728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 28 Mei 2017

    FPI, dari Sweeping, Ancaman Pembunuhan Sampai Meneror Ibu-ibu Beranak Dua

    Hari pertama puasa, selepas sahur saya melihat beberapa pesan di WA untuk kemudian dijawab. Salah satu pesannya adalah dari admin IT Seword yang menanyaka “bisa dibantu mas?”

    Awalnya saya pikir dia yang butuh bantuan. Tapi setelah membaca pesan keseluruhan, ternyata ada seorang ibu-ibu yang sedang butuh pertolongan. Beliau adalah seorang dokter dan sedang diintimidasi oleh gerombolan FPI.

    Rupanya ibu ini diintimidasi karena tiga statusnya di facebooknya berikut ini:

    “kalau tidak salah, kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara dan 7 juta ummat yang siap mendampingimu. Jangan run away lagi dong bib”

    “kadang fanatisme sudah membuat akal sehat dan logika tidak berfungsi lagi, udah zina, kabur lagi, masih dipuja dan dibela.”

    “masih ada yang berkoar-koar kalau ulama mesumnya kena fitnah, loh, dianya kabur. Mau ditabayyun polisi beserta barang bukti aja ga berani.”

    Rupanya, tiga status ini sudah dicapture dan tersebar di banyak grup-grup WA daerah sekitar Solok, Sumatera Barat. Kemudian ditambahi dengan kalimat-kalimat provokatif andalan kelompok radikal ini seperti “menghina ulama” dan sebagainya. Sehingga membuat ibu dokter ini ditegur oleh atasannya dan diminta untuk menghapusnya.

    Bu dokter ini menuruti permintaan atasannya, agar tidak memperpanjang masalah. Namun rupanya itu pun tidak cukup. Bu dokter ini diintimidasi, kaca mobilnya diketok-ketok oleh laskar FPI dan mengatakan FPI seluruh Sumatera Barat akan bergerak jika bu dokter tidak menandatangani surat permintaan maaf dan menguploadnya ke facebook.

    Bu dokter pun menuruti kemauan FPI tersebut. menandatangani surat permintaan maaf dan kemudian menguploadnya ke facebook. Namun rupanya permintaan maaf beliau ini kemudian menjadikan dia semakin dibully. Foto-fotonya diedit vulgar, tidak senonoh dan ditambahi kata-kata jorok.

    Esok harinya, rumah sakit tempatnya bekerja ternyata sudh dikepung oleh FPI. Kemudian bu dokter ini kembali diminta untuk meminta maaf secara terbuka. di hadapan pimpinan FPI, didampingi Polisi kota dan Kasad Intel, bu dokter meminta maaf dengan penuh tekanan.

    Rupanya itupun belum cukup bagi kelompok radikal tersebut. Foto-foto pertemuan dokter dengan ormas FPI kemudian dijadikan bahan bully yang lebih massif lagi. Ancaman-ancaman selanjutnya terus berdatangan, dari membunuh, merajam, membakar sampai menyumpalnya dengan gagang cangkul. Bu dokter tersebut dituduh sebagai pelacur penghina ulama, komunis dan PKI, murtad, dan semua caci maki lainnya.

    Di akhir pesan dan cerita yang kini viral di WA ini, belakangan bu dokter yang ada dalam cerita itu sudah menyerah untuk hidup di Sumatera Barat. Dia mencari bantuan orang-orang yang mempunyai kepedulian. Inilah kenapa admin IT seword bertanya apa saya bisa bantu?

    Awalnya saya tidak tergerak untuk membantu, sebab rupanya bu dokter ini hidup sebatang kara bersama anak-anaknya, tanpa suami dan tanpa orang tua. Dengan begini, bisa saja istri saya tidak setuju untuk mengulurkan bantuan atau sebagainya.

    Namun saya pikir ini tentang kemanusiaan, tentang hak hidup tenang dan merdeka Warga Negara Indonesia yang dirampas oleh segerombolan kelompok radikal. Akhirnya saya beranikan diri menyapa bu dokter yang dimaksud. Memperkenalkan diri sebagai pimpinan Seword dan menanyakan kondisinya.

    Setelah beberapa saat berkomunikasi, rupanya bu dokter Fiera sudah mendapat bantuan. “Saya hargai itikad baik bapak… Alhamdulillah, udah ada yang urus, tapi nanti bila saya rasa perlu, saya akan hubungi bapak… Tapi saat ini kasus udah selesai, saya hanya ingin hidup tenang. Doakan saya dan anak-anak bisa pindah dan memulai hidup baru. Salam buat keluarga bapak juga…”

    Alhamdulillah, di bulan suci Ramadhan ini, rupanya masih banyak orang-orang yang tergerak hatinya untuk ikut membantu sesama.


    FPI, dari mengajak membunuh sampai meneror ibu-ibu

    Cerita bu dokter yang diteror oleh FPI sampai berniat ingin pindah kota ini sungguh cerita yang sangat memprihatinkan bagi Indonesia, negara yang sebentar lagi akan merayakan 72 tahun kemerdekaannya.

    Jika dulu kita mengenal FPI sebagai tukang sweeping saat bulan Ramadhan, kini setelah Jokowi jadi Presiden, mereka dijaga ketat. Sehingga aksi-aksi jahiliyah sweeping rumah makan tidak lagi terjadi.

    Tapi rupanya FPI tetap menjadi ormas yang mengerikan. Yang publik ingat tentang FPI sekarang adalah, nyanyian seorang ulama yang mengajak jamaahnya untuk membunuh seorang manusia bernama Ahok. “bunuh, bunuh, bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga.” Ajakan pembunuhan tersebut dinyanyikan secara terbuka di tempat umum. Dinyanyikan oleh seorang ulama yang katanya keturunan nabi.

    Lalu kini, pagi ini kita tahu, bahwa FPI tidak hanya meneror orang penting sekelas Ahok sejak 2014. Tapi juga bisa meneror ibu-ibu, janda beranak dua. Meneror secara berjamaah, bergerombol, keroyokan. Luar biasa.

    Padahal ibu-ibu ini hanya menyuarakan opininya, dan itu dilindungi undang-undang kita, kebebasan berpendapat. Mempertanyakan kenapa ulama FPI itu kabur ke luar negeri saat tersandung kasus mesum bersama Firza dan menjadi tersangka kasus pelecehan terhadap Pancasila. Tapi kemudian FPI meresponnya dengan intimidasi, membungkamnya dengan meminta tulisan bu dokter dihapus. Gila!

    Saya melihat status facebook bu dokter ini sangat biasa. Ada banyak orang yang mengatakan hal itu, entah di facebook, twitter, insta bahkan pengamat-pengamat di televisi. Banyak. Opininya sangat biasa dan umum. Sangat logis mempertanyakan kenapa ulama pimpinan FPI itu kabur ke luar negeri dan tidak berani menghadapi polisi. Apa salahnya?

    Bandingkan dengan ajakan pembunuhan yang dilakukan oleh ulama FPI. Cacian kutil babi, setan, dajjal, iblis dan seterusnya. Manakah yang lebih layak untuk diucapkan?

    Saya pikir cerita ini bisa menjadi catatan penting sejarah kemerdekaan Indonesia. catatan tentang ormas yang dulu dikenal sebagai kelompok tukang sweeping, sekarang jadi ormas pengancam dan pengintimidasi, dari kalangan pejabat sampai orang biasa ibu-ibu beranak dua.

    Semoga kasus ini bisa ditangani secara serius oleh pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Jika sebelumnya pemerintah menyatakan telah membubarkan HTI sebagai ormas anti Pancasila, semoga selanjutnya pemerintah juga bisa membubarkan FPI. Sementara bagi rakyat Indonesia pada umumnya, harus bersatu melawan intimidasi dan teror kelompok-kelompok radikal. Indonesia ini negara yang damai, tentram dan aman, jangan kita beri ruang bagi kelompok radikal untuk semena-mena dan mengancam-ancam semaunya…Begitulah kura-kura.


    Penulis : Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: FPI, dari Sweeping, Ancaman Pembunuhan Sampai Meneror Ibu-ibu Beranak Dua Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top