728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 22 Mei 2017

    Dahsyat! Presiden Jokowi Menguasai Seni Perang Sun Tzu

    Do not judge a book by it’s cover! Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Jangan menilai seseorang dari tampilan fisik-lahiriah semata. Demikianlah nasehat kearifan yang sudah sering kita dengar. Dan kebenarannya kita temukan lagi pada sosok Presiden kita, Joko Widodo.

    Siapa sangka sosok kecil, kurus (untuk tidak mengatakan, maaf, ‘kerempeng’) dengan pilihan busana yang selalu sederhana – semua buatan anak bangsa – tanpa karisma rethorika, ternyata menyimpan potensi dahsyat tak terduga? Secara fisik amat jauh dari meyakinkan, tetapi langkah-langkah taktisnya mengungkapkan strategi jitu yang mulai menggentarkan lawan-lawannya.

    Penegasannya dengan wajah serius sambil dengan sadar memilih kata “tendang dan gebuk” sungguh mengejutkan lawan, tetapi melegakan kita yang sudah lama menantikan ketegasan beliau. Kata ‘gebuk’ pernah digunakan oleh presiden kedua RI, Suharto, di masa-masa awal kepresidenannya. Bedanya, Suharto itu jenderal TNI, Jokowi siapa?

    Tetapi pada saat mengucapkan ultimatum itu, beliau diapit dua jenderal pemegang kunci keamanan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di sebelah kanan, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di sebelah kiri. Jokowi berbicara dalam kapasitas sebagai Panglima Tertinggi TNI dan Polri. Itulah cara menempatkan diri secara tepat, dengan ungkapan yang tepat, pada saat yang tepat dan didepan audeiens yang tepat: para pemimpin agama! Luar biasa. Bahasa verbal disempurnakan dengan bahasa visul-simbolik yang “pesan”nya mudah ditangkap dan dipahami semua orang.

    Langkah Jokowi itu mengingatkian saya pada ahli strategi China, Sun Tzu. Adakah Presiden Jokowi memang pernah berguru pada Jenderal Sun Tzu melalui bukunya yang sangat terkenal The Art of War, atau langkah itu adalah hasil kerja dari tim penasehat militernya? Wallahualam. Yang jelas langkah-langkah itu mencerminkan penguasaan pada salah satu resep Sun Tzu yang kemudian diadopsi dunia politik, hukum, hingga bisnis, yang akan kita kutip di bawah ini.
    Resep dari Seni Perang Sun Tzu
    Buku The Art of War merupakan hasil karya klasik militer China, abad kelima Sebelum Masehi. Diyakini sebagai buah karya seorang ahli strategi sekaligus filsuf China bernama Sun Tzu (544-496 BC). Terlahir dengan nama Sun Wu, si jenius perang ini kemudian lebih dikenal sebagai Sun Tzu atau “Master Sun”.

    Selama berabad-abad buku The Art of War hanya menjadi panduan bagi para panglima perang di China, kemudian Asia Timur. Tetapi sejak diterjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh seorang Pastor Jesuit bernama Jean Joseph Marie Amiot, tahun 1772, dunia Barat mulai pula menggunakannya sumber inspirasi. Apalagi setelah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Bukan hanya para jenderal dan pemimpin dunia, para pengusaha dan ekskutif  bisnis pun mengadopsi gagasan-gagasan Sun Tzu. Padahal buku itu sebenarnya mengulas filosofi perang dalam mengelola konflik dan memenangkan pertempuran.

    Salah satu prinsip paling masyur dalam buku The Art of War berbunyi:
    Kenali dirimu,
    kenali musuhmu,
     kenali medan tempurmu.
    Dan kau akan memenangi seribu pertempuran.
    Sekarang, coba kita analisis strategi dan taktik Presiden Jokowi berdasarkan prinsip tersebut. Apakah langkah beliau tersebut diatas didasarkan atas ‘pengenalan diri’ beliau secana benar? Apakah ‘kediaman’ beliau selama berbulan-bulan dijadikan ‘obyek’ berbagai tudingan dan hujatan, memang menjadi bagian dari upaya mengenali dan memetakan “musuh-musuh” beliau? [Oh ya, karena kita tidak sedang bertempur secara militer, maka kata ‘musuh’ kita ganti ‘lawan’]. Dan, apakah setelah semua itu, Jokowi sudah mengenali benar-benar medan tempur beliau, sudah punya peta lawan-lawannya selama ini?
    Jokowi Sangat Mengenali Diri Sendiri
    Salah satu ukuran utama untuk menilai tingkat kedewasaan dan kematangan pribadi seseorang adalah mengenal diri dan menerima diri sebagaimana adanya (dengan kekuatan/keunggulan tapi juga kelemahan/keterbatan). Pribadi yang kenal diri dan menerima diri, akan percaya diri (PD), dan tidak menganggap orang lain sebagai ancaman. Dia berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan kenyataan, berdamai dengan dengan sesama.

    Sebaliknya, jika seseorang tidak mengenal dan menerima diri sebagaimana adanya, ada dua kemungkinan. Menjadi minder, inferior, rendah diri atau tidak PD karena menaksir diri lebih rendah (under estimate). Atau merasa diri superior, menjadi arrogan alias sombong bin angkuh, karena menaksir diri terlalu tinggi (over estimate). Menjadi over confidence atau kelewat PD, lalu mulai omong besar dan membesar-besarkan diri, serta menganggap orang lain sebagai ancaman, sama seperti orang minder. Tidak bisa ‘menempatkan diri’ secara benar.

    Hanya orang yang mengenal dan menerima diri akan mampu menempatkan diri secara benar. Hanya orang PD dan BERIMAN (bukan sekedar ber-Agama!), yang punya Keyakinan kuat pada Penyelenggaraan Ilahi, mampu bersikap tenang dan bijaksana menghadapi segala macam cobaan yang paling berat sekalipun.

    Sosok Jokowi sudah berada pada level itu, bahkan mungkin diatasnya lagi. Karena dia sudah berhenti “mencari diri sendiri”: kehormatan, kekayaan, pujian, gengsi duniawi. Sudah berhenti mengejar prices (hal-hal yang “berharga” secara duniawi, demi diri sendiri), untuk memerjuangkan Values. Nilai-nilai manusiawi yang berdimensi kodrati bahkan adikodrati: Kebenaran, Kejujuran, Kesejahteraan, Kebahagiaan bersama. Dengan istilah yang sering kita dengar: “pribadi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”.

    Seluruh diri dan jabatannya diwakafkan dan diabdikan untuk rakyatnya. Dia sudah menjadi A man for others, yang bersama Ahok layak menyandang predikat The Man of Honor.
    Jokowi Sudah Mengenali Lawan-Lawannya
    Dengan mengambil jarak dari Ahok-Djarot di pilkada DKI, kemudian diam seribu bahasa dalam kasus Ahok, Jokowi memang memberi kesan meninggalkan bahkan mengorbankan sahabatnya itu. Kita mungkin lupa, Jokowi sedang memberi panggung seluas-luasnya kepada lawan-lawannya untuk “keluar dari sarang” dan masuk ke arena terbuka. Termasuk yang bermain dan menghujat di arena maya, media sosial.

    Sementara itu ‘mata dan telinganya’ – entah itu melalui dinas-dinas intelijen negara maupun orang-orangnya sendiri – mengamati dengan cermat setiap pergerakan lawan. Terutama yang merancang, melakukan atau menunggangi demo berseri. Pada saat yang tepat aparat keamanan menciduk beberapa orang yang memang sudah punya indikasi makar. Bukan hanya untuk mencegah pergerakan liar mereka ke Senayan yang sudah dirancang bersama FZ dan FH, meniru-niru peristiwa 21 Mei 19 tahun lalu ketika mahasiswa menduduki Senayan dan memaksa Suharto lengser keprabon.  Melainkan untuk mengorek cucunguk-cucunguk dan cukong-cukong yang bersembunyi di belakang layar.

    Itulah strategi Jokowi dalam memetakan lawan-lawannya. Mulai dari lingkaran terdekat sekitar istana, pejabat-pejabat kunci yang ‘main belakang’ hingga orpol dan ormas radikal. Dia harus memastikan dan memetakan mana orang-orangnya yang benar-benar loyal, mana yang munafik – punya agenda-agenda terselubung.

    Untuk mendapat gambaran jelas tentang siapa lawan-lawan  Jokowi yang sedang berniat menggulingkannya, mari kita simak tulisan seorang loyalis terpercaya, Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan melalui media sosial beberapa waktu yang lalu. Tulisan panjang itu diberi judul di awal “Old Soldiers Never Die, They Just Fade Away”, dan ditutup dengan harapan untuk disebarluaskan. Berikut cuplikannya:

    ——
    ADA 3 KELOMPOK yang sangat ingin menggulingkan pemerintahan Joko Widodo. Adapun pihak-pihak tersebut adalah:

        Pihak-Pihak Yang Takut Terjerat Hukum

    Seperti kita ketahui, pemerintah Jokowi melakukan bersih-bersih sembari menggencarkan pembangunan di Negara ini, dalam upaya bersih-bersih tersebut banyak orang-orang yang merasa terancam akan terjerat hukum karena mereka sudah berbuat jahat di masa lalu, mereka yang dengan rakus menghisap dana negara dengan berbagai trik untuk menumpuk kekayaan.
    Manuver Jokowi membuat pihak-pihak berdosa tersebut ketar-ketir, mereka membangun koalisi jahat dan rela memberikan suplai dana besar-besaran untuk berdemo menggulingkan pemerintahan Jokowi, karena hanya dengan menggulingkan Jokowi-lah yang dapat menyelamatkan mereka dari jerat-jerat hukum rapat yang dibangun Joko Widodo.
    Menggulingkan Jokowi adalah pertaruhan besar oleh kelompok ini, hanya ada dua pilihan Jokowi tumbang atau mereka yang tumbang.

        Pihak-Pihak Yang “Kekeringan” tidak bisa Korupsi

    Korupsi adalah budaya elit yang mendapatkan kedudukan bukan rahasia lagi, bukti korupsi membudaya di berbagai lini di negara ini dibuktikan dengan banyaknya para koruptor yang ditangkap oleh KPK mulai dari kelas teri sampai kelas kakap.
    Para koruptor yang rela beinvestasi besar-besaran untuk mendapatkan kursi jabatan di negeri ini, investasi besar-besaran mereka terancam gagal balik modal karena pemerintahan Joko Widodo sangat ketat dalam penggunaan dan pegawasan anggaran.
    Paceklik berjamaah dialami oleh kelompok ini karena aksi-aksi Jokowi menutup yang bocor, bocor dan bocor, sangat efektif untuk membuat para tikus kelaparan.
    Tak mau mati kelaparan, para tikus-tikus busuk ini mulai menggigit perlahan-lahan untuk merobohkan Pemerintah saat ini.

        Orang-Orang Yang Ingin Mendirikan NKRI Berdasarkan Agama

    Radikalisme dan separatisme dengan alasan agama bukanlah hal baru di negeri ini, bahkan pentolan kelompok ini berani lantang tidak mengakui Pancasila yag merupakan dasar dari Negara ini.
    Kelompok radikal ini sudah menunjukkan upaya-upaya mereka untuk menguasai negara ini dan membuat negara ini sesuai dengan paham mereka, ingin sukses menguasai negara ini seperti apa yang dilakukan oleh kelompok sejenis yang sukses menggulingkan pemerintahan seperti Mesir dan Turki. Jokowi Sudah.
    Jokowi Sudah Mengenali Medan Tempurnya

    Untuk meyakinkan bahwa Presiden Jokowi sudah mengenali ‘medan tempur’-nya, kita kembali mencuplik surat terbuka Menko Maritim, Luhut B.Panjaitan. Beliau mengemukakan ‘medan tempur’ paling rawan berikut ini:

        Membangun Konflik SARA ala Kerusuhan 98 dengan Sasaran Etnis China

    Isu ini dianggap paling berpeluang membuat negeri ini rusuh, menciptakan kerusuhan besar-besaran adalah upaya memecah konsentrasi Polri dan TNI dalam menjaga keamanan negara ini.
    Kelompok-kelompok ini berupaya mengadu domba antara masyarakat pribumi dan masyarakat keturunan dari etnis tertentu.

    Bukti bahwa ada kelompok yang membangun opini negatif dan menancapkan kebencian terhadap Etnis China, adalah banyaknya website di dunia maya,  jumlahnya mencapai angka ratusan, untuk menghembuskan propaganda adu domba menyasar Etnis China.

    Upaya yang sangat masif ini bergulir menjadi bola salju, kebencian yang sudah tertanam tadi akan diledakkan dengan aksi penyerangan suatu kelompok kepada etnis Cina, kelompok pemicu inilah yang akan menyulut kerusuhan dalam skala besar di berbagai daerah di Indonesia. Upaya tersebut sangat jelas saat kerusuhan di Penjaringan 4 November lalu, beruntung polisi dan TNI dibantu masyarakat yang pro kebhinekaan sukses memadamkan pemicu ini.

        Berupaya Memancing Kudeta Militer_

    Setelah operasi 4 November gagal total, kelompok-kelompok ini berusaha untuk mengadu domba antara TNI dengan Presiden, berbagai propaganda disebar mulai dari pujian setinggi langit kepada Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai figur yang cocok menggantikan Joko Widodo sebagai presiden hingga menghembusan isu Panglima TNI yang akan di copot oleh Presiden karena membela umat Islam.

    Pergerakan propaganda ini disebarkan di berbagai sosial media, bahkan banyak anggota TNI aktif sempat termakan isu penggantian Panglima ini, kekecewaan terhadap presiden terbentuk di internal TNI, kekecewaan terhadap presiden sempat diungkapkan oleh beberapa anggota TNI pada akun sosial media Facebook.

    Aksi-aksi adu domba ini sudah tercium oleh Panglima TNI, sang Panglima sadar banyak bawahannya sudah termakan propaganda-propaganda ini. Maka pada 8 November Panglima TNI memerintahkan melalui Surat Edaran kepada seluruh jajaran TNI yang dipimpinnya untuk menyaksikan acara Indonesia Lawyers Club.

    Melalui acara tersebut panglima dengan cerdas mematahkan upaya adu domba berbagai pihak yang mencoba memecah belah TNI, pihak-pihak yang mengadu domba TNI dengan panglima tertinggi dalam hal ini Presiden Jokowi dan upaya-upaya mengadu domba antara TNI dengan Polri.
    Dengan lantang Panglima TNI Jenderal Gatot menutup acara tersebut dengan pernyataan tegas :

        “LEBIH BAIK SAYA MENJADI TUMBAL DEMI KEBHINEKAAN DARIPADA SAYA BERNIAT MENJADI PRESIDEN”

    Pernyataan tegas inilah yang memusnahkan upaya-upaya adu domba membenturkan TNI dengan berbagai pihak. Pernyataan inilah yang membuat TNI kembali merapatkan barisan untuk mnghadapi pihak-pihak yang berniat memecah Kebhinekaan untuk kepentingan kelompok mereka.
    ———-
    Menarik sekali bagaimana Jokowi memagari para prajurit lapangan dari propaganda adu-domba dan kemungkinan kudeta militer. Sebagai Presiden  / Panglima Tertinggi, beliau mendatangi satuan-satuan elit, tentu diiringi oleh ‘bawahannya’, Panglima TNI. Memastikan loyalitas para prajurit, sekaligus menegaskan bahwa dia memegang panglima-panglima lapangan (ingat, Panglima TNI sendiri tidak punya prajurit lapangan yang ada dalam genggaman komandonya!).

    Dengan ultimatum “tendang+gebuk” setelah pembubaran HTI dan pelarian ‘jenderal’ FPI Rizieq Shihab, Jokowi praktis sudah merebut kembali ‘medan tempur’ terbuka di arena demo. Medan tempur berikut yang harus dikuasai adalah media sosial dan media mainstream serta rumah-rumah ibadat, khususnya masjid-masjid yang merupakan wilayah JK selaku ketua DMI. Politisasi SARA khususnya ayat dan mayat ala Pilkada DKI tidak boleh terjadi di Pilkada lain apalagi di Pemilu/Pilpres 2019.

    Tugas kita sudah jelas: ikut memantau dan mengamankan ‘medan-medan tempur’ yang berada dalam jangkauan kita. Menangkal dan memandulkan semua strategi busuk diatas. Jangan lupa jalankan strategi lawas, yakni merangkul orang-orang yang ada dalam lingkungan pengaruh (circle of influence) kita. Istilah dulunya: sekasur (isteri/suami), sedapur (keluarga inti dan keluarga besar), dan ‘sesumur’ (tetangga-tetangga, rekan sekerja dan sejawat di organisasi).
    Salam Kompak Seword.


    Penulis :   Filo Rustandi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dahsyat! Presiden Jokowi Menguasai Seni Perang Sun Tzu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top