728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 18 Mei 2017

    Ditangan Polisi, Kesempatan Firza Husein Menjadi “Pahlawan” Negara

    Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi Negara Indonesia sedang mengalami keadaan kritis terkait kebhinekaan. Ancaman serta terror seolah akrab dengannegara ini dalam beberapa waktu terakhir. Teror itu meskipun sebenarnya adalah murni kepentingan politik, namun sudah “meminjam” agama sebagai kendaraan untuk menggapai tujuannya. Penggunaan agama sebagai “kendaraan” itu dilatarbelakangi kesadaran para politikus “amatir” negeri ini yang merasa kalah dengan negarawan jujur yang sedang memimpin negeri.

    Ketika agama dijadikan kendaraan politik demi terwujudnya harapan-harapan dari partai politik dan para politikus amatirnya, maka di situ dibutuhkan sosok yang bisa mengelola, mengarahkan dan memimpin sebuah komunitas agama. Sosok itu harus (terkesan) kharismatis, sehingga bisa menarik simpati massa dan juga sosok itu harus nekat, sehingga mampu meyakinkan banyak orang dalam pemahaman agama yang dangkal.

    Dalam kondisi inilah, keberadaan FPI dengan Rizieq Shihab-nya menjadi primadona partai-partai serta politikusnya yang amatir tadi. FPI dengan Rizieq Shihabnya seolah mendapat angin segar untuk  menunjukkan eksistensinya dan partai politik serta politikus amatirnya juga mendapat kendaraan “murah” demi ambisinya. Dua kubu yang saling membutuhkan bertemu, dan bersatulah mereka, dalam istilah jawa tumbu ketemu tutupe.

    Dalam perjalanan waktu, ketika beberapa ambisi dari kedua kubu terpenuhi, relasi mereka sudah tidak begitu mesra lagi. Partai politik dan politikus amatirnya sudah “orgasme” dengan pilkada Jakarta, sementara kelompok Rizieq sudah mendapatkan juga apa yang didambakannya. Dan manakala Rizieq Shihab sebagai “panglima” atas semua gerakan berjubahkan agama, yang mengancam keutuhan NKRI dengan segala kebhinekaannya, terjerembab dalam persoalan rumit, partai politik dan politikus amatirnya seolah  cuci tangan. Mereka, politikus amatir dan partai politiknya itu tidak mau tahu tentang kondisi Rizieq Shihab.  Dan nasip malang yang mesti diterima Rizieq Shihab.

    Kondisi yang demikian sebenarnya adalah kesempatan baik bagi Negara dengan pemerintahannya untuk membabat habis  rayap-rayap negara yang menggerogoti negara dari dalam tubuh negara ini. Syaratnya sangat sederhana, segera tangkap Rizieq Shihab. Korek semua informasi darinya dan beri jaminan bahwa keamanannya dan juga keluarganya dijamin Negara. Karena bukan tidak mungkin ketakutan Rizieq pulang ini karena ancaman beberapa kelompok atau partai politik dengan politikus amatirnya.

    Sebelum memulangkan Rizieq yang sekarang malah menggantikan peran bang Thoyib yang ga pulang-pulang, maka sosok yang perlu “diselamatkan” adalah Firsa Husein. Mengapa perlu diselamatkan? Karena Firza Husein adalah sosok kunci untuk mengurai benang kusut persoalan negeri ini. Logikanya sederhana, Firza Husein yang sudah ditangkap pihak kepolisian harus digali semua berita tentang Rizieq. Jangan diabaikan juga keamanan Firza Husein beserta keluarganya, karena bisa jadi dirinya sedang dalam incaran kelompok-kelompok tertentu,partai-partai politik dengan politikus amatirnya.

    Jika keamanan Firza Husein dan keluarganya dijamin Negara, maka dia akan membuka suara, Firza Husein akan bernyanyi. Dan dari nyanyiannya itulah, sosok Rizieq Shihab ada di dalam “bait-bait” lantunan lagunya. Pengakuan Firza Husein inilah yang akan menjadi “jala ajaib” untuk menangkap Rizieq. Pihak kepolisian bisa bekerja sama dengan negara sahabat dan juga Interpol jika Rizieq Thoyib ngambeg gamau pulang-pulang. Penulis yakin jika sudah bekerja sama dengan Negara sahabat dan pihak Interpol, langkah Rizieq Thoyib, eitss..Rizieq Shihab akan berhenti dan akhirnya pulang bersama pihak kepolisian.

    Setelah pulangnya bang Thoyib, eits salah lagi, Rizieq Shihab, maka kepolisian bisa segera mendengarkan dendang nyanyian Rizieq Shihab tentang perjalanan heroiknya, selama menjadi panglima demo togelisasi. Dari nyanyian Rizieq, kepolisian bisa mendengar dan mendapatkan informasi siapa-siapa yang terlibat dalam semua demo berbautogel serta siapa yang mendanai orderan fatwa MUI terkait pilkada DKI.

    Namun sekali lagi, seperti Firza Husein, Rizieq Shihabpun harus mendapat jaminan keamanan dari pihak kepolisian. Bukan hanya dirinya, namun juga keluarganya. Karena menilik dari “gaya” partai politik dan para politikus amatirnya, yang tidak tahu etika dan aturan itu, keselamatan mereka berdua serta keluarganya terancam, pastilah mereka sudah menekan mereka berdua, Firza dan Rizieq. Belum lagi faktor keluarga cendana, sejarah keluarga ini sepertinya tidak pernah seharum cendana, malah selalu kontra dengan keharuman cendana.

    Dalam perspektif lain, sebenarnya dalam situasi seperti ini, Rizieq Shihab dan Firza Husein bisa menjadi “pahlawan untuk Negara”. Pengakuan jujur adalah kunci utamanya. Pengakuan jujur Firza Husein akan menjadi kunci pembuka gerbang. Dengan pengakuan ini, pihak kepolisian semakin punya data untuk memulangkan Rizieq Shihab sesegera mungkin. Setelah Rizieq Shihab pulang, barulah gerbang kedua akan bisa dibuka oleh kunci kedua, yaitu Rizieq Shihab. Dan di dalam “ruangan” yang dibuka oleh Rizieq Sihab itu, saya yakin akan membuat masyarakat heran. Mengapa heran? Karena ternyata di dalamnya sedang berpesta, orang-orang yang selama ini menampilkan wajah-wajah ramah.

    Siapakah yang di dalam ruangan yang dibuka dengan kunci Rizieq Shihab?Tunggulah pihak kepolisian yang menyelesaikan petualangan asyik untuk negeri tercinta ini.

    Salam NKRI Jaya


    Penulis : Dony Setyawan   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ditangan Polisi, Kesempatan Firza Husein Menjadi “Pahlawan” Negara Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top