728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 19 Mei 2017

    BIN Melarang Pegawainya Memakai Celana Cingkrang dan Berjenggot, MUI Angkat Bicara

    Badan Intelijen Negara (BIN) mengeluarkan aturan yang menuai pro dan kontra. Pegawai di lingkungan kerja Badan Intelijen Negara (BIN) akan dilarang menggunakan celana cingkrang atau celana yang bawahnya di atas mata kaki. Selain larangan tersebut, BIN juga melarang aparaturnya untuk memelihara jenggot dan berambut gondrong.

    Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi BIN, Sundawan Salya mengatakan aturan tersebut berlaku di internal kerja BIN dan telah rutin dilakukan pengaturan serupa. Aturan  ini bertujuan untuk menjaga estetika dan etika dalam berpakaian.

    Selama ini kata Sundawan, pegawai di BIN mengenakan seragam berwarna putih dan hitam, sementara yang bertugas di lapangan bebas berpakaian sesuai kebutuhan pekerjaan.

    Kendati demikian Sundawan heran Surat Edaran bernomor SE-28/V/2017 tentang aturan tersebut bisa diketahui publik luas di media sosial. Surat itu bertanggal 15 Mei 2017 dan ditandatangani Sekretaris Utama BIN Zaelani.

    “Ini urusan internal bukan konsumsi publik,” kata dia.

    Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengaku belum menerima secara resmi surat BIN yang melarang pegawai memelihara jenggot dan celana cingkrang.

    Namun, Bobby tidak memungkiri memelihara jenggot dan pakai celana cingkrang dimaknai sebagai bagian ibadah serta hak asasi individu.

    “Instansi pemerintah boleh saja mengatur, agar jangan terjadi kubu-kubuan di internal. Misalkan untuk pegawai di kantor, dipilih yang tidak berjenggot dan celana cingkrang, tetapi tugas agen lapangan dibebaskan,” kata Bobby.

    Politikus Partai Golkar itu mengakui saat ini peraturan tersebut rentan dipolitisasi. Meskipun, tujuan surat edaran tersebut baik untuk penegakan disiplin internal.

    Sementara itu Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil mempertanyakan aturan BIN yang melarang pegawainya bercelana cingkrang dan memelihara jenggot.

    Menurutnya tidak ada kaitan antara penampilan dan cara berpakaian dengan isu radikalisme yang memang marak belakangan ini. Menurutnya, enggak ada kaitannya radikalisme orang-orang berjenggot dianggap radikal.

    Anggota DPR Komisi III ini menilai larangan yang diberikan oleh BIN hanya untuk kedisiplinan setiap pegawainya. Ia yakin hal tersebut sekadar mempengaruhi penampilan saja. Nasir Djamil menambahkan keluarnya imbauan dari BIN saat ini hanya sekadar momentum saja. Kebetulan sekarang bermunculan isu adanya radikalisme di dalam negeri.

    Sebetulnya BIN punya wewenang untuk membuat sebuah aturan. Hanya saja aturan larangan memakai celana cingkrang dan berjenggot terkesan menyindir beberapa kelompok ormas Islam. Tida bisa dipungkiri, maraknya isu radikalisme dan toleransi membuat masyarakat phobia dengan orang-orang yang bercelana cingkrang dan berjenggot. Pasalnya, rata-rata pelaku teror memiliki cirri-ciri tersebut meskipun banyak juga yang berjenggot dan bercelana cingkrang tapi moderat.

    Pihak-pihak yang mempertenyakan dan memprotes aturan ini saya yakin adalah pihak yang tersindir contohnya PKS. Pasalnya,PKS adalah partai yang identik dengan jenggot lebat dan celana cingkrang serta yang perempuan memakai jilbab lebar. Untuk partai-partai yang tidak iedentik dengan ciri tersebut seperti PPP dan PKB adem-adem saja.

    Menaggapi aturan BIN ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) termasuk kelompok yang kemungkinan tersindir juga oleh BIN. MUI  mempertanyakan aturan BIN tersebut. Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorum Niam Soleh larangan untuk memelihara jenggot tidak ada urgensinya.

    Asrorum pun mengimbau agar aturan yang akan diterapkan khususnya di BIN tidak bersifat diskriminatif. Pembuat aturan sepatutnya memiliki sensitivitas agar aturan yang dibuat tidak terkesan memojokkan kelompok tertentu baik secara etnis atau keagamaan.

    “Kalau larangan rambut panjang itu masih wajar. Tapi tak boleh ada larangan mengenakan jilbab. Jilbab itu kan bagian dari keyakinan agama individu dan konstitusi menjamin setiap individu menjalankan keyakinan agamanya masing-masing,” ujarnya.

    Saya pikir MUI tidak perlu memperkeruh suasana dengan melontarkanpernyataan-pernyataan yang menyudutkan B IN. Ada proses tabayyun dahulu dengan BIN agar persoalan aturan tersebut bisa ditemukan titik temunya.

    Dalam hal ini, BIN memang berhak mengeluarkan aturan apapun dan MUI tidak berhak untuk mengkonfrontasi. Selama ini, BIN juga tidak mempermasalahkan aturan yang ada di MUI. Bahwa menurut MUI aturan itu tidak ada urgensinya, maka protes MUI juga tidak ada urgensinya. Apalagi kemudian MUI menganalogikannya dengan  jilbab. Jilbab dalam konteks menutup aurat memang merupakan ajaran Islam meskipun masih muncul perbedaan pendapat. Akan tetapi, untuk jenggot dan celana cingkrang telah disepakati bahwa itu budaya, bukan kewajiban beragama.

    BIN juga tidak membuat aturan larangan jilbab, namun MUI membahasanya. Padahal, antara jilbab dengan jenggot dan celana cingkrang tidak bisa disamakan. Pada intinya, saya berharap BIN dan MUI bisa duduk bersama melakukan tabayun. Mlontarkan pernyataan-pernyataan menyudutkan hanya akan memperkeruh keadaan.


    Penulis :  Saefudin Achmad  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: BIN Melarang Pegawainya Memakai Celana Cingkrang dan Berjenggot, MUI Angkat Bicara Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top