728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 01 Mei 2017

    Buruh dan Gerindra Melawan Karangan Bunga

    Melihat kelakuan buruh membakar karangan bunga di Balaikota, awalnya saya pikir itu hanya kebetulan belaka. Saya memilih setuju dengan salah satu penulis Seword yang menyebutkan bahwa di sana memang sedang adanya karangan bunga, ya itulah yang dibakar. Kalau ada yang lain, mungkin mereka bakar yang lain juga.

    Tapi setelah saya teliti lebih jauh, ternyata itu semua bukan sebuah kebetulan. Buruh itu memang mendemo karangan bunga tersebut. dan salah satu oratornya mengultimatum, “Kalau 3 hari balai kota belum bersih dari bunga-bunganya, kita akan datang untuk bersihkan. Siap untuk bersihkan balai kota” ujar salah seorang buruh dari atas mobil komandonya.

    Sekilas kalimatnya mirip Rizieq ya? Siap bela agama?! Siap revolusi?! Hahaha mungkin satu guru satu anu.

    Buruh dan Gerindra

    Saya coba berpikir apa salahnya karangan bunga tersebut? sampai-sampai buruh mau membersihkannya dari balai kota. Coba menemukan alasan logis untuk membenarkan orasi buruh tersebut. Namun semakin saya berpikir, yang muncul malah alasan-alasan politik.

    Kita tau bahwa ada kelompok buruh yang merupakan pendukung fanatik Prabowo pada Pilpres 2014. Setelah junjungannya keok, saya pikir hubungan buruh dengan capres kalah Prabowo juga sudah selesai. Tapi rupanya masih berlangsung sampai sekarang. Dan ini berarti segala tindakan negatif kelompok buruh memang sebenarnya ada kaitannya dengan barisan sakit hati Gerindra.

    Mari kita simak beberapa fakta tak terbantahkan berikut ini:

    Pimpinan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal diperiksa di Subdirektorat Kemanan Negara Direktorat Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya, Selasa, 13 Desember 2016. Said  diperiksa sebagai saksi atas dugaan rencana makar yang dilakukan sejumlah aktivis pada 2 Desember 2016.

    Kasus makar sendiri merupakan agenda tambahan dari kelompok pendemo nomer togel di bawah pimpinan Habib Rizieq yang menolak Ahok. Mereka sudah terang-terangan berteriak siap revolusi? Siap kepung istana? dan seterusnya. Setidak masuk akal bagaimanapun KSPI dengan kasus makar, itu sama tidak masuk akalnya buruh yang membakar karangan bunga. Semuanya memang saling berkaitan, satu kesatuan, sekali bocor tetap bocor.



    Hubungannya dengan bunga?

    Mungkin sebagian pembaca sudah bisa menebak arah artikel ini, tapi tetap ingin saya perjelas saja, seperti luka yang disiram air garam kalau istilahnya Megi Z.

    Bunga-bunga yang ada di Balai Kota adalah bunga tanda terima kasih dan apresiasi terhadap kinerja Ahok Djarot dalam membangun Jakarta. Ribuan karangan bunga berhasil menjadi pemanis ibu kota selama beberapa hari terakhir. Jumlahnya pun sangat fantastis, ribuan. Dan masih terus berdatangan.

    Bunga-bunga yang datang dengan damai dan ikhlas, rupanya terasa menyakitkan bagi kubu Gerindra. Sebab kan mereka yang menang, tapi yang dapat bunga malah Ahok Djarot. Ini sama seperti kalian pacaran lama, tapi malah dinikahin teman sendiri. Nyueseeek anjir. Bacanya pakai “u” ya.

    Coba baca komentar Fadli Zon “Saya rasa masyarakat sudah tahulah. Itu bisa bukan efek positif yang didapat, tapi efek negatif, apalagi kalau ketahuan sumbernya itu-itu juga. Jadi pencitraan murahan.”

    Atau kalau yang mau lebih greget adalah komentar Habiburokhman yang juga sama-sama merupakan politikus Gerindra “mau tau jumlah orang bego di Jakarta? Check aja karangan di Balaikota.”



    Jadi menurut analisis saya, memang kubu Gerindra yang merupakan pendukung Anies Sandi ini tidak tenang hidupnya gara-gara karangan bunga untuk Ahok. Segala hoax yang coba dimainkan, bahwa itu pesanan sendiri, sampai coba membenturkan Wapres Jusuf Kalla dengan Ahok lewat meme hoax, rupanya tidak berhasil. Masyarakat tetap antusias mengirim bunga, dan bahkan menyebar di kota-kota lain, sekalipun Ahok hanyalah Gubernur Jakarta.

    Lalu puncaknya adalah hari ini, membakar karangan bunga dan akan membersihkannya dari Balai Kota, memanfaatkan hari buruh, memanfaatkan kelompok buruh. Apakah kita akan menganggap ini semua hanyalah kebetulan belaka, ketika kita semua tau sejak 2014 lalu kelompok buruh tersebut memang pendukung fanatik capres kalah Prabowo. Apakah kebetulan buruh tersebut pendukung Prabowo dan keluarga Gerindra, politisi Gerindra seperti Fali dan Habiburokhman yang kejang-kejang karena karangan bunga, lalu sekarang buruh membakar karangan bunga tersebut?

    Saya menantang siapapun yang membaca tulisan ini, untuk mendapatkan alasan yang lebih logis dari kesimpulan bahwa kelompok buruh membakar karangan bunga, karena mereka ikut sakit hati dengan Ahok, karena mereka bagian dari Gerindra dan Prabowo.

    Setelah menunggangi agama Islam, kini menunggangi buruh

    Kelompok sebelah pembenci Ahok ini memang luar biasa biadabnya. Kemarin mereka menunggangi agama Islam untuk menolak Ahok. Yang kemudian muncul dengan tagline “penista agama.” Lalu sekarang mereka menolak karangan bunga untuk Ahok dengan menunggangi buruh, berdemo atas nama buruh, namun tujuannya membakar karangan bunga.

    Bahwa memang ini adalah cara-cara biadab, namun secara politik, saya harus acungi jempol. Luar biasa. Terlepas siapapun yang mampu menjadi jembatan kepentingan dan berhasil mensolidkan Gerindra dan kelompok buruh sejak 2014, saya sudah salut dengan orang tersebut. Beginilah trik jitu politik propaganda yang berhasil membuat banyak negara di dunia jadi rusuh dan perang saudara untuk melancarkan agenda dari pihak-pihak yang kebelet berkuasa.

    Akhirnya, kepada seluruh rakyat Indonesia di manapun berada, inilah realitas politik di tana air kita. Ada sekelompok orang dan partai yang kerap menunggangi kelompok tertentu demi memuluskan nafsu-nafsu politiknya dengan cara tak terbantahkan, atau otoriter. Dan ini sangat biadab.

    Contoh saja kasus penistaan agama untuk Ahok, yang mendemo adalah ormas Islam, datang mengatasnamakan Islam dengan aksi Bela Islam. Di negeri ini, tidak ada satu orangpun yang bisa membantah kebenaran agama Islam, sebab ini negara yang mayoritas beragama Islam. Jadi kita tidak bisa menghalangi jika ada sekelompok orang ingin membela agama Islam, bahkan sekalipun kita tahu ada agenda politik di dalamnya.

    Begitu juga dengan kasus pembakaran karangan bunga untuk Ahok Djarot di hari buruh nasional. Tidak ada yang bisa menghalangi aksi buruh di hari buruh, bahkan meskipun kita jadi tau sebenarnya mereka hanya ingin membakar bunga karena alasan sakit hati dan sakit jiwa.

    Bagi saya, ini adalah contoh politik otoriter yang coba diterapkan secara terstruktur, sistematis dan massif, sehingga tidak ada satu orangpun yang mampu membantah atau menyalah-nyalahkan. Siapa yang mampu menyalahkan Islam? siapa yang bisa menyalahkan buruh? Tidak ada. Sebab kalau mereka disalahkan, maka kita akan melihat lebih banyak lagi orang bodoh yang turun ke jalan karena emosi sebab kelompoknya disalah-salahkan….. Begitulah kura-kura.


    Penulis : Alifurrahman  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Buruh dan Gerindra Melawan Karangan Bunga Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top