaya-upaya untuk pembunuhan karakter sosok Basuki Tjahaja Purnama masih begitu kental. Karena semua orang yang melakukan itu hanya terhubung dengan orang-orang yang sama dengan aksi 212,414,55dan aksi-aksi lainnya.
    3. Saya belajar dari peta pertarungan Pilpres tahun 2014 yang melibatkan fitnah-fitnah kafir, antek China, keturunan PKI dan masih banyak yang lainnya.
    4. Turunnya Anies Baswedan dalam pertarungan DKI sebagai Cagub dari partai oposisi padahal tidak selang beberapa lama beliau adalah menteri yang sah dari pemerintahan yang sah yang didukung oleh partai pendukung pemerintahan.

    Keempat hal di atas membuat saya sedikit berpikir keras tentang bagaimana nanti peta pertarungan, suasana pertarungan, hingga cara-cara pertarungan yang akan kita lihat pada Pilpres tahun 2019.

    1. Peta pertarungan
    Siapa yang akan mengira bahwa bapak menteri terpilih Anies Baswedan tidak disangka-sangka dicukupkan, tanpa butuh waktu lama beliau meloncat ke kubu oposisi dan mengingkari semua keyakinan, kepribadian hingga garis perjuangannya semasa di pemerintahan? Siapa yang mengira orang yang sebelumnya begitu dekat dengan Pakde Jokowi dan begitu kritis terhadap Prabowo tiba-tiba begitu dekat dan mengagung-agungkan Prabowo? Dan siapa pula akan mengira bahwa Anies yang sebelumnya menjabat sebagai menteri pendidikan kini memenangkan Pilkada DKI dan sudah diresmikan sebagai Gubernur DKI tahun 2017-2019?
    Peta pertarungan politik begitu cair, sangat-sangat cair sehingga susah untuk kita menebaknya. Begitu banyak orang akhirnya bercerai-berai tergantung kemana tokoh yang diidolainya hinggap. Bukan sebuah pengingkaran jika masa pendukung Jokowi sebagian besar dibawa oleh Anies kepada kubu sebelah karena Anies sendiri adalah sosok yang begitu baik dalam permainan kata dan pikiran.
    Siapa jajaran Pakde yang akan meloncat lagi? Baik itu dari sisi pemerintahan maupun dari sisi partai pengusung pemerintahan?
    Mungkinkah menteri fenomenal semacam Ibu Susi atau Ibu Sri Mulyani meloncat dan mencalonkan diri sebagai Capres atau Cawapres tahun 2019 melawan Pakde? Tidak akan pernah ada yang tahu pasti, karena kehidupan itu berputar. Hati dan keyakinan manusia pun bisa pudar dan berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Namun semoga saja hal itu tidak terjadi.
    Atau siapa partai pengusung pemerintahan yang akan membelot keluar dari kubu Jokowi pada tahun 2019? Apakah partai Golkar? Karena kita tahu pemimpinnya sedang diguncang kasus E-KTP dan Presiden Jokowi sendiri diam tidak memberi perlindungan. Karena dari dulu konsentrasi Pakde salah satunya adalah pemberantasan korupsi.
    Kita nantikan saja tahun 2019

    2. Suasana pertarungan
    Pada tahun 2014 begitu massif bertebaran majalah yang isinya adalah fitnah kepada keluarga Presiden Jokowi yang isinya Jokowi bukan anak kandung, keturunan PKI, antek China dan masih banyak lagi. Saya pribadi tidak tahu apakah Presiden Jokowi tergolong muslim yang taat atau tidak karena saya tidak melihat keseharian beliau. Namun melihat statusnya sebagai muslim dan beliau juga sudah Haji rasanya sangat-sangat tidak etis serangan itu dilakukan.
    Suasana tahun 2014 begitu panas, sangat-sangat panas. Media di negeri ini terbelah antara Televisi  swasta satu dan televisi swasta dua. Media nasional benar-benar terpecah saat itu
    Pada tahun 2017 Pilkada Jakarta cukup mengguncangkan suasana negeri ini, kepentingan umum dilanggar, hak kampanye dilanggar, suasana saling klaim, saling hina, saling hujat begitu kental pada Pilkada DKI baik di dunia nyata maupun online.
    Suasana Pilkada DKI di klaim jauh lebih panas dari Pilpres tahun 2014 yang lalu karena dibumbui dengan demo berjilid, ancaman pembunuhan, intervensi proses persidangan dan masih banyak yang lainnya.
    suasana ini sangat-sangat mungkin bakal terjadi dan terulang pada Pilpres 2019 mendatang, Ditambah lagi Harry Tanoe sebagai penguasa media terbesar di negeri ini tentunya akan mengerahkan segala sumber dayanya untuk ambisi kekuasaan politiknya. Semoga saja tidak.

    3. Cara pertarungan
    Mengkafirkan, mengancam pembunuhan, menghujat orang di medsos, tidak menshalatkan mayat, klaim kafir bagi pendukung orang kafir, penolakan Shalat Jum’at merupakan cara-cara kotor yang diakui atau tidak sudah terekam sangat jelas terjadi di Pilkada DKI. Cara-cara bar-bar inilah yang memancing perhatian seluruh negeri bahkan dunia, dan cara-cara inilah yang sebagian orang mengamini bahwa hal inilah yang membuat Anies-Sandi sukses meraih kursi Gubernur DKI 2017-2022. Dengan adanya kesuksesan tersebut maka akan menginisiasi para politikus praktis untuk menggunakan cara-cara serupa demi meraih kekuasaan tidak tertutup pula cara yang sama akan dilakukan pada Pilpres 2019.
    Semua hal itu masih terbuka dan berpotensi untuk terjadi.

    Terakhir, bangsa ini terlahir dengan tujuan baik, mengarah kepada hal-hal baik. Alangkah indahnya jika kita bergandeng bersama membangun negeri ini kearah lebih baik tanpa harus melibatkan cara-cara yang sangat tidak baik.

    Semoga bermanfaat.
    Terima kasih.



    Penulis  :   Mukhlas Prima Wardani    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi-Ahok-Djarot VS Prabowo-Anies-Sandi hingga JK, Susi dan Sri Mulyani. Bagaimana Peta Pertarungannya tahun 2019? (Analisis) Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top