728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 17 Mei 2017

    Bedanya Karakter Ahok dengan Rizieq

    Perkembangan kasus Rizieq Shihab semakin menarik. Bukan hanya dari sisi pandang hukum, melainkan juga dari sisi psikologi sosial. Dan untuk pembelajaran bernegara, di hadapan kita terpajang dua potret sosok yang benar-benar berbeda bak bumi dan langit. Dalam arti yang satu ‘membumi’, yang lain ‘melangit’. Yang satu Ahok, yang lain Riziek Shihab imam besar FPI yang menamakan diri ‘habib’ (meskipun menurut penelusuran, sejatinya bukan Habib; sama seperti habib-habib lain di sekelilingnya).

    Karakter mereka benar-benar bertolak belakang, sebagaimana jelas dalam sikap mereka menghadapi kasus hukum masing-masing. Karakter ‘asli’ seseorang diuji dan dikenali pada saat dia menghadapi kondisi paling krusial dan menantang eksistensinya. Entah pada saat dia tercampakkan kedalam tsunami permasalahan pelik, atau sebaliknya ketika sedang memegang kekuasaan di tangannya.

    Baik Ahok maupun Rizieq menampakkan keaslian mereka secara nyaris sempurna di hadapan kita. Dengan sangat gamblang kita bisa membedakan Kebenaran dari kebathilan, seperti diingatkan Gus Dur. Itulah salah satu pembelajaran lain dari Pilkada DKI dan kasus hukum Ahok yang nyaris berjalan beriringan dengan kasus hukum Rizieq Shihab. Sikap dan cara mereka menghadapi kasus itulah yang mencerminkan perbedaan jatidiri mereka secara tajam.

    Sebelum membahas topik ini lebih jauh, mari kita bedakan dulu Karakter dengan Kepribadian melalui rekonstruksi debat Jokowi dengan Prabowo di Pilpres 2014.

    Bedanya Jokowi dengan Prabowo

    Untuk memudahkan pembahasan topik ini, kita akan membuat analogi dengan ‘sepasang’ sosok lain yang memang nampak serupa meski tak sama: Jokowi dan Prabowo. Penampilan mereka dipanggung debat Pilpres 2014 meenjelaskan perbedaan karakter dengan kepribadian.

    Perbedaan karakter dengan kepribadian diringkas oleh penulis best-seller Amerika, H.Jackson Brown, Jr: “Character is who we are and what we do when nobody is watching. Personality is who we are and what we do when everybody is watching”. Karakter adalah siapa kita dan apa yang kita lakukan di saat tidak diperhatikan orang. Kepribadian adalah siapa kita dan apa yang kita lakukan di saat setiap orang memerhatikan kita.

    Untuk memahami kutipan ini, mari kita ingat kembali debat Calon Presiden 15 Juni 2014 antara Jokowi dengan Prabowo. Jadi konteksnya adalah kampanye Pilpres 2014. Masih ingat apa yang terjadi di belakang panggung dan diatas panggung debat pada waktu itu? Kalau sudah lupa, mari saya ingatkan (sayangnya, saya tidak punya cuplikan videonya).

    Ketika itu Capres Jokowi yang sudah hadir lebih dulu di belakang panggung debat, menghampiri lawan-debatnya, Capres Prabowo, yang muncul belakangan. Jokowi menjabat tangannya sembari merangkul pundak dan menyodorkan kepala untuk cipika-cipiki. Sayang sekali, Prabowo nampak melengos, menghindari pipi Jokowi dan berjalan terus menyalami orang lain. Meski nampak kaget atas penolakan sang lawan, Jokowi tetap mengatupkan tangan sebagai tanda hormat yang tulus dengan senyum khasnya.

    Sebaliknya, perhatikanlah apa yang terjadi ketika mereka berdua sudah berada diatas panggung debat dibawah sorotan kamera TV. Prabowo dengan sigap dan penuh hormat meyongsong salam-rangkul Jokowi plus cipika-cipiki yang hangat. What a perfect show! Jelaslah, kita tidak boleh mudah terkecoh dengan sandiwara politik sosok elit munafik di panggung depan politik!

    Kejadian itu jelas menampakkan perbedaan karakter dan kepribadian kedua Capres kala itu. Karakter adalah siapa mereka dan apa yang mereka lakukan ketika (menganggap) belum disorot kamera TV. Yakni ketika masih berada di belakang panggung debat, atau di panggung belakang politik. Kepribadian adalah siapa mereka dan apa yang mereka lakukan ketika (dan untuk) disorot kamera TV dan dilihat semua orang. Sudah berada diatas panggung debat, atau panggung depan politik.

    Ketika berada di belakang panggung debat, Capres Prabowo dan Jokowi menampilkan karakter asli mereka. Uniknya, Jokowi menampilkan sikap dan perilaku yang satu dan sama di belakang maupun diatas panggung. Jujur dan polos apa adanya, tidak ada kepura-puraan dan kepalsuan. Karakter dan kepribadiannya sama dan satu, utuh adanya.

    Sebaliknya Prabowo menampakkan sikap dan perilaku yang kontradiktif. Karakter atau watak asli/bawaannya terbaca dibelakang panggung yang dianggap luput dari sorotan kamera TV. Sementara kepribadian hasil polesan para konsultan politik ditampilkan diatas panggung untuk konsumsi publik demi kepentingan pencitraan, guna menarik simpati pemilih.

    Bedanya Karakter Ahok dengan Rizieq

    Sebenarnya  kasus hukum Ahok tidak bisa disejajarkan dengan kasus hukum Rizieq. Sebab yang satu jelas bukan kasus yang direkayasa jadi kasus oleh/demi kepentingan politik Pilkada. Yang lain itu memang kasus riel, yang kemudian mau dikesankan sebagai kasus rekayasa [emangnya penegak hukum dan KITA bisa dikibuli dengan cara murahan?].

    Tetapi kedua kasus hukum itu sebenarnya punya satu nama: penistaan agama! Yang satu dilabeli dan dipaksaan dengan nama itu; yang lain memang layak dan pantas disebut penistaan agama yang sebenarnya. Dan itu hanya salah satu dari 16 kasus Rizieq, seperti kata Kapitra Ampera:

        Kuasa hukum Tim Advokasi GNPF Kapitra Ampera, dalam kapasitas sebagai pengacara HR mengatakan kliennya akan kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan semua kasus hukum yang dihadapinya. Kapitra mengatakan saat ini ada 16 kasus yang menyeret nama Habib Rizieq. Dilaporkan di Bandung, Jakarta hingga Kalimantan….
        “Dia bilang ‘Ane (saya) akan datangi satu per satu, ane akan jalani apapun risikonya’” kata Kapitra menirukan Rizieq. (TribunNews.com Selasa 16 Mei 2017)

    Dari rangkaian kasus-kasus Rizieq menjadi jelas bahwa dia tidak hanya menista agamanya sendiri dalam kasus baladacintarizieq, melainkan juga menista Pancasila, Proklamator Kemerdekaan RI, dan Pejabat (Kapolda) bahkan rakyat biasa (satpam). Luar biasa bukan?

    Selanjutnya, mari kita telusuri beberapa perbedaan karakter Ahok dengan Rizieq. Beberapa saja, karena yang lain sudah bisa ‘dibaca’ sendiri oleh para pembaca budiman di berbagai kasus.

    Perbedaan pertama. Sama seperti Jokowi, Ahok adalah sosok dengan integritas tinggi. Apa yang diucapkan, satu dan sama dengan yang dilakukan. Jujur, terus terang, apa adanya, tulus, tidak munafik. Singkatnya: satunya kata dengan perbuatan. Kalau dia mengajak warganya patuh hukum, dia memberi teladan patuh hukum,  dan tetap menghormati putusan hukum, meski hukum itu sedang tidak berpihak padanya. Bahkan belum dipanggil penegak hukum, dia sudah datang sendiri minta diperiksa. Tidak pernah satu kalipun mangkir dari pemeriksaan, penyidikan dan persidangan. Dalam bahasa penegak hukum: sangat koperatif!

    Sebaliknya , Rizieq berpidato berbusa-busa tentang penegakan hukum yang adil, perlakuan hukum yang sama, kepatuhan hukum dlst, tetapi dia sendiri berperilaku sebaliknya. Membangkang terhadap hukum, mangkir dari panggilan polisi sampai terpaksa di-DPO-kan. Selalu memosisikan diri dan FPI-nya sebagai polisi moral, penjaga akhlak yang main hakim sendiri dengan turun langsung merazia miras, rumah bordil, night club dll, tetapi sendiri (diduga) bertindak asusila, berbuat amoral dengan FH alias Fitsa Hots. Mengangkat diri sebagai habib, turunan Nabi, bahkan mengemban jabatan sakral sebagai ulama dan imam besar FPI, tetapi perilakunya justru menistakan Ulama Sejati.

    Perbedaan kedua. Ahok, sekali lagi sama seperti Jokowi, melihat kedudukannya selaku Gubernur  sebagai panggilan bagi pelayanan, bukan sebagai jabatan apalagi kesempatan memerkaya diri. Selalu menomorsatukan kepentingan rakyat, khususnya rakyat kecil, mendengarkan keluhan dan permasalahan mereka lalu memberi solusi just in time. Semangat dan motivasi untuk melayani (Serving), digerakkan dari dalam oleh cinta dan kasih sayang (Loving) serta kepeduliannya yang ikhlas (Caring) kepada rakyat, khususnya yang kecil-lemah-menderita.

    Dan tindak pelayanan, kepedulian dan cinta hanya bisa dilakoni oleh pribadi-pribadi yang rendah hati, yang tidak menonjol-nonjolkan diri, tidak meninggi-ninggikan hati dan tidak membesar-besarkan perannya.  Ahok bahkan sangat menghindari kultus individu terhadap dirinya. Selalu minta para pendjkungnya untuk berhenti demo, kembali ke rumah, dan move on demi keluarga dan perjuangan bersama bagi tegaknya Pancasila, Kebhinekaan, UUD 1945, NKRI.

    Sebaliknya, Rizieq selalu berusaha MPh (menarik perhatian) kepada dirinya dalam setiap penampilan. Perhatikanlah setiap penampilan Rizieq. Pernahkan Anda melihat Rizieq tambil sendiri, berjalan sendiri? Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Dia akan selalu didampingi segerombolan pengikut dan penyembah setia, berjalan di depan dengan tongkat di tangan kanan bak seorang Nabi beneran, dengan mimik yang mencerminkan arogansi dan over confidence. Sangat menikmati kultus individu terhadap dirinya.  Dalam kacamata piskologi politik, dia memenuhi ciri-ciri pemimpin narsistik.

    Dengan kemampuan retorika yang hebat seperti kamerad-nya Anies Baswedan, dia bisa memukau massa audiens-nya, dan dia sangat menikmati peran itu. Dengan itulah dia mengobarkan kebencian umatnya pada sosok-sosok yang tidak memberikan keuntungan material dan menghalangi ambisi politiknya. Ahok menjadi yang pertama, tetapi sebenarnya Jokowilah yang utama dalam bidikannya.

    Di tengah para pengawal dan pengikut setianya, dia begitu berani memaki dan merendahkan setiap orang yang tidak disukainya, tidak peduli pangkat dan jabatan orang itu. Tetapi kini, saat sendirian bersama isteri dan sekprinya Muksin di luar sana, nyalinya menciut. Takut masuk penjara sendirian, tanpa pengawal dan penjilat setianya. Maka dia mulai bicara plin-plan, pasti bikin repot kuasa hukum dan pengurus FPI-nya yang setiap kali ditanyai wartawan. Watak kerdil, pengecut dan plin-plan seperti itu sangat kontradiktif dengan predikat “imam besar”.

    Rencana besarnya yang sebenarnya sudah matang untuk menjadikan FPI organisasi politik resmi untuk bertarung di Pemilu dan Pilpres 2019 yang akan mengusungnya jadi calon presiden, nampaknya mulai kandas di tengah jalan. Dan penyebabnya sungguh muskil: tidak sanggup mengendalikan ‘burung puyuh’ miliknya. Itulah ironi seorang Rizieq: retorikanya yang ‘cetar membahana’ (kata Syahrini) mampu mengendalikan dan menggerakkan massa [yang katanya]7 juta orang, tapi tak sanggup mengendalikan seekor ‘burung puyuh’. Jatuh terjerembab di bawah godaan “3 ta”: harta, tahta, wanita.

    Apa Pembelajarannya untuk KITA?

    Sebenarnya bisa diteruskan sampai perbedaan ketiga, keempat dst dst. Tetapi lebih baik kita teruskan masing-masing atau diskusikan dengan teman-teman. Yang penting dilandasi niat baik untuk pembelajaran dan penyadaran politik. Agar teman-teman kita tidak menjadi apolitis, alergi politik apalagi phobia politik.  Ingat sekali lagi: yang kita benci adalah cara-caranya yang tidak beradab, intoleran dan amoral, bukan orangnya!

    Saya akan melengkapi tulisan ini dengan topik yang lebih menantang dalam tulisan berikutnya: “Mengenali Pemimpin Narsistik Melalui Sosok Rizieq Shihab”. Maksud pembandingan dua sosok yang anti-thesis dalam tulisan ini adalah untuk membantu kita mengenali kualitas mental dan  moral para (calon) pemimpin kita ke depan.

    Yang lebih penting sekarang, mari kita menarik hikmah dan pembelajaran, sebagai bagian dari dukungan kita pada seruan Presiden Jokowi kemarin seusai bertemu para pemimpin agama.

    Semua kejadian sekitar Ahok belakangan ini telah menggugah tiga kesadaran bernegara dari the silent majority (baca: the real majority) secara bersamaan: Sense of crisis, Sense of nationalism dan Sense of unity.

    Sense of crisis membuka mata batin kita bahwa NKRI yang kita cintai sedang berada dalam krisis karena ancaman kelompok-kelompok intoleran yang  radikal-fundamentalis. Sense of nationalism membangkitkan kembali rasa kebangsaan, cinta tanah-air dan kesiapsediaan untuk membelanya dengan segenap jiwa-raga. Sense of unity meyakinkan kita bahwa perjuangan kita hanya bisa berhasil jika kita bersatu-padu, merapatkan barisan sebagai Nasionalis sejati.

    Sekaligus menyadarkan kita bahwa “mereka” yang sedang berusaha membelokkan bahtera NKRI, adalah juga saudara-saudara sebangsa-setanah air. Harus kita rangkul kembali ke pelukan Ibu Pertiwi, berhenti menjadi anak-anak durhaka yang mengkhianati Ibu sendiri.

    Dan kita bersyukur, semua kesadaran itu dibangkitkan oleh satu sosok yang telah memberikan diri dibaringkan diatas mezbah pengorbanan: Ahok.

    Salam Seword.


    Penulis :  Filo Rustandi      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Bedanya Karakter Ahok dengan Rizieq Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top