728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 23 Mei 2017

    Bertahanlah Bu Vero Kami Bersamamu

    Seharusnya siang hari ini, Selasa, 23 Mei 2017, saya dan teman-teman seperjuangan berada di Pengadilan Tinggi Jakarta, Cempaka Putih. Kami turun melakukan aksi untuk menuntut keadilan agar Ahok diberikan tahanan kota.

    Namun dapat kabar bahwa Ahok dan keluarga besar memutuskan menerima garis tangan hidupnya. Menyelesaikan hukuman mendekam dalam tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok. Menerima keputusan hakim yang memvonisnya dua tahun penjara dengan ikhlas dan lapang dada demi NKRI, rakyat Indonesia.

    Saya memutuskan untuk pergi menyaksikan pers konpers keluarga Ahok. Saya ingin hadir melihat pers konpers Bu Vero. Tengah hari tadi, saya meluncur naik taxi on kine menuju Warung Daun Cikini tempat pers konpers Bu Vero.

    Kabarnya Bu Vero dan keluarga akan menyampaikan keputusan keluarga besar mencabut memori banding Pak Ahok yang sebelumnya diberitakan akan diajukan ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

    Sayangnya pers konpers dipindahkan ke Restauran Gado-Gado Boplo Menteng. Saya mengejar ke Menteng, menumpang kendaraan teman yang kebetulan jumpa di Warung Daun Cikini. Tiba di sana pers konpers sudah selesai.

    Di dalam restauran hanya terlihat ramai relawan dengan wajah sendu sambil berbisik-bisik. Saya melaporkan siaran langsung via FB tentang kondisi terkini di Restauran Gado-Gado Boplo meskipun Bu Vero dan keluarganya sudah meninggalkan lokasi. Hanya ada Pak Wayan pengacara Pak Ahok yang terlihat.

    Seusai siaran langsung, saya memesan segelas cendol dingin. Mencoba mendinginkan perasaan saya yang tidak rela menerima keputusan keluarga Ahok mencabut memori banding.

    Saat meneguk minuman cendol, layar TV di dinding tengah restauran sedang menyiarkan berita pers konpers Bu Vero. Di layar TV terlihat momen saat Bu Vero membacakan surat suaminya sedang menangis sesunggukan dengan air mata mengucur deras dari kedua pelupuk matanya. Surat yang ditulis Ahok pada 21 Mei 2017 di Mako Brimob itu ditulis untuk relawan dan pendukungnya.

    Di layar TV saya melihat air mata Bu Vero mengalir deras tak terbendung. Wajahnya menyiratkan air mata yang tertahan sejak lama. Derita batin seorang istri ditinggal suami yang dicintainya. Hidup suaminya dirampas kemerdekaannya dari sesuatu kejahatan yang tak pernah Ia niatkan.


    Mataku berkaca-kaca saat melihat Bu Vero menangis dengan suara parau. Suasana restauran tiba-tiba hening. Semua mata menyaksikan momen meyedihkan itu. Sebagian relawan nampak menyeka air mata yang tidak bisa ditahan.

    Hari-hari Bu Vero pasti dijalani dengan begitu berat. Tidak sama lagi seperti hari-hari sebelumnya. Separuh jiwanya melayang. Tidak ada lagi doa bersama di meja makan. Tidak ada lagi kesibukan menyiapkan baju, dasi dan sarapan pagi buat Pak Ahok, suami yang dicintainya.

    Yang ada hanya pertanyaan sendu dalam batinnya yang tercabik. “Duhai Ibu Pertiwi..Apa salah suamiku padamu? Ia tidak mencuri sepeserpun uang milikmu. Ia menjaga dengan perisai dadanya untuk mempertahankan uang milikmu agar digunakan untuk kesejahteraan anak-anak Ibu Pertiwi. Ia menghunus pedang buat mafia yang hendak mencuri uang milikmu. Ia mendedikasikan hidupnya sepenuh jiwa, utuh dan penuh untuk rakyat yang dicintainya. Di manakah engkau Ibu Pertiwi. Mengapa engkau begitu kejam kepada orang yang begitu mencintai tanah tumpah darahnya?”.

    Tak ada jawaban. Hening. Senyap. Sunyi. Senyunyi kelamnya malam saat cahaya purnama terhalang di balik pohon cemara. Pertanyaan engkau tak berjawab. Pertanyaan engkau tak seorangpun bisa menjawabnya. Semua hanya menggeleng. Semua hanya bisa menarik nafas. Menunduk malu dengan mulut terkatup rapat.

    Bu Vero yang baik, percayalah, terkadang sebuah peristiwa getir dan perih tidak memerlukan jawaban. Bukan karena kami tidak mau menjawabnya Bu Vero. Bukan karena kami tak mau menjawab pertanyaan perih mu itu. Bukan karena kami kecut hati lalu lari menghindar untuk memberi mu jawaban. Bukan. Bukan itu.

    Kami hanya mau katakan bahwa kantong air mata kami telah kering sejak Ahok, suamimu yang baik itu diputus penjara 2 tahun pada 9 Mei lalu. Kami seharian menangisi kekejaman bangsa ini kepada keluargamu. Kami meratapi negeri ini yang merampas suamimu dari tengah keluargamu. Maafkan kami Bu Vero yang tidak mampu memberimu jawaban atas kekejian bangsa ini kepadamu Bu Vero.

    Kami hanya ingin memeluk dan menangis bersamamu. Itu saja. Karena perihmu adalah perih kami juga. Getir luka batinmu adalah luka batin kami juga. Air matamu adalah air mata kami. Duka nelangsamu adalah nelangsa kami juga.

    Dalam doa dan pengharapan kami kepada Allah Yang Maha Adil dan Benar kami hanya bisa berseru dalam hening di malam sunyi, Bu Vero yang baik..bertahanlah bu Vero karena kami semua bersamamu.

    Semoga Tuhan mengampuni orang yang mengambil kebahagiaan hidupmu.

    Peluk erat hangat buat Pak Ahok dan anak-anakmu yang hebat itu.

    Salam perjuangan


    Penulis :  Birgaldo Sinaga.   Sumber : Seword .com

    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Bertahanlah Bu Vero Kami Bersamamu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top