728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 17 Mei 2017

    Begini Pembelaan Kapitra Untuk Rizieq Yang Semakin Ngawur!

    Beberapa penulis telah membahas dari berbagai sudut pandang tentang belum beraninya Rizieq pulang ke Indonesia. Pada intinya semua penulis sepakat bahwa Rizieq ternyata orang yang sangat takut dengan hukum.

    Dirinya semakin terlihat Jarkoni. Gembar-gembor bela Islam, pantang menyerah dan mundur, tak perlu takut mati karena jaminannya surga, namun sayangnya Rizieq hanya omdo (omong doang). Jangankan menghadapi maut, berhadapan dengan hukum saja sudah ketakutan hingga tak berani pulang ke Indonesia.

    Sayang sekali, Kapitra Ampera harus menggadaikan ilmunya demi membela kliennya. Bagaimanapun juga Kapitra memang sudah dibayar oleh Rizieq sehingga akan tutup mata dan tak peduli apa yang dilakukan oleh Rizieq. Tugasnya hanya membela Rizieq meskipun pembelaannya semakin ngawur. Berikut pembelaan Kapitra untuk Rizieq yang semakin ngawur.

    Kapitra Ampera menilai diprosesnya kasus chat WhatsApp sangat bermuatan politik. Menurut Kapitra, Rizieq juga sangat sakin kasus tersebut diproses lantaran Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kalah pada Pilkada DKI 2017.

    “Pemanggilan tersebut dilakukan setelah Ahok kalah di pilkada, dan itu pun hanya sehari sebelum pemanggilan. Dan Habieb (Rizieq) waktu itu sedang berjadwal umrah dan ziarah,” kata Kapitra, dalam konferensi pers di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (16/5/2017).

    Selanjutnya, kata Kapitra, panggilan dilayangkan polisi saat Rizieq berada di Malaysia untuk menyelesaikan studi doktoralnya.

    Menurut Kapitra, surat panggilan itu dikirim berdekatan dengan waktu dijatuhkannya vonis dua tahun penjara terhadap Ahok terkait kasus penodaan agama.

    “Ini ucapan beliau (Rizieq), surat pemanggilan dikirim tanpa ada yang menerima, karena beliau sedang di Malaysia untuk urusan studi S3, dikirim beberapa jam setelah Ahok dipenjara, jadi dua surat panggilan bersifat amat politis yang terkait kekalahan Ahok di pilkada,” kata Kapitra.

    Kapitra menyebut alasan dia menilai kasus chat WhatsApp diduga antara Rizieq dan Firza Husein sangat bermuatan politik, di antaranya karena Rizieq memimpin aksi menuntut penuntasan kasus penodaan agama dan ikut menjadi saksi dalam persidangan kasus tersebut.

    Lucu juga membaca pembelaan Kapitra, lumayan bisa membuat saya tertawa. Namun sayangnya, Kapitra seperti tidak menydari bahwa pembelaannya justru semakin memperjelas bahwa Rizieq memang sedang ketakutan. Alasan umroh dan s3 hanya pemanis sandiwaranya.

    Setahu saya, Kapitra sudah sejak lama menjadi kuasa hukum Rizieq. Saya yakin Kapitra tidak lupa kapan muncul isu perselingkuhan Rizieq dan Firza. Kasus ini muncul sebelum pencoblosan. Bahwa mengapa baru diproses sekarang, itu karena Rizieq sendiri yang tidak kooperatif dan mencoba menghindar dari kasus ini. Selain itu, proses hukum dari sebuah kasus memang butuh waktu. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Kebetulan, tidak ada yang mendesak Polisi agar secepatnya memproses kasus perselingkuhan Rizieq.

    Berbeda dengan kasus Ahok dimana Polisi dipaksa oleh FPI untuk segera memproses hukum Ahok. Bahkan mereka mengancam akan membawa massa yang lebih banyak untu menuntut agar Ahok segera diproses. Padahal, sebagai calon gubernur, Ahok berhak untuk menolak proses hukum sebelum selesainya Pilkada.

    Perkataan Kapitra bahwa diangkatnya kasus ini karena politik juga ngawur. Apa kepentingan politik jika kasus Rizieq diankat? Rizieq bukan pejabat pemerintah. Tidak ada urgensi dalam hal politik untuk memproses kasus Rizieq. Rizieq bukan siapa-siapa. Rizieq hanya orang yang numpang tenar dengan kepopuleran Ahok. Dipenjara atau tidak tidak ada pengaruhnya dalam dunia politik.

    Namun pernyataan Kapitra seperti sedang menjelaskan bahwa isu-isu seperti itu kerap bermuatan politik. Secara tidak langsung, Kapitra seperti sedang membenarkan bahwa isu penistaan agama sangat bermuatan politik. Dipenjaranya Ahok berdampak besar terhadap dunia politik di Indonesia.

    Lawan-lawan politik Ahok semakin sumringah. DPRD yang selama ini tidak bisa bermain-main dengan anggaran, dengan dipenjaranya Ahok kembali akan menemukan kebebasan. PNS yang selama ini kinerjanya rendah juga ikut tersenyum. Tidak ada lagi ancaman pemecatan akibat kinerja yang rendah. Beberapa pihak yang dirugikan dengan keberadaan Ahok di kursi gubernur DKI akan menyambut bahagia dengan dipenjaranya Ahok. Jangan heran jika setelah Ahok dipenjara beredar foto syukuran atas dipenjaranya Ahok.

    Saya yakin cepat atau lambat, akan terungkap mana yang benar dan mana yang salah. Filosofi jawa “becik ketitik ala ketara” akan segera menemukan pembuktiannya.


    Penulis  : Saefudin Achmad   Sumber :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Begini Pembelaan Kapitra Untuk Rizieq Yang Semakin Ngawur! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top