728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 23 Mei 2017

    Cara Jokowi Mengatasi JK

    Manuver Jusuf Kalla (JK) pada Pilkada Jakarta yang lalu memunculkan tuduhan sengkuni terhadap beliau oleh kelompok yang mengusung keberagaman dan Pancasila. Mereka kesal dengan Wapres yang ternyata pendukung calon no 3 yang dianggap telah merusak dan membuat perpecahan di masyarakat demi memenangkan pertarungan Pilkada Jakarata. Baca di: https://id-id.facebook.com/1402801009987423/photos

    Terhadap tuduhan itu JK membela diri dengan mengatakan bahwa haknya sebagai warga negara untuk membuat pilihan politik. Memang benar itu merupakan hak beliau sebagai warga negara dan tidak melanggar hukum. (Baca: http://nasional.kompas.com/read/2017/04/25/09223701/kedekatan.jusuf.kalla.dan.anies-sandi.)  Namun tentu saja itu menjadi tidak etis dilakukan oleh seorang Wapres, yang seharusnya bersikap netral untuk mengayomi semua kelompok yang berbeda-beda. Demo berjilid-jilid beliau hanya diam, namun aksi bunga dan lilin disarankannya untuk dihentikan. Sebagai Wapres harusnya bertindak seperti orang tua yang berdiri di antara anak-anaknya yang sedang bertengkar. Lebih bijaksana jika beliau bersikap netral dan menjadi penengah untuk menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda-beda itu.

    Pada sisi yang lain kita melihat sikap Presiden Jokowi yang cenderung diam terhadap manuver JK. Mengapa Jokowi diam dan membiarkan JK yang semakin mesra dengan Anies-Sandi yang terlihat lagi pada hari ulang tahun JK? (Baca:http://www.tribunnews.com/nasional/2017/05/15/anies-sandiri-hadiri-ulang-tahun-ke-75-jusuf-kalla)  Membiarkan JK semakin mesra dengan Anies-Sandi justru langkah strategis Jokowi mengatasi JK. Kemesraan itu pada saatnya akan digunakan untuk melaksanakan tujuan-tujuan penting:
    1. Kemesraan itu akan menjadi alat untuk memastikan gubernur DKI Jakarta yang baru akan melaksanakan program-program pemerintah pusat dengan baik, secara khusus proyek reklamasi yang selama kampanye paslon no 3 berjanji akan menghentikannya. Bisa dipastikan proyek ini akan tetap jalan dibawah pengaruh JK terhadap Anis-Sandi. Jika Pemda DKI mendukung program pemerintah pusat tentu akan menguntungkan Jokowi yang memastikan program untuk kesejahteraan rakyat tercapai yang membuat langkah mulus untuk Pilpres 2019.
    2. Kedekatan JK dengan Anis-Sandi membuat kesan di masyarakat bahwa kubu Prabowo /Gerindra-PKS bukan pemenang sesungguhnya dalam Pilkada Jakarta, sebab ada intervensi JK dalam pencalonan Anis sebagaimana diungkapkan Ketum PAN (lihat:http://news.liputan6.com/read/2939393/ketum-pan-ungkap-peran-jk-dalam-pencalonan-anies-di-pilkada-dki) .
      Kedekatan ini sedikit menjauhkan Anies-Sandi dari parpol-parpol pendukungya. Lihatlah bagaimana reaksi Gerindra yang menyangkal peran JK dalam pencalonan Anies, walaupun Ketum PAN sudah memberikan bukti tentang hal itu. Bahkan ada kekuatiran dari M. Taufik jika Anies-Sandi akan menghianati partainya seperti yang dilakukan oleh Ahok dan Ridwan kamil (baca:https://news.detik.com/berita/d-3504027/m-taufik-bantah-ada-intervensi-jk-di-tim-sinkronisasi-anies-sandi) .
    3. Kedekatan ini akan membuat peta pertarungan pada Pilpres 2019 akan semakin Panas, dengan kemungkinan JK akan maju bersama dengan Anis sebagai Capres dan Cawapres. Ini jauh lebih menguntungkan Jokowi jika dibandingkan kubu oposisi bersatu dengan jumlah yang besar dan kembali mennggunakan cara-cara kasar seperti pada Pilkada Jakarta. Pendukung Anis yang membuat aksi-aksi yang berjilid-jilid itu (politik indentitas) akan terpecah, sedangkan Jokowi akan maju dengan membawa segudang prestasi dalam pembangunan yang nyata selama 5 tahun pemerintahannya.
    4. Sikap diam Jokowi tentu saja memberikan ketenangan bagi masyarakat bahwa pemerintahannya tetap solid dan harmonis sehingga memastikan semua program-program pemerintah juga akan jalan. Jokowi tau bahwa sikap main belakang JK bisa dimanfaatkan lawan-lawan politik untuk memecah-belah RI 1 dengan RI 2 dan akan sangat potensial menimbulkan kekacauan dalam kabinetnya.Disinilah kita melihat kelihaian Jokowi dalam menggunakan strategi menyerang lawan dengan menggunakan potensi lawan demi kepentingan rakyat dan persiapan Pilpres 2019.
      Pertanyaannya, bagaimana dengan Ahok, apakah Jokowi akan membiarkannya? Jokowi akan terus bersikap negarawan yang tidak mau mengintervensi hukum. Namun saatnya dia akan mengangkat Ahok sebagai putra bangsa yang potensial untuk memajukan negara ini pada periode kedua setelah Jokowi memenangkan kembali Pilpres 2019. Ahok tidak akan menjadi wapresnya, karena itu akan menjadi sasaran empuk bagi kubu oposisi menggunakan politik identitas yang terus memainkan aspek SARA. Jadi bukan sebagai Wapresnya tetapi menjadi bagian dari kabinet pemerinthannaya. Itulah momen yang tepat bagi Jokowi maupun Ahok. Dan ketika Ahok berperan dalam keberhasilan Jokowi pada periode kedua pemerintahannya, maka itu akan menjadi modal besar bagi Ahok untuk maju pada Pilpres 2024, dimana kita berharap pada masa itu politik identitas sudah semakin terkikis di tengah-tengah bangsa kita. Bravo Pakdhe Jokowi.



    5. Penulis :  Jamson Siallagan    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cara Jokowi Mengatasi JK Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top