728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 16 Mei 2017

    Jika Presiden Jokowi Mengabaikan “Hal Ini” Dia Bisa Kalah Oleh Prabowo Di 2019

    Pilgub DKI Jakarta telah membuktikan bahwa mayoritas pemilih Indonesia -setidaknya DKI yang indeks pembangunan manusia dan rata-rata pendidikannya tertinggi di Indonesia- lebih mengutamakan faktor-faktor emosional dan primordial dalam memilih kepala pemerintahan. Hal kedua yang dapat kita lihat dari pilgub DKI juga ternyata warga Indonesia sangat mudah digiring menggunakan isu agama, ayat yang sama sekali TIDAK ada hubungannya dengan pemilihan “pemimpin” diangkat terus menerus tidak pada makna sebenarnya dan mayoritas masyarakat “ngikut” saja karena ketakutan tanpa mempelajari apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat-ayat tersebut.

    Di sisi lain, dua orang yang kemungkinan besar akan berkontestasi lagi di pilpres 2019 adalah petahana Joko Widodo dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang sudah menyatakan diri akan maju lagi di pilpres 2019.

    Sampai Maret 2017 seluruh survey dan pemberitaan masih menempatkan posisi keterpilihan Jokowi diatas 50% jauh lebih unggul dibandingkan berbagai kandidat lainnya termasuk Prabowo, hal ini ini sangat wajar mengingat tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi bertengger di angka 66% (survey indo barometer) -jauh diatas angka kemenangannya di 2014 53%. tetapi pendulum berbalik tiba tiba, ada hal besar yang terjadi antara maret 2017 dengan Mei 2017 yaitu Pilgub DKI. suka tidak suka kekalahan Ahok adalah representasi kekalahan dari “kinerja” dan “kepuasan masyarakat”, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok yang mencapai 73% (survey LSI Denny JA) sama sekali tidak tergambar pada hasil pilgub DKI 2017. Ahok kalah telak. Sangat mungkin kekalahan rasionalitas seperti ini akan terjadi juga di pilpres 2019.

    Memang tentu terlalu jauh jika mengatakan presiden Jokowi akan kalah di pilpres 2019 hanya karena Ahok kalah, sisi positifnya adalah kita bisa bilang suara Presiden Jokowi yang sudah dalam genggaman adalah sekitar 40%, bisa dibilang jumlah itu adalah jumlah pemilih rasional yang melihat orang secara ADIL berdasakan kinerjanya. tetapi Pilpres dan Pilgub DKI berbeda dengan pil pil yang lainnya karena membutuhkan kemenangan diatas 50%. sejauh ini Presiden Jokowi masih menguasai setidaknya minimal 10% pemilih emosional karena agak susah menyerang Jokowi dengan “ayat”, Jokowi merupakan seorang MUSLIM YANG TAAT sehingga sulit menakut nakuti orang dengan neraka dalam memilih Jokowi. Jokowi juga berasal dari suku dengan jumlah terbesar di Indonesia yang menjadikannya 50 : 50 secara primordial jika dihadapkan dengan prabowo.

    disisi lain, ada hal yang dimiliki Jokowi yang tidak dimiliki oleh Prabowo maupun Ahok, yaitu penetrasinya ke masyarakat kecil, lapisan masyarakat paling bawah yang umumnya memilih secara emosional, bukannya rasional.

    Saat ini masih aman mengatakan bahwa Jokowi mengantongi mayoritas suara pemilih baik itu yang rasional maupun yang emosional.

    TETAPI hal ini tidak boleh membuat lengah, Jokowi saat ini belum mulai diserang oleh musuh musuhnya secara langsung dan intensif. serangan serangan ini pastinya akan menjadi semakin masif mendekati pemilu 2019.

    Rasa-rasanya PKS sudah dapat dipastikan akan kembali merapat ke kubu Prabowo dan ini patut diwaspadai. PKS memiliki BANYAK kader militan yang militansinya sulit ditandingi oleh partai manapun, dan yang paling berbahaya adalah karena simpatisan mereka dapat memainkan kartu agama, tidak usah dibantah karena saya yang berasal dari pesantren memilik banyak teman yang merupakan simpatisan PKS. Masjid-masjid, mubaligh-mubaligh, pesantren-pesantren, kampus-kampus mulai dikuasai oleh kader dan simpatisan mereka secara sistematis dan masif. Hal yang di 2012 dan 2014 masih menjadi bahan tertawaan telah menjadi kenyataan di 2017. ini HARUS di cegah.

    “Hal ini” yang saya maksud adalah, pemerintah tidak boleh abai dengan berbagai pemahaman “ekstrem” dalam beragama. yang terjadi belakangan ini adalah agama telah dibawa dan dimanfaatkan hingga pada tahap “ekstrem”. ini bukan radikalisme melainkan ekstremisme, radikalisme adalah “memahami secara terperinci sampai ke akar akarnya” sedangkan ekstremisme adalah “melakukan dan meyakini sesuatu secara berlebih lebihan melampaui batas wajar”. Menganggap surga dan neraka ditentukan oleh pilgub adalah pemikiran ekstrem, mengatakan orang yang berbeda pandangan sebagai munafik adalah ekstrem, membawa-bawa mayat kedalam pilgub adalah perbuatan ekstrem. Dan itu terjadi di provinsi dengan rata-rata pendidikan tertinggi di Indonesia.

    lucunya kebanyakan orang yang berfikiran ekstrem seperti ini sebenarnya pengetahuan agamanya sangat dangkal. mereka cuma menang semangat saja, apa yang dikatakan oleh orang bergamis di depan mereka akan mereka amini padahal mereka tidak mengerti.

    “betul tidak?” “betul!”, “siap berjuang?” “siap!”, “siap bela agama Allah?” “siap!”, “Takbir!” “Allahu Akbar!”

    kira-kira kalimat seperti itulah yang selalu ada di tabligh tabligh dan pengajian pengajian kaum ekstrem dan sejenisnya, belajar agama kok kayak anak SD main tebak tebakan. Bela Islam dari siapaaa???

    para ekstremis-ekstremis seperti ini lah yang menjelang 2019 akan membuat semakin banyak kekacauan dan intimidasi serta menguasai mimbar mimbar Jum’at jika pemerintah tidak SEGERA memotong gerakan mereka.

    gerakan mereka akan menjadi “sambil menyelam minum air” dalam menggerus elektabilitas presiden Jokowi. pertama melalui propaganda sesat seperti di tahun 2014 yang akan diulang lagi seperti “Jokowi PKI, Jokowi Kristen, Jokowi turunan orang singapura, Jokowi menyembunyikan identitas aslinya, Jokowi didukung 9 naga” dan sebagainya. ini saja sudah akan berbahaya terhadap elektabilitas presiden Jokowi.

    bahaya kedua adalah, dengan menyebarkan intimidasi dan instabilitas, mereka akan menunjukkan bahwa presiden Jokowi tidak bisa mengendalikan negara dan menjamin keamanan masyarakat, sehingga sangat mungkin masyarakat akan memilih figur yang “terlihat” kuat seperti Prabowo.

    Ini bukan soal Jokowi tetapi soal Indonesia, oleh karena itu izinkan saya mencoba menyadarkan para ekstremis dengan mengutip kitab yang seharusnya mereka taati, ini adalah kalimat dari Allah, Tuhan Yang Maha Agung.

    “dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

    Dari sudut gerbang utama negara ini saya bercurah pendapat…

    Penulis :  Muhammad Sabri   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jika Presiden Jokowi Mengabaikan “Hal Ini” Dia Bisa Kalah Oleh Prabowo Di 2019 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top