728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 22 Mei 2017

    Cadas! Di Depan Trump, Jokowi Kritik Cara Kekerasan Atasi Terorisme

    Presiden Joko Widodo menghadiri Arab Islamic America Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi Arab Islam Amerika yang dihelat di Arab Saudi, Minggu (21/5/2017). Di forum ini Jokowi akan menyampaikan pesan dan berbagi pengalaman kepada dunia Internasional upaya Indonesia dalam melawan radikalisme dan terorisme. Dalam forum ini hadir tidak kurang dari 39 Kepala Negara/Pemerintahan. KTT ini sendiri diikuti oleh 55 negara.

    Dalam kesempatan menyampaikan pesan dan berbagi pengalamannya, Presiden jokowi menyampaikan betapa pentingnya menyeimbangkan penggunaan pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power. Menurut Jokowi hal ini sangat penting karena penggunaan hard-power berlebihan hanya akan kembali menghasilkan kekerasan. Untuk itu, Jokowi berbagi bagaimana cara Indonesia melakukan program deradikalisasi untuk menangkal gerakan radikalisme dan terorisme.

        “Pemikiran yang keliru hanya dapat diubah dengan cara berpikir yang benar,” ujar Jokowi

        “Pesan-pesan damailah yang harus diperbanyak bukan pesan-pesan kekerasan. Setiap kekerasan akan melahirkan kekerasan baru,” tambah mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

    Pernyataan Jokowi ini menjadi sangat penting karena Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sering sekali menyampaikan pesan-pesan dan tindakan-tindakan kekerasan dalam mengatasi radikalisme dan terorisme. Bahkan Trump pernah melakukan pelarangan masuknya penduduk dari beberapa negara muslim ke Amerika Serikat. Pelarangan yang mendapatkan banyak protes dari warga AS sendiri.

    Bukan hanya itu, Trump juga pernah melakukan serangan rudal yang dilacarkan Amerika Serikat (AS) ke Suriah pada Kamis malam (6/4/2017) waktu setempat. Serangan AS ini tentu saja mendapatkan komentar beragam dari beberapa negara. Indonesia adalah salah satu negara yang menentang serangan AS tersebut.

    Meski tidak setuju dengan serangan kimia yang dilakukan pemerintahan Suriah, Indonesia menentang serangan rudal AS yang terlalu responsif dan tanpa persetujuan Dewan Keamanan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Apalagi Serangan itu tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional dalam menyelesaikan konflik secara damai, sebagaimana diatur dalam piagam PBB.

        “Posisi Indonesia sangat mengutuk penggunaan senjata kimia yang memakan banyak korban. Pada saat yang sama, Indonesia prihatin serangan unilateral dari pihak manapun,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arrmanatha Nasir, di Kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).

    Keberanian Indonesia menentang tindakan AS tersebut kembali dibuktikan Jokowi dengan melakukan kritik langsung di depan Trump terkait penggunaan kekerasan yang dilakukan untuk mengatasi radikalisme dan terorisme. Bahkan Jokowi tidak sungkan berbicara mengenai hal tersebut di depan Raja Salman, yang mengundangnya untuk ikut KTT tersebut, yang juga mendukung tindakan AS tersebut.

    Jokowi meyakini betul apa yang disampaikannya terkait penggunaan kekerasan yang hanya akan menghasilkan lingkaran setan tanpa henti. Kekerasan hanya akan terus melahirkan kekerasan dan begitu berulang tanpa henti. Hanya kebaikan dan kelembutan yang mampu menghilangkan kekerasan dan lingkaran setan tersebut. Itulah yang membuat Jokowi dengan beraninya berbicara di hadapan Trump yang lebih suka mengedepankan cara-cara kekerasan.

    Pernyataan jokowi ini mengingatkan saya sebuah film favorit saya, yaitu film Naruto. Entah memang seperti sudah takdirnya atau hanya kebetulan saja, cara berpikir Jokowi ini mirip dengan cara berpikir Naruto. Naruto adalah orang yang menentang cara-cara kekerasan dan balas dendam untuk menyelesaikan konflik dan perang. Dia menekankan pentingnya saling memaafkan dan saling mengasihi satu dan yang lainnya.

    kekerasan dan balas dendam hanya akan menghasilkan kekerasan dan balas dendam baru yang tidak pernah usai. Cara Naruto ini akhirnya berhasil dan dunia shinobi menjadi damai kembali. Menariknya, Jokowi dan Naruto ini sama-sama kepala pemerintahan ketujuh di negara mereka masing-masing.

    Saya sendiri meyakini bahwa cara-cara kekerasan dan pesan-pesan kekerasan sudah saatnya dihentikan. Pesan-pesan perdamaian dan solidaritas harus dilakukan demi menghentikan lingkaran setan yang terus terjadi. Itulah mengapa ketika orang mengumbar kebencian dan amarah, kita harus hadir memberikan kesejukan dan maaf. Meski sering sekali hal itu tetap saja membuat mereka kepanasan.

    Itulah yang terjadi saat aksi solidaritas lilin untuk Ahok yang damai dan tanpa pesan kebencian dan kekerasan pada akhirnya menjadi sebuah pesan damai berantai sampai ke negara-negara lain. Kita yang terus diam dan bungkam oleh kaum pengumbar kebencian dan kekerasan bangkit dan menyuarakan pesan-pesan perdamaian dan solidaritas. Suatu perubahan yang harus terus disuarakan.

    Saya yakin kita semua punya mimpi bagaimana bisa hidup tentram dan nyaman di muka bumi ini. Tidak ada kekerasan, kejahatan, ketidakadilan, dan kebencian. Suatu kehidupan yang hanya bisa kita wujudkan dengan cintak kasih,, perdamaian, dan saling mengampuni dan menerima satu dengan yang lain. Hal yang tidak akan mungkin dipahami dan diwujudkan oleh mereka yang dikuasai hawa nafsu dunia dan yang sudah bersiap-siap ke surga daripada memperbaiki kehidupan dunia.

    Salam Kedamaian.


    Penulis :   Palti Hutabarat    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cadas! Di Depan Trump, Jokowi Kritik Cara Kekerasan Atasi Terorisme Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top