728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Mei 2017

    Gusti Ora Sare: Cahaya Iman Purnama

    Ada maksud apa hingga Basuki Tjahaja Purnama memakai ungkapan dalam bahasa Jawa pada bagian akhir suratnya? “Gusti ora sare!” – Tuhan tidak tidur!

    Padahal ia seorang Tionghoa. Tentu ini menarik untuk ditelaah. Walau sempat tertunda tiga hari akibat gawai cerdas 5″ ngambek hingga harus masuk instalasi gawat darurat untuk diinstal ulang. Praktis, artikel yang sudah siap kirim pun menguap akibat tanpa back-up.

    Semestinya artikel dengan judul sama sudah tayang tiga hari lalu. Kini harus ditulis ulang. Padahal namanya menulis ulang suatu ide, itu lebih melelahkan ketimbang menulis ide yang masih baru dan segar. Apalagi peristiwa dan berita tidak pernah lelah berkejar-kejaran tiap hari sehingga memancing munculnya ide-ide yang lebih segar. Pertanyaannya, masihkah judul ini menarik untuk dibaca, ketika baru saja bom bunuh diri di Kampung Melayu menyedot perhatian para pembuat berita?

    Setelah ditimbang-timbang, radanya tetap sayang kalau penelahan tentang ungkapan Jawa yang dipakai Basuki dibiarkan melayang-layang di dunia gagasan. Rasanya eman-eman kalau menahan-nahan buah penjelasan tentang mengapa Ahok memilih ungkapan dalam bahasa Jawa ketika menuliskan suratnya dari penjara.Karena apa yang dilakukan Tjahaja Purnama jelas bukan hal biasa. Kalau tidak turut menuliskannya rasanya ada yang terbuang. Kan sayang…

    “Gusti ora sare!” – Tuhan tidak tidur. Orang Jawa sering memakai ungkapan tersebut ketika mengalami ketidakadilan. Terutama bagi orang kecil ketika berhadapan dengan situasi yang membuatnya tak berdaya. Ahok rupanya memahami betul hal ini. Entah dari siapa ia belajar.

    Ahok kini memposisikan diri sebagai orang kecil. Bahkan dalam nota pembelaan yang disampaikan di persidangan ia hanya mengibaratkan dirinya sebagai ikan kecil.

        “Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan.”

    Bertolak dari kenyataan ini, praktis album “Lebaran Kuda” SBY yang dirilis tahun lalu benar-benar tidak laku. Maklum saja kalau sebuah album yang hanya didasari opini sesat dan sesaat.

    “Kalau (pendemo) sama sekali tidak didengar, diabaikan, sampai lebaran kuda masih ada unjuk rasa itu … Kalau ingin negara ini tidak terbakar oleh amarah para penuntut keadilan, Pak Ahok mesti diproses secara hukum. Jangan sampai beliau dianggap kebal hukum ,” ucap SBY.

    “Gusti ora sare!” SBY harus mempertanggungjawabkan lebaran kudanya. Fakta jelas di depan mata. Semoga Presiden keenam itu tidak buta ketika membaca fakta tentang Ahok yang begitu patuh pada hukum pada satu sisi dan Habieb Rizieq yang beberapa kali mangkir dari panggilan polisi. Jelas sekarang, siapa yang pantas disebut dan seolah-olah kebal hukum. “Hai, hai SBY… Ahok apa Rizieq yang menurutmu kebal hukum?”

    Entah, album apa yang akan dirilis SBY setelah album Lebaran Kuda tidak laku di hadapan Tuhan yang tidak tidur. Kuda dan kerbau bisa tertidur pulas. Sama halnya para hakim yang bisa saja berbuat culas tanpa alas. Tetapi, bagi orang-orang kecil tetap meyakini bahwa Gusti ora sare.

    Persis seperti kata-kata Basuki dalam pledoinya:

            “Tuhan yang melihat hati mengetahui isi hati saya…. Walaupun saya difitnah dan dicaci maki dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya, saya akan tetap melayani dengan kasih.”

    “Gusti ora sare!” benar-benar menjelma menjadi cahaya iman bagi Basuki Tjahaja Purnama. Penjara, karenanya bukan menjadi tempat yang gelap baginya. Mengingat hatinya selalu diterangi oleh keyakinan imannya. Iman yang selalu bercahaya sesuai namanya Tjahaja Purnama.

    Bila umumnya penjara menjadi tempat orang-orang mencari dan menemukan lagi jalan yang benar, hal ini tidak berlaku bagi Basuki. Justru sebaliknyalah yang terjadi. Mengingat, orang-orang kini justru melihat kebenaran yang terang benderang dalam diri Basuki Tjahaja Purnama. Hingga nanti hari Lebaran Kuda tiba, saat SBY menghadap hari pengadilan Tuhan Yang Mahakuasa, cahaya kebenaran Purnama tidak bisa dihalang-halangi oleh siapa pun juga.

    “Gusti ora sare!” adalah doa dari orang-orang kecil yang sekalipun merasa apes tetapi tidak kehilangan cahaya pengharapan. Sebagaimana cahaya bulan purnama yang selalu layak ditunggu setiap bulannya. Ketika kata-kata itu yang ditulis dari penjara, benar-benar luar biasa Pak Ahok ini. Kepada semua orang yang berbelarasa diajak meyakini bahwa Tuhan tidak tidur. Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang melebihi semua nalar penduduk bumi.


    Penulis :  Setiyadi RXZ   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Gusti Ora Sare: Cahaya Iman Purnama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top